ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 43. Kekacauan


__ADS_3

Nara sudah memulai terbatuk - batuk ketika Henry mencoba untuk memecahkan kaca jendela di ruangan itu. Dia juga berusaha untuk mencari jalan keluar, tapi sayangnya semua itu tertutup rapat. Ini memang telah direncanakan dengan baik. Nara tidak bisa keluar dengan mudah.


"Apa kau juga tidak bisa keluar?" batin Nara berbicara kepada arwah disampingnya.


"Bisa. Tapi aku tidak mungkin membiarkan mu di sini sendirian!"


Nara mengembuskan napas di sela-sela kesulitannya dia untuk menghirup udara bersih. Arwah itu benar-benar sangat bodoh, kenapa dia tidak keluar saja. Bagaimana jika dia mati dua kali.


"Keluar dan amankan dirimu, Bora!"


"Tapi Nara--"


"Pergi atau kita akhiri hubungan kita sampai di sini!"


Bora memasang wajah sendu, arwah itu keluar dari ruangan dengan perasaan tak menentu. Sampai di luar pun, Bora tidak tinggal diam. Ia berlarian ke sana ke mari untuk mencari bantuan, tapi kepada siapa dia harus meminta tolong sedang dua orang yang bisa melihatnya ada di dalam ruangan dan terjebak di sana.


Orang-orang juga sudah mulai banyak yang pulang. Hampir semuanya telah pergi dari sekolah itu, juga guru yang tersisa pun hanya tinggal beberapa saja. Ini tidak akan baik jika terlalu lama dibiarkan, Nara akan mati di tempat itu.


Di sudut lain, Sarang, Minho dan juga teman-temannya sedang tertawa terbahak-bahak. Mereka semua bisa melihat keadaan Nara dari ponsel mereka karena sebelum kejadian itu terjadi, Sarang, Minho dan yang lainnya sudah menyimpan beberapa kamera untuk melihat seberapa tersiksanya Nara dan Henry di dalam ruang OSIS.

__ADS_1


"Mampus kamu Bora. Satu kali kamu membuat aku malu, lihat saja apa yang akan aku lakukan dengan mu! Kau tidak akan selamat, kau akan mati di tempat itu!"


Sarang tergelak cukup keras, perempuan itu sudah menjadi hilang akal. Bahkan, teman-temannya kini sudah menatapnya dengan tatapan heran. Mereka hanya berniat untuk menjahili Nara saja, kenapa Sarang malah mengatakan hal yang mengerikan, sebelumnya mereka sudah setuju jika tidak akan ada pembunuhan dalam misi yang mereka lakukan, tapi kenapa jadi seperti ini?


Di dalam ruang OSIS, Nara sudah semakin kesulitan untuk bernapas, perempuan itu kembali terbatuk. Henry yang melihat itu juga ikut panik, ia ingin mengambil kursi untuk memecahkan kaca tapi Nara sudah lebih dulu jatuh tertunduk di atas lantai.


"Henry ... kita tidak akan berhasil!"


Nara mengatakan itu karena benda-benda aneh yang terus mengeluarkan asap kembali berjatuhan dari plafon ruangan itu. Nara bukan negatif thinking, dia hanya melihat kenyataan yang sebenar-benarnya.


"No. Jangan banyak bicara! Aku akan mengeluarkan mu dari sini, Nara!"


Di luar dugaannya, seseorang di depan pintu ruang OSIS itu mulai menggebrak pintu, mendobraknya juga menghancurkan rantai yang membelenggu. Nara mendongak, menatap pintu itu dengan mata yang semakin sayu. Hingga, tak lama setelahnya pintu itu berhasil didobrak oleh beberapa orang, mereka semua langsung menutup mulut ketika melihat asap tebal memenuhi ruangan tersebut.


"Kak Myung-Soo," Nara bergumam dengan suara yang sangat lirih. Perempuan itu hampir terkapar jika Myung-Soo tidak buru-buru menahan tubuhnya, membopong perempuan itu untuk keluar dari ruangan OSIS dengan perasaan tidak menentu, dia takut, khawatir dan juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa melindungi wanitanya.


"Kakak!"


"Shhutttt! Kita ke rumah sakit sekarang, jangan katakan apa pun!"

__ADS_1


Nara hanya mengangguk, tubuhnya telah semakin lemah. Namun, mata itu sedikit memincing saat melihat seseorang yang sangat dia benci sedang menatap ke arahnya dan juga ke arah Myung-Soo dengan wajah pucat pasi.


Sudah bisa dipastikan kalau Sarang terkejut dengan kedatangan Myung-Soo yang tiba-tiba. Lengkungan bibir Nara tertarik ke atas, perempuan itu mengerakkan jemarinya kemudian dia acungkan jari tengahnya penuh niat.


"Brengsek!"


Sarang meninju udara dengan amarah luar biasa. Jangan bilang kalau ini hanya jebakan. Bagaimana jika Nara sudah merencanakan ini sejak awal.


"Habislah kau, Sarang! Kau pikir Nara bodoh!" bisik Bora di samping telinga Sarang. "Dia hanya membiarkan mu bahagia untuk sementara waktu. Jangan pikir kau pintar karena sudah membuat Nara celaka, dia seperti itu bukan karena mu, tapi karena dia ingin!"


Bora tertawa terbahak-bahak. Arwah itu bersorak heboh di antara kuping-kuping para penjahat yang baru saja menerima fakta jika mereka semua akan tumbang setelah permasalahan ini diup publik.


"Kakak!" gumam Nara lagi.


Myung-Soo tidak langsung menjawab. Pria itu masih sibuk memasangkan seat belt untuk calon istrinya dengan raut wajah khawatir.


"Maafkan aku!"


Myung-Soo mengerutkan kening. Pria itu menatap Nara dengan tatapan bingung. Apa yang ingin Nara katakan, kenapa dia meminta maaf.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Bora? Kau salah apa?"


__ADS_2