ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 25. Pembalasan Nara


__ADS_3

Seseorang meronta di atas sebuah kursi usang di dalam gudang. Derit kursi berkali-kali terdengar. Ia bergerak, ingin dilepaskan karena tangan dan kakinya dibelenggu oleh seutas tali yang menyatu dengan bangku itu.


Semakin dia mencoba, semakin memerah lah tangan dan kaki si perempuan yang terkena tali cukup kuat. Tidak terlalu banyak cahaya di sana, bau debu yang menyengat membuat si perempuan yakin jika saat ini dia sedang berada di gudang meski dia tidak bisa melihat apa-apa.


Kriieeett!


Pintu gudang itu terbuka. Sesosok perempuan dan beberapa orang di belakangnya berjalan dengan sangat anggun. Nara tersenyum melihat orang yang paling dia benci ada pada situasi yang kurang menyenangkan. Tidak, bukan kurang. Tapi sangat tidak menyenangkan.


Pria dari sisi kanan Nara berjalan ke depan, membuka ikatan kain pada mata dan mulut perempuan itu.


"Hai!" sapa Nara pada perempuan di depannya. Nara menatap sinis Sarang seraya berdecak pinggang. "Kita ketemu lagi, Sarang!"


"Bora," gumam Sarang dengan mata membulat sempurna. "Lepasin aku, Bora! Ini keterlaluan, aku bakal bilang sama Kak Myung-Soo kalau kamu itu wanita jahat. Dia enggak mungkin mau nikah sama cewek kayak kamu! Selain kejam, kamu itu enggak ada otak--!"


Plak!


Satu tamparan pelak mendarat dengan sempurna di pipi Sarang. Nara menunduk, mencengkram rahang Sarang juga menatapnya dengan tatapan tajam.


"Jahat! Kejam? Oke," kata Nara. "Aku perlihatkan, apa itu kejam dan jahat yang sesungguhnya!"


Nara menghempaskan kepala Sarang, perempuan itu mundur beberapa langkah kemudian beberapa pria maju menghampiri perempuan yang duduk terikat di atas bangku.


"Bora! Aku tidak memiliki masalah dengan mu! Kau yang selalu membuat masalah dengan ku! Lepaskan aku!" teriak Sarang tidak terima. Nara hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


Tiba-tiba, dari arah luar, Hye-In datang, membawa satu ember air, menyiramkan air itu tepat di atas kepala Sarang.


"Wuahhhh!" ucap mereka semua bersorak heboh. Para pria itu menatap lapar tubuh bagian atas Sarang yang tentunya terlihat dari balik seragam transparan yang dia kenakan.


"Ngapain kalian? Pergi! Jangan sentuh aku!" teriak perempuan itu.


"Kau takut dilecehkan tapi kau membiarkan para bajingan itu melecehkan perempuan yang tidak melakukan kesalahan apa pun. Apa kau lupa bagaimana Nara dilemparkan di hadapan teman-teman mu? Kau lupa bagaimana Nara, Hye-In dan Nayeon menderita karena ulah kalian? Harus aku jabarkan apa saja yang sudah kau lakukan, Sarang? Nikmati saja! Ini tidak akan lama!" ketus Nara dengan seringai. Ia berbalik, meninggalkan Sarang dan beberapa pria yang tengah menggerayangi tubuh perempuan itu.


"Ra! Apa ini enggak keterlaluan?" tanya Bora di samping Nara.


Perempuan itu bungkam, dia melirik ke arah pintu kemudian berjalan tanpa mau memikirkan bagaimana nasib Sarang. Sebenarnya, Nara sudah meminta orang-orang itu tidak bergerak terlalu jauh. Nara hanya ingin membuat Sarang takut agar dia tahu bahwa perbuatan yang dia lakukan itu sangat salah.


"Nara!" panggil seseorang tiba-tiba.

__ADS_1


Nara dan teman-temannya yang lain menoleh. Perempuan itu mengerutkan kening saat melihat Henry, si presiden sekolah ada di sana.


"Kenapa?" tanya Nara to the point.


Henry menarik tangan Nara, dia membawa perempuan yang tengah kebingungan itu berlari menuju mading.


"Kau terpilih sebagai icon dari Yeonwo School. Semua orang menginginkan mu untuk menjadi Dewi di sekolah ini."


Nara melirik ke arah Henry pelan, menatap pria itu dengan tatapan dalam masih penuh kebingungan. Jika dia menjadi Dewi sekolah? Itu artinya dia harus melakukan banyak kegiatan, terlebih akan terus berdampingan dengan Henry. Ini kabar baik atau kabar buruk.


"Setujui aja, Ra. Kalau kamu jadi Dewi sekolah, kamu akan lebih leluasa bergerak. Bisa memantau anak-anak bajingaan itu dan kamu juga bisa semakin terkenal, ayolah Ra. Mau ya!" bujuk Bora.


Nara masih terdiam, memperhatikan pengumuman di mading seraya berpikir keras untuk mengambil ini atau tidak.


"Ambil aja, Ra. Kamu emang pantes kok jadi Dewi sekolah. Mau ya!" ucap Hye-In meyakinkan.


"Iya Ra. Nanti kita pasti bantu kok. Ini demi nama dan popularitas kamu. Jangan sampai Sarang mengambil kesempatan ini!" Nayeon pun ikut menimpali.


Namun, masih tidak ada jawaban dari Nara. Perempuan itu diam, dan saat hatinya lebih tenang, barulah dia bersuara. "Aku akan memikirkannya," ucap Nara.


Henry dan teman-teman Nara yang lain bersorak heboh. Termasuk Bora yang berterbangan dengan riangnya. Perempuan itu melayang di udara sampai kelupaan jika ditangannya ada sebuah pita yang dia ambil dari Nara.


"Hantuuuuuu! Arghhhhhh! Hantuuuhh!"


Orang-orang itu berteriak sementara Nayeon dan Hye-In malah bersembunyi di belakang punggung Nara dan Eunhae.


"Astagaaaa ... Bora kau," kesal Nara dengan gelengan kepalanya.


....


Kepusingan Nara tidak berhenti sampai di sana. Perempuan itu kembali dibuat stres karena Myung-Soo yang tidak henti-hentinya menghubungi dia. Sampai dia pulang sekolah pun tidak terhitung berapa kali Myung-Soo menelpon.


"Wae?" ketus Nara kesal.


"Sudah pulang belum? Aku ingin melihat Hyunsik. Dimana dia?" tanya Myung-Soo di sebrang telpon.


Nara memutar bola mata. "Aku masih di jalan. Sebentar lagi baru sampai."

__ADS_1


"Akh baiklah, aku akan ke sana setelah ini!!"


Tut!


Myung-Soo memutuskan sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Nara. Perempuan itu kembali mendengus, ia tidak habis pikir, kenapa Myung-Soo menjadi sangat menyebalkan.


"Jangan sampai benci jadi cinta," bisik Bora di samping Nara.


"Berisik," kata Nara kesal.


"Maaf, Non! Saya matikan musiknya!" supir di depan Nara merasa tidak enak karena telah membuat Nara kurang nyaman.


"Astaga, Pak. Maaf, saya bukan ngomong sama Bapak. Tapi sama Kak Myung-Soo," bohong Nara seraya menunjuk ponselnya.


Sopir Nara itu mengangguk akan tetapi seperti masih ada penyesalan di wajahnya.


"Bora, kau ini~~~~!"


"Hehehe, aku enggak salah!" cengir Bora.


....


Keadaan rumah keluarga Han terlihat sangat ramai dan begitu berisik. Mereka semua tengah asik mengajak Hyunsik mengobrol padahal Hyunsik masih terlalu kecil untuk hal itu.


"Ganti baju dulu, Sayang!" titah Nyonya Han pada putrinya.


Nara pun mengangguk meski dia agak kecewa.


Tak berselang lama setelah kepergian Nara, seseorang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang.


"Wahhh ... masuk, Nak!" titah Nyonya Han.


"Terima kasih, Tante. Saya mau bertemu Bora sebentar boleh tidak?" ucapnya tergesa. Entah kenapa seperti ada kecemasan dan amarah yang dia tahan.


Nyonya Han tersenyum. "Bora ada di kamarnya! Naik aja, mungkin sebentar lagi turun!"


Myung-Soo pun mengangguk. Dia meminta izin untuk menemui Bora dan langsung melesat menaiki undakan tangga dengan tergesa.

__ADS_1


"Aku harus memastikan ini, Bora," gumam Myung-Soo seraya melirik ke arah ponselnya.


__ADS_2