ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 21. It's Useless


__ADS_3

Nara berlari dengan napas ngos-ngosan. Perempuan itu sesekali berhenti di tengah-tengah anak tangga untuk sedikit mengisi rongga udara pada paru-parunya.


"Kenapa kau ikut lari juga? Apa kau tidak bisa menghilang seperti Jin itu?"


Bora menggelengkan kepalanya. "Aku ingin menemanimu, Nara!"


Astagaaaa ... hantu ini sudah gila. Ini adalah tindakan bodoh yang tidak bisa dia benarkan. Bora ini tidak efektif, ingin sekali Nara mengatakan jika otak Bora sudah karatan.


"Naiklah lebih dulu! Jika kau bisa menahannya, tahan dia. Jangan sampai dia melompat Bora!"


Hantu itu pun mengangguk, dia mengedipkan matanya dua kali dan saat itu juga dia langsung menghilang dari hadapan Nara.


Perempuan itu kembali menaiki anak tangga dengan tergesa. Dia harus cepat sampai di atas agar orang itu tidak mati konyol.


Brak!


Pintu atap sekolah itu Nara tendang sehingga atensi semua orang beralih kepadanya. Masih dalam kondisi yang sama, Nara menatap perempuan di ujung sana dengan napas terengah-engah.


"Tunggu! Kita lakukan bersama. Aku ikut dengan mu!" kata Nara membuat semua orang yang ada di atap gedung itu tercengang. Apalagi orang yang tahu siapa Nara dan keluarganya. Mereka semakin panik, menelpon tim rescue untuk segera datang. Jika Nara benar-benar ikut melompat, habislah mereka semua. Bukan hanya Nara yang akan mati, tapi para guru juga akan mati karena kehilangan pekerjaan mereka.


"Boraaa. Apa yang kau lakukan?" teriak Eunhae.


Nara hanya mengangkat tangan, meminta semua orang untuk diam.

__ADS_1


"Aku sungguh-sungguh! Aku juga merasakan apa yang kau rasakan. Kita akan mati bersama-sama. Aku ikut dengan mu, ya!"


Nara semakin mendekat ke arah gadis yang telah berdiri di atas pinggiran beton atap tersebut. Tangannya terulur, matanya melirik name tag yang ada di dada sebelah kanan perempuan itu. "Nayeon! Itu nama kamu kan. Ambilah tangan ku!" kata Nara lagi.


Orang-orang yang ada di bawah gedung itu mulai berbisik. Banyak diantara mereka yang khawatir. Takut jika Nara akan terjatuh. Namun, tak banyak dari orang-orang itu juga ada yang senang. Seperti Sarang, perempuan itu malah tersenyum menyeringai. Ia mengambil ponselnya ingin mengabadikan momen menyenangkan itu.


"Kita tidak harus repot-repot menyingkirkan perempuan itu karena dia telah memilih kematiannya sendiri," kata Sarang. Minho pun mengangguk.


Pria itu mendongak ke atas dengan wajah songong nya. Kedua tangan yang berada di dalam saku celana dan jangan lupakan dia yang kala itu sedikit tertawa. "Mati saja kau!" ucap Minho tanpa suara.


Bora yang ada di atas tak kalah menyeringai. Hantu itu berjongkok, mengambil batu kerikil kecil dan melemparkannya ke arah Minho.


Tak!


"Kenapa dengan mu?" Sarang memasukan ponselnya ke dalam saku, tidak jadi mengabadikan momen itu karena Minho semakin kesakitan. "Kita ke UKS saja dulu!" Sarang memapah Minho, membawa pria itu menjauh dari sana. Sarang tentunya tidak sendirian karena ada Minwo dan Taeil juga membantunya.


"Mampus kau! Liat aja. Berani nyakitin Nara sedikit saja, aku akan membuat kalian semua hancur!"


"Bora!" panggil Nara membatin. "Boraaaaa!" pekik Nara lagi karena hantu itu tidak mendengar.


"Kenapa?" tanya Bora akhirnya.


"Aku sudah siap," ucap Nara ketika tangannya sudah akan bersentuhan dengan tangan Nayeon.

__ADS_1


"Bora! Hei! Jangan bodoh. Apa yang akan kau lakukan? Kemarilah! Itu berbahaya." Inilah yang orang-orang dibelakangnya serukan.


Nara tentu saja tidak mengindahkan hal tersebut. Bagaimana mungkin dia bisa diam saja saat seseorang berusaha untuk mati. Tidak akan bisa. Mereka yang tidak pernah mengalami hal tersebut mungkin tidak akan sepeka dirinya. Namun untuk Nara, ini keterlaluan. Apa yang ingin dilakukan Nayeon adalah kesia-siaan.


"Noooooo!"


Semua orang memekik karena Nara, malah naik ke ujung beton bersamaan dengan Nayeon. Dua pelajar itu saling menatap kemudian tersenyum.


"Nayeon. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Dunia ini terlalu berat untuk kita bukan? Aku akan menemanimu!"


Perempuan bernama Nayeon itu tersenyum. Wajah pucatnya terlihat dengan sangat jelas ketika terpaan angin menerbangkan rambutnya sehingga wajah itu menjadi terpang-pang dengan sangat nyata.


"Kita berhitung ya. Dalam hitungan ketiga, kita melompat bersama-sama!"


Nayeon pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua menatap langit seraya merentangkan tangan dan saling menggenggam. Dua perempuan itu seolah tidak takut jika tubuh mereka akan hancur saat sampai ke dasar. Kepala mereka telah dipenuhi dengan bisikan-bisikan aneh. Hingga ... saat keduanya siap mereka pun benar-benar berhitung. Mereka kembali saling menatap dan tersenyum seperti tanpa beban.


"Satu ... dua ... tiga!"


"Boraaaaa!"


Semua orang berteriak dengan wajah pucat pasi.


Brukkk!

__ADS_1


"Bora, astaga! Panggil seseorang! Panggil dokter!" teriak guru yang ada di lokasi kejadian.


__ADS_2