ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 45. Kemarahan Seseorang


__ADS_3

"Astaga, Bora. Bagaimana bisa kau mengatakan itu semua? Aku melihat segalanya. Sarang, perempuan itu sudah merencanakan pembunuhan padamu, bagaimana mungkin aku akan memihaknya, kenapa kau berpikir sangat jauh seperti ini!"


Myung-Soo mengatakan itu sambil berjalan mendekati Nara, memeluk calon istrinya juga mengusap kepala Nara dengan usapan yang sangat lembut. Myung-Soo salah besar jika sampai dia memihak pada orang yang salah, sekalipun itu keluarganya, Myung-Soo tidak akan membela sesuatu yang sudah pasti. Myung-Soo tidak akan pernah melakukan kebodohan seperti itu.


"Jangan memikirkan hal-hal yang tidak baik. Aku menyayangimu, Bora. Aku mencintaimu. Jangan pernah berpikir untuk menjauh lagi. Maafkan aku karena tidak tegas sejak awal. Seharusnya aku sendiri yang menghukum Sarang, bukan malah membiarkannya berkeliaran bebas seperti itu. Aku minta maaf."


Setitik air mata jatuh membasahi pipi perempuan itu. Nara menangis dalam dekapan Myung-Soo. Jika saja Myung-Soo tahu kalau dia juga takut kehilangannya, Myung-Soo mungkin tidak akan meminta maaf. Nara tidak membenci calon suaminya karena apa yang sudah terjadi. Sarang adalah Sarang. Tidak ada hubungannya dengan orang lain.


"Aku juga minta maaf, Kak. Aku melakukan ini karena Sarang pantas mendapatkannya!"


Myung-Soo mengangguk-anggukan kepalanya. Ia mengecup puncak kepala Nara beberapa kali, kembali memeluknya saking takutnya Myung-Soo kehilangan perempuan itu.


Di sudut ruangan, Bora tersenyum getir. Melihat pria yang sangat dia cintai memeluk raganya tapi dengan ruh orang lain membuat hatinya sangat sakit. Bora tahu, yang Myung-Soo cintai adalah Nara, bukan dirinya. Namun tetap saja, setiap kali dia meyakini itu, Bora akan merasa jika semua ini terlalu menyedihkan.


Tidak ingin terlalu lama berada di sana, Bora memilih untuk keluar. Arwah itu berjalan dengan sangat pelan. Bora tidak tahu kenapa hatinya seperti ini. Mendengar kalimat cinta dari mulut Myung-Soo untuk perempuan lain adalah mimpi buruk untuknya.


"Bora!" Seseorang memanggil dari kejauhan. Bora mendongak, arwah itu langsung berlari di lorong rumah sakit ketika seseorang menatap ke arahnya dengan wajah penuh senyum. Lagi-lagi ia memeluk Henry tanpa meminta persetujuan dari pemilik tubuh itu. Bora benar-benar mendekap tubuh itu seolah dia tidak ingin Henry pergi.


"Are U oke?" tanya Henry khawatir. Ya, meskipun Bora bukan manusia, tapi dia bisa melihat raut kesedihan di wajah arwah itu. Henry ingin mengusap punggung Bora tapi orang-orang yang melihatnya pasti akan berpikir jika dia sudah gila.


Beberapa menit kemudian, Bora melepaskan pelukannya, arwah itu menatap Henry lebih baik dari sebelumnya.


"Ikut aku," pinta Henry. Dia mengajak Bora untuk pergi ke tangga darurat agar mereka bisa mengobrol dengan leluasa.

__ADS_1


"Bora. Ada apa denganmu?"


"Aku baik-baik saja," jawab Bora berbohong.


Henry mengembuskannya napas panjang. Dia tahu, dia tidak bisa memaksakan kehendak para orang lain. Jika Bora tidak menjawab, ya sudahlah ... itu haknya dia.


"Bagiamana dengan Nara, apa dia baik-baik saja?"


Bora mengangguk. Arwah itu tersenyum tipis. "Nara masih harus menjalani perawatan. Tapi dia baik-baik saja. Ada Kak Myung-Soo yang menjaganya."


Pria itu pun mengangguk. Henry tahu apa yang harus dia lakukan. Nara sudah memiliki calon suami, dia adalah tunangan orang lain, Henry tidak bisa mengganggu hubungan mereka.


....


Selepas dibubarkan dari sekolah, Sarang masuk ke rumahnya bersama dengan sang ibu. Wanita paruh baya itu terlihat sangat murka karena saat sampai pun dia langsung membanting semua barang yang ada di depan mata. Dia marah, kecewa dan sangat malu karena apa yang telah Sarang lakukan.


Sarang yang sejak tadi menunduk kini mendongak dengan linangan air mata. Perempuan itu menatap mamanya dengan tatapan sendu. Sangat menyakitkan saat ibunya sendiri tidak tahu apa yang dia inginkan.


"Sarang berhasil Ma. Sarang melakukan ini karena ingin menarik perhatian Mama. Kalau hanya masalah sepele, Mama pasti akan menyuruh manager Mama untuk mengurus Sarang. Sarang ini anak Mama. Bisakah luangkan waktu sedikit saja untuk Sarang? Sarang bukan hewan peliharaan, Sarang itu manusia. Sarang punya hati, dan Sarang memiliki kebutuhan untuk diperhatikan. Mama lupa kalau Mama punya anak?" Suara perempuan itu tersebar sangat lantang. Kali ini dia sudah tidak bisa menahan semuanya lagi.


Tubuhnya ambruk di atas lantai. Sarang meraung sambil memukul dadanya berkali-kali. "Sarang capek, Ma. Sarang capek. Mama tahu?" perempuan itu mendongak menatap sang mama. "Mereka semua, temen-temen Sarang punya rumah, mereka punya seseorang yang akan mendengarkan keluh kesah mereka saat semuanya tidak baik-baik saja. Tapi, kapan mama punya waktu untuk anak mama? Kapaannnnn!"


Sarang kembali menunduk. Dia benar-benar ingin menjadi seperti orang lain, memiliki keluarga yang lengkap, juga memiliki ibu yang juga bisa dia jadikan tempat curhat, yang akan menanyakan keadaannya saat pulang sekolah, seorang ibu yang akan cemas ketika Sarang terlambat pulang. Tapi, wanita di depannya ini tidak pernah memberikan itu semua, yang dia pikirkan hanya uang, uang, dan uang.

__ADS_1


"Mama seperti ini karena mama harus mencari uang untuk kita, Sarang. Kalau mama enggak kerja, siapa yang akan menghidupi kita. Papa kamu udah mati. Kita udah enggak punya siapa pun!"


Kan ... Sarang bilang juga apa. Ibunya ini selalu mementingkan masalah uang. Padahal, 1 jam, ah, tidak. 30 menit saja dalam sehari rasanya cukup untuk Sarang, dua juga harus mendapatkan kasih sayang dari ibunya.


"Sarang!"


"Cukup, Ma. Semuanya sudah terlambat. Sarang tahu konsekuensi apa yang akan Sarang dapatkan setelah ini. Lebih baik, Sarang hidup di kandang anjing daripada harus kedinginan di rumah yang mewah."


Bak sebuah timer, sesaat setelah Sarang mengucapakan itu, pintu rumah mereka diketuk dari luar. Asisten rumah tangga di sana membukakan pintu, beberapa orang tiba-tiba masuk tanpa permisi.


"Maaf, Nyonya. Saya menerima surat izin penangkapan untuk putri Anda, Sarang!"


Nyonya Kang menggelengkan kepalanya, perempuan itu ingin ingin menarik tangan Sarang tapi ditepisnya oleh perempuan itu.


"Pak! Kalian pasti salah tangkap. Anak saya tidak melakukan apa-apa. Anak saya baik kok. Jangan asal menuduh!"


"Maaf, Nyonya. Ini sudah perintah. Anda berhak menyangkal dan membawa pengacara ke kantor polisi. Anda bisa memberikan keterangan di sana."


Nyonya Kang kembali menggelengkan kepalanya. Perempuan itu menarik lengan Sarang tapi lagi-lagi Sarang menepisnya.


"Sekarang mama bebas, Sarang juga enggak akan jadi beban lagi untuk Mama. Jangan terlalu lelah, Mah. Sarang tidak membenci Mama. Sarang hanya tidak beruntung karena kehilangan sosok mama dari dulu."


"Enggak. Kamu enggak kehilangan apa-apa Nak. Ini mama. Mama akan selalu ada untuk mu. Maafkan mama, Nak. Mama minta maaf!"

__ADS_1


Nyonya Kang masih berusaha untuk menggapai Sarang akan tetapi para polisi itu telah lebih dulu menarik anaknya keluar dari rumah.


"Sarang!!!!!!!" Nyonya Kang berteriak, lelehan air bening terus meluncur dari sudut matanya akan tetapi itu percuma karena semuanya sudah tidak berarti lagi. "Sarang maafkan mama, Nak. Mama menyesal, mama benar-benar minta maaf! Jangan lakukan ini Sayang! Kamu harus pulang."


__ADS_2