ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 40. Takluk Tapi Tidak Tunduk


__ADS_3

"Mau ke mana Bora?" tanya Myung-Soo ketika perempuan yang sudah duduk di samping kemudi hendak membuka pintu mobilnya. Enak saja, setelah membuatnya harus menyelesaikan pekerjaan dalam waktu singkat dan kembali terbang malam itu juga, Nara mau pergi tanpa bertanggung jawab. Jangan harap Myung-Soo akan bersikap baik.


"Eummm, aku cuma mau tutup pintunya lagi. Tadi kurang rapat," kata Nara menyangkal. Dia kembali duduk dengan baik, tidak menoleh kanan kiri karena terlalu gugup. Nara takut kalau Myung-Soo akan menanyakan masalah semalam, dia tentu akan sangat bingung kalau Myung-Soo menanyakan hal itu.


"Bora," gumam Myung-Soo. Pria itu mencondongkan tubuhnya ke arah Nara, menatap wajah perempuan itu cukup lama sehingga mereka saling menatap dan saling menyelami satu sama lain. Jantung keduanya berdegup sangat kencang. Nara tidak bisa melakukan apa-apa karena dia sudah terpojok.


"Jangan lakukan apa pun!" gumam Nara akhirnya. Myung-Soo terkesiap, buru-buru dia mengambil seat belt dan memakaikannya kepada Nara.


"Aku hanya ingin memakaikan ini untukmu!" Myung-Soo berkilah, padahal dia sangat menyukai wajah di depannya.


Hembusan napas keluar dari mulut pria itu. Sesekali dia melirik ke arah Nara, mau bertanya tapi takut menyinggung. Tidak ditanyakan dia yang tidak tenang. Nara adalah calon istrinya, jika dia terus bertingkah seperti ini mereka akan berakhir dengan kecanggungan bukan?


Akhirnya Myung-Soo menghentikan mobilnya di depan sekolah, pria itu tidak masuk karena Nara mencegahnya untuk melakukan hal tersebut. Nara tidak ingin Myung-Soo dikerumuni banyak perempuan atau menjadi tontonan gratis para perempuan genit di sekolahnya. Perempuan itu tahu, Myung-Soo memiliki ketampanan di atas rata-rata. Jika sampai Myung-Soo turun, dia akan sangat rugi.


"Aku pergi dulu, Kak!" ucap Nara. Perempuan itu berbalik.


Baru akan membuka pintu, Nara dikejutkan dengan Myung-Soo yang tiba-tiba menarik tangannya. Tentu saja Nara harus mengurungkan niat, harapannya untuk bisa kabur dari pria ini telah hilang, Myung-Soo pasti akan menanyakan masalah tadi malam, itu telah mutlak dan tidak akan bisa diabaikan atau dihentikan.


"Bora ... bisakah kau jujur padaku? Aku tidak ingin mencurigai mu, aku akan mempercayai apa pun yang kau katakan, jadi tolong, jangan sembunyikan apa pun dariku!"


Nara menyunggingkan senyum tipis di bibirnya, dia berbalik lantas meletakan tangannya pada punggung tangan Myung-Soo. Perempuan itu memberikan senyum dengan senyum terbaik yang dia miliki.

__ADS_1


"Kakak!" panggil perempuan itu.


Myung-Soo mendongak, tatapan mereka bertemu untuk beberapa waktu.


"Jika aku jujur kalau aku memiliki teman baru, Kakak marah tidak?"


Untuk beberapa saat Myung-Soo diam, tapi ... ketika Nara mulai menjelaskan kejadian apa yang terjadi tadi malam, Myung-Soo mulai tersenyum. Pria itu mendengarkan apa yang keluar dari mulut calon istrinya dengan seksama. Tidak ada satu pun yang terlewat, Myung-Soo memahami hal itu.


"Bora~~!"


"Hmmm, Kakak marah?"


"Kakak enggak marah, tapi ... lain kali jangan sembunyikan apa pun dari ku. Kita bertunangan karena perjodohan, tapi aku menerima pertunangan ini atas kemauan ku sendiri. Karena aku menyukaimu!"


Deg!


Nara dan Bora menatap Myung-Soo dengan dalam. Kedua mahluk berbeda spesies itu tentu saja sangat terkejut atas pengakuan Myung-Soo yang tiba-tiba. Sangat sulit membaca pemikiran pria ini karena Myung-Soo memang tidak mudah untuk dimengerti.


"Pergilah! Telpon aku saat ujiannya selesai. Aku akan menjemputmu lagi di sini!"


Nara tersenyum lega. Dia membuka pintu mobil kemudian melambaikan tangan kepada calon suaminya itu. Kali ini bukan Bora yang melakukannya. Nara berinisiatif sedang Bora mengikuti gelagat Nara.

__ADS_1


"Hati-hati!" Perempuan itu mengingatkan.


Myung-Soo mengangguk juga melambaikan tangan kepada perempuan yang akan kelak akan menjadi istrinya.


"Dasar jalan*! udah punya calon suami masih aja gatel. Sok kecakapan banget kamu, Bora!"


Nara menoleh ke belakang. Perempuan itu mengerutkan kening karena sosok perempuan jadi-jadian ada di depannya. Nara meringis mencerna apa yang Sarang katakan padanya.


"Kau sinting!" ketus Nara. Kedua bahunya terangkat, Nara melengos karena terlalu enggan untuk melakukan perdebatan tidak penting.


Perempuan jadi-jadian itu berdecih, dia mengeluarkan ponselnya lantas berjalan mendahului Nara dan berhenti di depannya.


"Jika Kak Myung-Soo melihat ini, kira-kira apa yang akan terjadi?"


Sarang menunjukkan sebuah foto. Foto yang mungkin bisa saja menjadi bumerang untuk Nara. Di dalam foto tersebut, terlihat Nara yang sedang tersenyum lebar dengan Henry. Kedua orang itu terdiam, jika Sarang tersenyum menyeringai karena berpikir Myung-Soo akan marah karena perselingkuhan yang Nara lakukan, lain lagi dengan Nara, perempuan itu baru sadar jika dirinya tertawa sangat lebar, bagaimana jika Myung-Soo menyadari ini? Apa dia tidak akan cemburu? Padahal tadi Myung-Soo telah mengatakan jika dia akan mempercayai apa pun tentangnya.


"Jangan takut, Nara. Kak Myung-Soo tidak mungkin terhasut perempuan jadi-jadian seperti ini. Jangan hiraukan apa yang dia katakan."


Nara mengangguk. Dia menyenggol bahu Sarang seraya berlalu meninggalkan musuh bebuyutannya.


"Bodoh! Kau pikir aku tidak memiliki rencana, Bora! Aku pastikan kalau Kak Myung-Soo akan membatalkan pertunangan kalian."

__ADS_1


__ADS_2