
"100 juta won?" Nara mengulang apa yang sudah dikatakan oleh ibu tirinya. Seratus juta won bukan uang yang sedikit. Dengan uang itu, dia bisa menghidupi anaknya sampai anaknya itu masuk ke perguruan tinggi bahkan mungkin sampai bayinya lulus kuliah.
"Minta sama Papa, Ra!" titah Bora.
Nara menggelengkan kepalanya. Tidak bisa, jika dia meminta itu dari orangtuanya, mereka akan curiga. Belum tentu juga mereka mau menerima bayi itu. Nara tidak bisa mengambil resiko.
"Myung-soo, Oppa!" pekik Bora lagi. "Bilang kalau kau mau pinjam uang, dia akan memberikan uang itu untukmu, Ra!"
Nara bergerak gelisah, dia melirik ke arah Seo Jin sekilas. Ini benar-benar sangat membingungkan. Tapi, jika dengan Myung-Soo tidak banyak yang harus dia jelaskan dan dia juga bisa membayar dengan cara menyicil. Tidak masalah jika memang harus menghabiskan waktu seumur hidup.
"Tunggu sebentar!" ucap Nara pada Seo Jin.
Wanita paruh baya itu hanya mengangguk seraya berpangku tangan. Bahunya menyender pada kusen pintu, memperhatikan Nara yang sekarang sedang sibuk mengobrol dengan seseorang.
"Aku janji, aku akan membayar semua uangnya. Begini saja, jika perlu, aku siap untuk bekerja padamu. Apa pun yang kau minta, aku tidak akan menolak."
Pria di sebrang telepon terdengar mengembuskan napas. "Berikan alamat mu! Aku akan mengirimkan uangnya ke sana!"
Nara tersenyum sangat lebar. Tanpa memikirkan apa pun. Gadis itu memberikan lokasinya pada Myung-Soo. Tidak perduli apa yang akan terjadi di masa depan, yang paling penting sekarang adalah bayinya bisa selamat.
Hampir satu jam menunggu, akhirnya seseorang datang, mengetuk pagar rumah Seo Jin pelan. Nara berlari menghampiri pria itu.
"Uangnya mana?" todong Nara tanpa basa-basi.
Myung-Soo pun memberikan cek senilai dengan permintaan dari Nara. Dan tentu saja Nara langsung menyambar cek itu tanpa menunggu apa pun lagi.
"Terima kasih," ucap Nara. Ia berlari menghampiri Seo Jin untuk meminta bayinya dari wanita itu.
"Ini adalah cek 100 juta won. Sekarang berikan bayi itu padaku," kata Nara tegas.
Seo Jin tersenyum sumringah, ia masuk ke rumahnya untuk menunjukan cek yang dia dapatkan dari Nara.
"Ini asli 'kan?" tanya Seo Jin kepada dua anaknya. Anak-anak itu ingin mengambil cek tersebut dari tangan Seo Jin, akan tetapi Seo Jin tidak memberikannya.
__ADS_1
"Aku akan memberikan bayi ini dulu. Berisik!" katanya. Ia lantas mengambil bayi tersebut dari gendongan anak perempuannya kala itu.
Sementara di luar rumah, Nara sedang menunggu, harap-harap cemas takut Seo Jin tidak menepati janji.
Myung-Soo menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Pria itu mengerutkan kening melihat betapa kumuhnya rumah itu. "Kau bukan sedang bertransaksi narkoba 'kan?" sarkas Myung-Soo.
Bora tertawa renyah, sedangkan Nara malah mendengus. "Lebih parah dari itu," jawab Nara asal.
"Jangan bilang kamu jual beli organ manusia!" tuduh Myung-Soo lagi.
"Kalau iya kenapa, jika itu menguntungkan, kenapa tidak! Apalagi jika bisa menjual organ mu, pasti sangat mahal." Gadis itu menyeringai membuat Myung-Soo merinding.
"Bora, kau--"
"Ini bayinya!" Seo Jin memperlihatkan bayi Nara, dia lantas memberikan bayi tersebut kepada Nara, sesuai dengan perjanjian di awal.
"Oh my God. Dia benar-benar melakukan perdagangan manusia," kaget Myung-Soo. Hampir saja dia terjengkang kalau Bora tidak menahan punggungnya.
"Terima kasih, mulai sekarang, kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."
Seo Jin mengangguk, ia menutup pintu tanpa menunggu Nara dan Myung-Soo keluar dari rumahnya.
"Psikopat gila!" kesal Nara.
"Bukankah kau yang gila?" Myung-Soo menatap aneh ke arah Nara. "Untuk apa kau mengambil bayi itu? Kau membelinya untuk apa, Bora. Bayi itu tidak bisa dijadikan mainan. Aku akan membelikan yang lebih mahal, tapi jangan bayi sungguhan, kasihan, Ra!"
Nara menutar bola mata malas. Ia berlalu dari hadapan pria itu tanpa memperdulikannya sama sekali. Ia berjalan sedikit tergesa meski lututnya sakit karena cindera. Ya, tadi dia sempat terjatuh ketika keluar dari rumah sakit.
"Han Bora, kau!" geram Myung-Soo tapi dia tetap mengejar gadis itu. Satu demi satu anak tangga dia pijak. "Nara tunggu!" pekik Myung-Soo. Dia menarik tangan Nara, membawa gadis itu menuju mobilnya. "Masuk dulu!" titah Myung-Soo lagi.
Nara tidak menolak, dia mendekap bayi itu erat, takut kalau Myung-Soo akan merebut bayinya.
"Kenapa kau mengambil bayi ini?" Myung-Soo lagi-lagi melontarkan pertanyaan setelah duduk di balik kemudi.
__ADS_1
"Dia anak temanku, Kak. Temanku meninggal setelah melahirkannya, aku hanya kasihan, aku takut bayi ini akan disiksa atau diperjualbelikan seandainya aku membiarkan dia tetap tinggal bersama wanita paruh baya itu."
Bahu Myung-Soo luruh ke bawah. Pria itu tidak tahu harus melakukan apa. Bukan salah calon istrinya jika dia merasa iba pada bayi itu. Akan tetapi, "Apa kau bisa mengurus bayi ini? Kau juga masih harus diurus Bora. Rasional sedikit!"
Tidak ada jawaban dari Nara. Dia hendak keluar dari mobil itu tapi tidak jadi karena Myung-Soo menahan tangannya.
"Kau sayang bayinya?" tanya Myung-Soo lagi.
Nara mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Tolong aku sekali lagi, Kak. Aku tidak mau kehilangan bayi ini. Tapi, tidak mungkin aku membawanya pulang ke rumah, aku takut Mama sama Papa malah marah dan buang bayi ini. Tolong, Kak!"
Myung-Soo bergeming, dia menatap Nara lekat, Myung-Soo sendiri pun bingung, dia tidak tahu bagaimana cara merawat bayi, punya adik saja tidak, dia benar-benar nob dalam urusan seperti itu.
"Kita titipkan saja di panti asuhan," ujar Myung-Soo yang mana hal tersebut sukses membuat Nara terbelalak. Gadis itu memeluk bayinya semakin erat.
"Tidak mau, aku tidak mau menitipkan bayi ini di panti asuhan. Aku sudah bilang kalau aku akan menjaganya. Aku tidak bisa!"
Kini air mata Nara mengalir tanpa bisa dia tahan. Dia sudah kehilangan bayinya satu kali, dia tidak bisa kehilangan bayi itu untuk yang kesekian kalinya. Nara tidak bisa. Dia tidak mau.
"Lebih baik aku pergi dari kehidupan kalian. Aku tidak bisa meninggal bayi tak berdosa ini sendirian, aku tidak mau!"
Myung-Soo menjadi sangat bingung saat melihat perubahan sikap Bora. Gadis ini menangisi bayi orang lain? Tapi kenapa? Temannya juga sudah meninggal, jika pun bayi ini mereka buang, teman Bora itu tidak akan pernah tahu.
"Nara ... gimana kalau kita titip dulu bayi kita di panti asuhan. Setelah kita berbicara kepada Mama sama Papa, baru kita ambil lagi bayinya, hmmm!" Bora ikut membujuk Nara.
Nara menggeram, lagi-lagi dia tidak bisa menerima usulan itu dari siapa pun. Ia harus merawat bayi ini sendiri.
"Aku sudah bilang kalau aku enggak mau, aku enggak mau." Nara berteriak di depan Myung-Soo dan juga di depan Bora.
Hantu dan manusia yang diteriaki sampai terkejut karena pekikan gadis di depan mereka.
"Kita rawat bayi ini di rumah mu, ya!" kata Nara pada Myung-Soo.
"What? Rumahku?" sarkas Myung-Soo dengan wajah dongkolnya.
__ADS_1