ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 23. Suatu Saat Akan Gugur


__ADS_3

Nara menarik tangan Nayeon, setelah membungkuk dengan senyum menyeringai. Jo Jian-Man yang melihat itu agaknya mulai heran pada sosok Nara. Tatapan matanya, ada yang lain yang dia sendiri tidak tahu itu apa. Nara ini seperti memiliki niat tertentu tapi memang sulit untuk dibaca.


"Kau tahu dia bukan?" tanya Nara.


Nayeon mengangguk. "Dulu dia adalah wali kelas yang ditempati Lim Nara! Dan sekarang, dia adalah wali kelasku," ucap Nayeon yang semakin lirih di ujung kalimatnya


Nara tersenyum, dia mengerti kenapa Nayeon bersikap seperti ini. Bukan karena apa, tapi Nara merasa jika Jo Jian-Man ini sedikit gila. Jika padanya saja dia berani melakukan hal itu, tidak menutup kemungkinan jika pada siswi lain pun sama.


"Aku akan mengantar mu sampai sini!" kata Nara di depan kelas Nayeon. "Tidak usah takut, aku sudah memberikan nomor ponsel ku, jika ada sesuatu, langsung hubungi aku! Mereka semua sudah tahu siapa orang tuaku. Tidak akan ada yang berani merundungmu lagi."


Nayeon mengangguk. Dia sebenarnya bisa saja meminta cuti untuk pulang. Akan tetapi, bagi siswi yang menerima beasiswa sepertinya, ketinggalan satu jam pelajaran saja itu telah cukup merugikan. Dia masih harus bertahan, memperbaiki nilai agar lulus tes masuk universitas terbaik di kotanya. Nayeon harus bisa bangkit, meski keluarganya bukan keluarga kayak raya, mungkin dia sendiri bisa mengubah takdir hidupnya.


"Jadi bagaimana? Apa kita lanjutkan misi kita?" tanya Bora di samping Nara.


"Apa yang harus dihentikan, Bora. Kau lihat, pekerjaan mu sudah sangat baik!" ujar Nara melihat sosok Minho dari kaca jendela di kelasnya. Sebelah mata pria itu diperban dan tentu saja itu karena Bora.


Hantu itu ikut menatap ke arah tatapan Nara. Bibirnya menyunggingkan senyum, sama seperti apa yang sedang Nara lakukan sekarang, bedanya, Bora melakukan itu hanya ikut-ikutan, dan pada akhirnya dia sendiri tidak kuat, Bora menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, merasa bodoh karena ingin terlihat keren seperti Nara.


Atensi para murid itu langsung terfokus pada Nara yang baru saja masuk ke dalam kelas. Suara riuh tepuk tangan terdengar sangat berisik. Ada beberapa yang tidak melakukan itu dan tentunya itu adalah Sarang and the geng.


"Wuahhh ... Bora hebat ya, bisa gagalin upaya bunuh diri si Nayeon!"


Hantu Bora mengibaskan rambut juga berjalan layaknya model di atas catwalk. Nara hanya bisa memejamkan mata melihat tingkah narsis hantu tersebut.


"Aku deg-degan banget, takut kalau Bora malah ikut terluka," ucap seseorang. Nara pun tersenyum menanggapi hal itu.

__ADS_1


"Alahhhh, gitu doang di bangga-banggain. Orang lain juga becus kali!" sewotnya Sarang malah menunjukan jika dia memang sangat tidak menyukai Nara.


"Ekhemmmm!" Nara berdehem membuat Bora yang ingin mencolok mata Sarang mengurungkan niat dan kembali duduk di atas meja Nara.


"Jadi kalau semua orang bisa, kenapa enggak kamu aja yang nolong! Nanti aku yang buat video, biar viral dan semua orang tahu kalau Sarang adalah siswi paling heroik di Yeonwo School!" Nara tergelak geli.


Perempuan itu tentu saja semakin kesal karena merasa dipojokkan oleh Nara. Tepat saat Nara akan berjalan ke bangkunya, Sarang menyelonjorkan kaki bermaksud untuk membuat Nara jatuh, dan ....


Brukkk!


Bugh!


"Akh!" Sarang memekik, memegangi kepalanya yang terbentur meja di belakang. Pantatnya juga sangat sakit.


"Dia itu pantas mendapatkan itu, Nara! Apa kau tidak lihat kalau Sarang ingin mencelakai mu?"


"Aku tahu, aku tidak bodoh! Lindungi dirimu juga, Bora!"


Hantu itu mengangguk lesu, dia menarik bangku Sarang karena kesal dengan mulut dan tingkah tidak beradabnya. Manusia seperti Sarang ini terlalu menakutkan, jika tidak diberi pelajaran, dia pasti akan semakin menjadi-jadi. Sok paling cantik dan paling berkuasa.


....


Saat jam istirahat, Nara dikejutkan dengan kedatangan seorang siswi yang mengatakan jika dia harus ke ruang guru. Katanya sih, Ssaem Jian-Man memanggilnya. Namun, ada yang aneh dari gelagat siswi itu, dia bertingkah layaknya mesin scanner, memindai Nara dari atas sampai ke bawah.


"Ra, melonnya mau jatoh," bisik Bora. Nara mendelik. Hantu satu ini benar-benar.

__ADS_1


"Aku ke sana sekarang," jawab Nara pada siswi itu.


Siswi itu keluar dengan langkahnya yang seperti super model di bahu jalan.


"Ra ikh, masa roknya pendek banget. Apa dia enggak takut pantatnya keliatan," bisik Bora lagi.


"Enggak usah usil, Bora! Itu haknya dia. Dia juga pasti tahu konsekuensi apa yang akan dia dapatkan jika memakai pakaian seperti itu."


Bora kembali menunduk. Hantu itu tidak bisa berkata-kata dan hanya mengikuti Nara dari belakang. Setelah menelusuri lorong, berbelok ke kanan, barulah ia sampai di lorong yang menghubungkan tempat itu dengan pintu ruang guru.


Nara langsung masuk tanpa memperdulikan apa pun. Guru pun tidak ada yang terganggu karena memang hal ini telah biasa terjadi.


"Anda memanggil saya, Ssaem?" tanya Nara.


Jo Jian Man mendongak, dia tersenyum kemudian berdiri.


"Bantu saya cari buku di perpustakaan. Setelah jam istirahat, ada pelajaran saya kan di kelas mu!"


Nara pun mengangguk.


"Ikut saya!" kata Jian Man dengan senyum menyeringai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini satu bab dulu ya. Kalau ada waktu tak kasih lagi nanti malem. 🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2