ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 13. Mengancam


__ADS_3

Henry menatap Nara tak kalah lekat. Pria itu mengerutkan kening mendengar kalimat Nara yang begitu percaya diri seolah tidak takut akan apa pun. Tapi siapa yang akan tahu jika Nara seperti itu karena telah melewati banyak hal tidak baik.


"Ikut ke kantor guru sekarang," kata Henry menarik tangan Nara dan berjalan tergesa menuju. Teman-teman Nara yang lain mengikuti gadis itu dan Henry. Suara pekikan para anak gadis terdengar, mereka begitu iri saat melihat presiden sekolah Yeonwo School tengah menarik tangan seorang perempuan.


Tidak ada yang bisa protes, mereka hanya mendesah pasrah. Nara dan Henry memang pasangan yang cocok. Nara dengan kecantikan dan pesonanya, sedangkan Henry tentu dengan ketampanan, kecerdasan dan wibawa yang membuat mereka tidak bisa mendekatinya. Henry terlalu mewah untuk mereka yang hanya remahan biskuit.


"Udahlah ... murid baru itu memang pantas untuk presiden sekolah. Henry kita satu kasta dengannya. Sedangkan kita apa ...."


....


"Apaan sih, main tarik-tarik aja. Gue bukan kambing Henry!"


Nara menepis tangan pria itu dari tangannya. Nara mendelik menatap Henry tidak suka tapi Henry malah kembali menariknya dan membawanya masuk ke dalam ruang kepala sekolah. Ternyata, di sana sudah ada Sarang dan teman-temannya.


"Busuk banget," keluh Nara seraya menutup hidungnya. Kepala sekolah, wali kelas mereka dan juga guru BK telah menggunakan masker berlapis-lapis tapi mereka masih sangat ingin muntah.


Eunhae meminta teman laki-laki mereka untuk tidak ikut masuk, menyuruh mereka untuk kembali ke kelas mereka demi keamanan. Sedangkan dia dan Hye-In ikut masuk ke ruang kepala sekolah itu.


"Ada apa ini Henry? Kenapa membiarkan kekacauan terjadi di sekolah kita? Kau ini becus atau tidak jadi pemimpin?"


Nara tersenyum kecut, dia melepaskan tangan Henry dan kembali berdiri tegak menghadap ke arah kepala sekolah.


"Cowok ganteng ini jadi korban, Ra. Dia 'kan enggak salah apa-apa," bisik Bora di samping Nara. Bora mengikuti Nara dan teman-teman perempuan itu karena dia pikir dia juga telah melakukan kesalahan dengan menjadi pemandu sorak saat Nara tangah memberi perhitungan kepada Sarang dan teman-temannya yang lain.


"Aku enggak niat buat bikin dia kena masalah. Dia yang tidak bisa menjaga mulut." Nara membatin dengan mata mendelik kesal. Dia juga sangat tidak suka saat Henry menarik tangannya. Apa pun yang dia lakukan seharusnya Henry tidak ikut campur. Presiden sekolah yang dulu pun tidak pernah menolongnya meski dia tahu kalau dirinya dirundung dan tidak diperlakukan seperti manusia.

__ADS_1


"Ada yang mau menjelaskan! Atau penjelasan dari Sarang dan Minho sudah cukup?"


Nara mengangkat kedua bahunya acuh. Entahlah, dia harus membela diri atau tidak, dia ingin tahu dulu, apa yang dikatakan oleh Sarang juga tindakan apa yang akan kepala sekolah lakukan.


"Jadi benar kamu melakukan semua ini kepada mereka?" tanya kepala sekolah menatap Nara penuh selidik. "Han Bora. Saya tahu kamu memiliki alasan. Katakanlah!"


Sarang, Minho dan teman-temannya langsung saling pandang, kening mereka mengkerut. Mereka tidak tahu apa yang sedang kepala sekolah coba untuk lakukan, kenapa malah menanyai Bora padahal mereka sudah sangat-sangat menderita. Bukti ini sudah sangat jelas, tapi kenapa kepala sekolah malah memihak Bora.


"Saya tidak melakukan itu karena saya ingin, Pak! Tadi saya liat mereka sedang menyiksa Hye-In. Jadi saya hanya menolong Hye-In saja!"


"Yakkkk!" Sarang memekik membuat orang-orang di ruangan itu terperanjat. "Jangan memutarbalikkan fakta. Aku tidak mungkin melakukan hal buruk seperti itu. Jangan fitnah orang sembarangan, Bora! Kau ingin menghancurkan reputasi ku, 'kan! Kau--"


"Stop!" teriak kepala sekolah kesal. "Apa ini kelakuan murid di depan guru? Apa kalian tidak bisa menghormati saya?" Kepala sekolah itu mendesah kasar. "Pak Kim, tolong panggil wali mereka," titah kepala sekolah.


Nara mengangkat kedua bahunya acuh. Tapi ... saat dia mengingat sesuatu, Nara langsung menghampiri Pak Kim.


"Kenapa, kamu takut dimarahi orang tua kamu?"


Nara mengibaskan tangannya yakin. "Bukan, Ssaem. Orang tua saya sibuk bekerja, jadi tidak mungkin mereka datang ke sini. Ssaem hubungi nomor ini, aja ya!" Nara menyodorkan ponselnya, memberikan nomor Myung-Soo agar guru BK nya itu tidak memanggil kedua orangtuanya.


"Jangan macam-macam kamu." Pak Kim memperingati. Nara hanya mengangguk dan mempersilakan guru itu untuk menghubungi Myung-Soo.


"Kembali ke sini, Bora!" titah kepala sekolah. Nara pun mengangguk dan kembali pada posisinya.


Tak berselang lama setelah itu, orang tua dari Minho telah datang, begitupun dengan orang tua Eunhae dan Hye-In. Namun, orangtuanya Sarang tidak ada dan malah asisten ibunya yang datang.

__ADS_1


"Mana wali kamu, Bora?" Pak kepala sekolah mulai tidak sabaran.


"Mungkin kejebak macet, Pak!"


Kepala sekolah itu malah menggeleng-gelengkan kepalanya kesal.


"Bisa tidak kalau kepala sekolah nanya enggak usah jawab!" Lama-lama Henry pun ikut geram.


Lagi-lagi Nara mendelik tidak suka. Lha orang bertanya karena dia menginginkan jawaban. Jadi tugas yang ditanyai memang harus menjawab 'kan? Apa yang salah dengan itu.


"Kau itu benar-benar, Nara!" Bora pun ikut heran.


"Jangan berisik. Dulu aku enggak berani kayak gini. Jadi sekarang harus puas karena sebentar lagi pun, aku akan lulus dari sekolah ini." Nara membatin dan Bora hanya menganggukki hal tersebut.


Setelah beberapa orang tua berbincang, semuanya telah menjadi lebih baik. Apalagi asisten ibunya Sarang, dia lebih ke patuh karena itu memang telah menjadi tugasnya. Namun, sampai sekarang pun Myung-Soo belum datang dan itu membuat Nara kesal.


"Saya ingin bicara dengan Bora sebentar, apa boleh?" tanya wali Sarang. Kepala sekolah mengangguk dan mempersilakan hal tersebut.


Miseo, 27 tahu, asisten pribadi ibunya Sarang. Cantik juga pendidikannya tidak bisa dianggap remeh.


"Han Bora. Itu nama kamu 'kan?" kata Miseo dan hanya dijawab dengan alis terangkat oleh Nara. "Dengar Bora! Saya tidak tahu masalah apa yang kamu perbuat. Tapi hal seperti ini sudah diluar batas. Pelajar seperti mu dengan sangat berani menghajar anak lain yang tidak bersalah."


Tidak bersalah? Nara tergelak mendengar kalimat penutup wanita di depannya. Dia benar-benar tidak bisa menghentikan tawanya karena Miseo ini terlalu lucu.


"Apa Anda tahu bagaimana perangai, anak kesayangan majikan Anda itu? Jika tidak tahu apa-apa, jangan asal bicara! Kalau saya bongkar kebusukan perempuan itu, seluruh keluarganya akan hancur! Dan ... jangan khawatir jika Anda memang belum tahu, saya akan pastikan tidak lama lagi Anda akan mengetahuinya, akh ... tidak, bukan cuma Anda. Tapi seluruh dunia akan tahu bagaimana jahatnya seorang Yeon Sarang, anak dari model terkenal yang sebentar lagi namanya akan hancur!"

__ADS_1


"Han Bora!"


__ADS_2