ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 42. Kebodohan Sarang


__ADS_3

Nara berjalan mendekat ke arah Hye-In. Perempuan itu menatap Hye-in dengan mata memincing. Sarang yang ada di belakang Hye-In pun tersenyum, perempuan itu senang karena rencananya berjalan dengan sangat baik. Setelah mempermalukan Nara, Sarang akan memberikan semua bukti-bukti itu kepada Myung-Soo, setelah semuanya selesai, Nara pasti tidak akan memiliki apa pun lagi.


Senyum sinis tersungging di bibir Hye-In. Ia menaikan satu alisnya dan Nara pun berjalan melewati perempuan itu.


"Akhhh! Apa yang kau lakukan, Bora! Kau ingin membunuhku, hah!"


Sarang berteriak saat Nara menjambak dan menarik rambutnya ke belakang. Perempuan itu menegang tangan Nara mencoba untuk melepaskan cengkraman perempuan di depannya.


"Cih, kau pikir aku bodoh, Sarang! Aku tahu, hanya kau yang bisa melakukan kebodohan seperti ini! Dan kau ... kau ingin aku mempercayai kalau Hye-In melakukan ini semua? ... Bodoh!"


Nara semakin menarik kencang rambut Sarang. Tidak ada kata ampun untuk pecundang seperti Sarang, dia hanya bisa berbuat tapi tidak bisa memikirkan konsekuensi yang akan terjadi.


Hye-In tersenyum, mendekat ke arah Sarang lantas memperlihatkan ponselnya ke arah perempuan itu. "Aku merekam semuanya di sini, Sarang! Kau memintaku untuk mengakui perbuatan mu dan teman-teman mu bukan?"


Semua orang yang ada di kelas itu terperangah, mereka mulai berbisik, membicarakan siapa yang sebenarnya salah dalam masalah ini. Jika benar Nara berselingkuh, Nara mungkin memang pecundang. Tapi kalau Sarang memang menjebak Hye-In untuk melakukan hal yang tidak manusiawi, Sarang adalah iblis sesungguhnya.


"Kalian dengar! Perempuan ini yang membujuk ku untuk mengakui perbuatannya!"

__ADS_1


Hye-In menyalakan rekaman audio dimana saat itu Sarang memang membujuk Hye-In dengan embel-embel uang dan juga menjanjikan Hye-In keselamatan dari semua kejahatan yang telah dia lakukan.


Nara menghempaskan kepala Sarang, tangannya bergerak membuang rambut yang tersangkut pada jemarinya. Nara membuat ekspresi jijik, sementara Sarang dan teman-temannya tengah menggerutu kesal. Ini adalah bentuk penghinaan yang tidak bisa diabaikan. Nara telah membuat Sarang malu sampai semua orang mengetahuinya.


"Jangan mengusikku, Sarang!"


Senyum menyeringai di bibir perempuan itu membuat Sarang semakin meradang. Sementara Nara dan Hye-In, mereka berdua tertawa bersama. Jangan salahkan Hye-In yang berubah menjadi seperti ini karena sebenarnya, yang membuatnya tega adalah Sarang.


Seseorang di pojok ruangan tersenyum tipis. Pria itu menatap Nara dengan mata memuja, sebelum perempuan itu muncul, sekolah sangat tentram, tidak ada yang pernah mengganggu apa pun yang mereka lakukan. Tapi sekarang, perundungan itu tidak bisa mereka lakukan lagi. Sosok Nara selalu muncul sebagai pengganggu. Apalagi dia yang pandai mengatur siasat. Sarang si paling licik pun kalah cerdik dengan Nara.


"Brengsek!" gumam Sarang seraya meninju udara. Dia berbalik, keluar dari kelas karena terlalu malu. Sarang tidak bisa tetap diam di sana dan membiarkan orang lain menginjak-injak harga dirinya, Sarang sudah memiliki rencana lain dan kali ini dia sangat percaya kalau dia tidak akan kalah dari perempuan gila seperti Nara.


Nara menggelengkan kepalanya. Perempuan itu terserah lantas berucap, "Kita lakukan bersama-sama!"


Awalnya Nara dan Hye-In mengambil semua foto - foto yang menempel pada green board dan dinding di depan, berdua saja. Tapi, semakin lama, anak-anak itu mulai maju satu per satu dan membantu mereka untuk mengambil foto - foto tersebut.


"Maafkan kami, Bora. Kami tidak tahu kalau ini hanya akal bulus Sarang untuk mempermalukan mu," ucap seorang siswi seraya menyerahkan foto-foto itu kepada Nara.

__ADS_1


Nara pun hanya tersenyum, dia mengerti kenapa teman-temannya bersikap seperti itu. Jika dia yang ada pada posisi mereka, Nara pun akan melakukan hal yang sama.


"Padahal si Sarang dibotakin aja, Ra!" bisik Bora yang teramat sangat kesal dengan perempuan itu.


"Kalau dibotakin nanti kepalanya kek meet ball dong, Ra!" Nara pun ikut membatin. Arwah itu tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa membayangkan berapa lucunya Sarang kalau berkeliaran dengan rok di atas lutut tapi kepalanya botak.


....


Seperti janji mereka sebelumnya, Nara, Henry dan Bora akan menghadiri rapat OSIS di sekolah itu. Mereka bertiga berjalan beriringan meskipun yang orang lain lihat hanya ada dua orang.


Langkah mereka berhenti di sebuah ruangan yang tidak besar juga tidak kecil, ruangan itu adalah ruangan khusus para pengurus kesiswaan seperti mereka. Akan tetapi, hal aneh terjadi, raungan itu masih kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Nara dan Henry saling menatap, sepasang netra mereka terbelalak, Nara dan Henry langsung berbalik ke arah pintu dan ....


Blam!


Tepat setelah mereka sampai di depan pintu, pintu itu langsung tertutup. Terdengar pula suara seseorang mengunci mereka dari luar, lebih parahnya lagi, ada suara rantai besi yang membelenggu, Nara sangat yakin jika seseorang telah menjebak mereka dan membuat mereka terkurung di tepat itu.


"Hei! Buka pintunya!" teriak Henry dan Nara bersamaan. Mereka menggedor pintu tersebut tapi tidak ada yang mendengar. Hingga, setelah hampir 30 menit di sana, tiba-tiba plafon ruangan itu terbuka dan muncul asap dari benda yang dijatuhkan ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Henry, bukankah ini bau asap?"


"Hmmm. Tutup mulut dan hidung mu, mereka ingin membunuh kita dengan cara menyiksa kita lebih dulu."


__ADS_2