
"Tanyakan!" kata Nara dengan suara ketus.
Henry mengangguk, dia melihat kanan kiri sebelum bertanya kepada Nara. Wajahnya berubah menjadi sangat serius, juga tatapan matanya agak menusuk, menelisik seperti penyidik yang akan meringkus tersangka kejahatan.
"Apa yang kau lakukan, Nara? Kenapa kau menunjukan sikap seperti itu, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat dan menjadikan kekuatan yang kau miliki sebagai alat untuk menghancurkan mu?"
Mungkin sekitar 3 detik, Nara dan Bora diam, mereka saling menatap dengan kening mengerut. Ada apa dengan Henry. Kenapa pria ini tiba-tiba ingin ikut campur.
"Dengar, Henry. Terima kasih untuk perhatian yang kau berikan. Sebagai presiden sekolah, kau sudah melakukan tugasmu dengan baik! Tapi maaf, aku tidak akan mendengarkan apa yang kau katakan. Apa kau tidak melihat nya dengan baik? Bukan aku yang mencari masalah, tapi mereka!"
Nara agak meninggikan suaranya karena terlalu kesal dengan orang di depannya. Baik Myung-Soo ataupun Henry, mereka semua selalu berpikiran tidak baik tentangnya. Selalu memojokkan dia seolah dialah yang salah. Nata berbuat jahat bukan tanpa sebab, orang-orang itu pantas menerimanya.
Hembusan napas panjang keluar dari mulut pria di depan Nara. Melihat perempuan itu melengos, Henry malah semakin khawatir.
"Nara!" panggil Henry tiba-tiba.
Deg!
Perempuan itu mengehentikan langkahnya, dia ingin berbalik akan tetapi rasanya begitu sulit, kakinya seperti telah menyatu dengan lantai di sana. Lututnya bergetar setelah mendengar Henry memangilnya dengan nama Nara bukan dengan nama Bora.
"Aku tahu kalian bersekutu untuk membalaskan dendam!"
__ADS_1
Kali ini bukan hanya Nara yang terkejut, tapi Bora juga. Arwah itu berjalan mendekati Henry. Berdiri di depannya kemudian mengibaskan tangan.
"Astagaaaa!"
Bora hampir terjengkang saat Henry berkedip dan mata mereka bertemu tatap. Itu artinya, Henry bisa melihatnya?
"Astaga. Dia bisa melihatku, Nara!" tunjuk Bora pada Henry yang masih mematung menatap mereka bergiliran.
Henry berjalan mendekat ke arah Nara. Pria itu berdiri tepat di depan perempuan yang kini tengah menatapnya dengan wajah terkejut bukan main.
"Apa yang kau ketahui!" sarkas Nara.
Henry tersenyum miris. Pria itu menarik Nara untuk duduk di sisi aula, lebih tepatnya di sebuah kursi panjang yang ada di sana.
Satu minggu yang lalu, ketika Henry tengah berdiri tak jauh dari mading, pria itu tidak sengaja melihat sebuah pita yang bergelantungan. Dia pikir saat itu dia sedang berhalusinasi, akan tetapi, saat dilihat dengan seksama, ada sosok lain yang memegang ujung pita tersebut. Terlebih ketika menoleh ke arah Nara, perempuan itu seperti mengetahui adanya arwah yang dia lihat, interaksi keduanya tidak luput dari perhatian Henry saat itu.
Dia teramat sangat terkejut, mungkin jika tidak mengatur napas dengan baik, Henry akan pingsan di tempat. Teman-temannya meributkan Henry, menanyakan keadaannya karena khawatir pada kondisinya saat itu.
"Lantas, setelah itu kau mulai mengikutiku? Kenapa kau tahu nama asliku? Bahkan dulu, kau sama sekali tidak pernah berbalik untuk melihat ku."
Nara mengatakan itu dengan kedua tangan terkepal. Dia marah dan kesal, sangat. Henry adalah salah satu teman sekelasnya yang sangat populer, saat pertama kali masuk ke sekolah ini pun, hanya Henry yang wajahnya langsung Nara kenali. Hanya saja, saat mereka bertemu kembali, Nara benar-benar ingin melupakan pria itu.
__ADS_1
"Maafkan aku, saat itu aku terlalu cuek dan tidak perduli akan apa pun yang terjadi di sekolah ini!"
Nara berdecih, perempuan itu beranjak dari kursi panjang itu akan tetapi Henry kembali menarik pergelangan tangannya.
"Biarkan aku menembus kesalahan ku, Nara."
"Untuk apa?" kesal Nara. "Aku sudah mati, dan aku tidak tahu kapan aku akan menyusul ragaku. Tidak usah sok perduli. Aku tidak membutuhkan bantuan mu, Henry!"
Kalimat yang Nara ucapkan cukup untuk membungkam bibir Henry. Pria itu mendesah pasrah, dia tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Dia memang salah, dan lebih salah lagi karena dia tidak bisa mengulang waktu untuk kembali pada saat dimana Nara membutuhkan bantuannya.
"Penyesalan itu tidak akan berarti, Henry. Siapa pun kamu, aku harap kamu tidak akan berada di pihak yang salah!"
Bora berlari mengejar Nara. Melihat penyesalan dalam wajah Henry membuatnya sedikit iba. Tapi mau bagaimana lagi, Nara pasti sangat kecewa dengan pria itu. Seseorang yang bisa saja menghentikan perundungan tapi malah bertingkah seolah-olah dia tidak tahu.
Jika Henry tidak mengakuinya sendiri, Nara mungkin akan baik-baik saja. Namun, karena Henry sendiri yang mengatakan jika dia melihat semuanya dan memilih untuk diam, Nara menjadi sangat benci akan sikap itu.
"Nara!" panggil Bora.
Kini mereka sudah ada di dalam kelas. Nara yang saat itu menyandarkan kepalanya di atas meja terlihat sangat kacau. Bora tahu apa yang Nara rasakan. Penyesalan Henry, pengakuannya dan fakta jika Henry mengetahui rahasianya membuat situasi mereka semakin membingungkan.
"Kenapa harus Henry, Bora. Kenapa bukan Kak Myung-Soo." Nara membatin dengan mata terpejam. Nara takut Henry akan ikut campur dan mengusahakannya untuk melawan orang-orang itu. Kepahitan yang dia alami harus benar-benar dibalaskan agar dia bisa kembali dengan tenang.
__ADS_1
"Bagiamana jika kita minta bantuan Henry untuk bergabung dengan kita, Nara. Aku rasa ini lebih baik."