
"Enggak bisa. Ini enggak bisa dibiarin. Aku enggak bakal bisa pulang kalau kayak gini terus!"
Sarang masih saja menggerutu karena dia yang mondar-mandir di toilet. Padahal ini sudah satu jam sejak dia keluar dari ballroom hotel. Bagaimana jika dia tidak bisa kembali dan harus tidur di toilet itu.
"Minho!" panggil Sarang pada seseorang di sebrang telepon. "Aku udah enggak sanggup. Gimana dong sama misi kita. Bukannya kita mau bikin si Bora malu. Mana bisa lah kalau kayak gini. Malah kita yang habis nanti."
Orang di sebrang telpon itu mengembuskan napas pelan. Sangat pelan dengan mata terpejam. Dia masih belum beranjak dari closet. Menikmati setiap kontraksi yang mendera.
"Gila kamu, Rang! Udah moncor-moncor kayak gini masih juga inget mau ngerjain si Bora. Aku nyerah lah. Ini aja masih enggak tahu bisa pulang atau enggak."
Sarang menendang pintu toilet di depannya. Untunglah itu bukan pintu toilet plastik. Jika iya, mungkin Sarang akan menjadi tontonan. Hanya saja, hal yang dilakukan Sarang itu sukses membuat seseorang dari bilik lain terkejut. Dia terperanjat tapi untungnya tidak sampai pingsan.
"Bora!" geram Sarang dengan tangan terkepal. Semakin lama, kepalan tangan itu semakin kuat dan semakin menjadi-jadi, tapi ternyata ... itu karena marah yang bercampur dengan disebabkan perutnya yang tiba-tiba meronta-ronta ingin mengeluarkan isian yang sudah usai.
__ADS_1
....
Sementara di sudut lain. Seseorang tengah menetap langit malam dari atap hotel tempatnya berpijak. Atap yang sangat indah itu didesain agak lain. Selain bentuknya yang unik, ada taman hijau asli yang sangat asri, lampu-lampu berkelip menghiasi setiap sudut taman tersebut dengan sangat apik.
Nara ... perempuan cantik yang sekarang bersarang di tubuh Bora menitikan air mata. Bayangan wajah ayahnya tiba-tiba muncul. Jika saja, saat itu ayahnya masih hidup, mungkin Nara tidak akan berakhir seperti ini. Dunia telah memaksa mereka untuk menerima keadaan. Tapi ... kenapa Nara baru merasakan kehilangan sekarang.
Perempuan itu berjongkok, menunduk seraya memegangi dadanya yang sesak dan semakin lama semakin sakit. Nara tidak tahu kenapa perasaan ini begitu menyiksa. Apa salahnya. Apa karena dia telah melupakan sang ayah? Bukan, tidak pernah satu kali pun Nara melakukan hal itu. Dia hanya terlalu sibuk menata hatinya sendiri sampai dia kehilangan banyak waktu untuk bersedih karena ayahnya. Jika boleh meminta, Nara ingin ayahnya kembali ke dalam dekapan. Memberikannya pelukan dan akan mengatakan 'ada ayah, Nak. Semuanya akan baik-baik saja.' Sayang itu hanya mimpi belaka.
"Appa!" Nara bergumam dengan linangan air mata. Semesta sepertinya juga tengah berduka, salju yang seharusnya turun lebih lambat kini mulai berjatuhan, sepoi angin malam yang sangat dingin itu membuat tubuh Nara mengigil tapi dia seperti tidak bisa merasakan hal itu.
Perempuan itu mendongak, dia menatap pria di sampingnya masih dengan mata berkaca-kaca. "Tinggal aku, Kak!" pinta Nara.
Kening Myung-Soo mengkerut, pria itu ikut berjongkok lalu memegang kedua bahu Nara, membantunya untuk berdiri tapi karena Nara terlalu lama dalam posisi berjongkok, dia hampir jatuh terhuyung.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
Suara bariton khas Myung-Soo membuat Nara merasa lebih nyaman dan lebih tenang. Perempuan itu tidak melakukan penolakan ketika Myung-Soo membawanya ke dalam dekapan.
Hangat dan sangat nyaman. Nara mengakui itu sekarang, meskipun ini tidak sehangat pelukan sang ayah, tapi Nara sangat menyukainya.
"Bisakah jangan tanyakan apa pun? Aku hanya butuh pelukan mu saja!"
Myung-Soo tersenyum kecil. Bahkan di saat seperti ini saja kalimat Nara sangat menyakitkan. Hanya butuh pelukan, tidak mau bercerita yang artinya Nara tidak benar-benar membutuhkannya.
Namun, Meksipun begitu, Myung-Soo tidak mempermasalahkannya. Asal Nara bisa merasa lebih nyaman, Myung-Soo akan baik-baik saja.
"Peluk aku sampai kau puas, Bora! Aku akan menerima itu, berikan kepercayaan mu, dan setelahnya hatimu akan kembali mengikutiku."
__ADS_1
Di ujung sana, pada ayunan kursi kayu panjang. Bora tersenyum kecil. Dia bahagia karena Nara bisa berbaik hati kepada Myung-Soo. Sakit sebenarnya, tapi ... ini adalah yang terbaik. Bora harus bisa menerimanya dengan kelapangan.
Dekapan Myung-Soo semakin lama semakin hangat dan semakin erat, Nara tersenyum. "Maafkan aku, Bora! Apakah salah jika aku mulai serakah? Bagaimana jika aku mengambil pria ini juga darimu. Bukan hanya tubuhmu, tapi orang-orang yang kau cintai akan menjadi milikku. Apa kau akan baik-baik saja? Jawab aku, Bora! Haruskah aku menghentikan semua ini agar kau tidak terluka? Aku tidak ingin menjadi antagonis untuk mu. Save me, Bora! Please!"