
"Eishhhhhhh! Tonton lagi di HP mu, Kak! Kau mau pakai air dingin mencret lah dia! Pakai air panas pun melepuh lidahnya! Jangan bodoh!" teriak Bora yang sudah sangat ingin memukul kepala Myung-Soo karena kebegoan pria itu. Baru tadi dia memujinya, sekarang sudah dihempaskan ke dasar jurang terdalam.
"Cuci tangan dulu!" kata Bora lagi. Hantu itu benar-benar geram saat melihat Myung-Soo sudah akan mengambil susu formula milik Hyunsik.
Bruk!
Ponsel Myung-Soo jatuh ke lantai setelah Bora menjatuhkannya. Pria itu menoleh, keningnya mengkerut, heran karena tadi dia menaruh ponsel miliknya tidak terlalu pinggir.
"Astagaaaa ... aku bisa melihat tutorialnya di internet!" Myung-Soo menepuk keningnya merasa bodoh.
"Oh, syukurlah ...!" Bora membaringkan tubuhnya di samping Hyunsik. Napasnya naik turun tak karuan layaknya manusia, padahal seharusnya dia tidak kelelahan bukan? "Papa kamu itu bodoh, Hyunsik!" ucap Bora yang menoleh ke samping dan tersenyum ke arah bayi kecil itu. "Lha ... malah ketawa. Seneng liat mommy capek kayak gini!"
Hyunsik lagi-lagi menyunggingkan senyum. Bayi mungil itu seolah bisa melihat Bora dengan jelas sehingga dia tidak bisa untuk mengabaikan mahluk di sampingnya.
Tak lama berselang, Myung-Soo datang dengan membawa sebotol susu, dia benar-benar telah handal sekarang, bukan hanya urusan, kantor, rumah, tapi mengurus bayi pun dia bisa dan sangat berpengalaman. Ya meskipun banyak drama.
Setelah membuat Hyunsik kenyang dengan susu buatannya, Myung-Soo memangku bayi itu, menelungkupkan sang bayi di dada sebelah kiri agak ke atas dekat pundak dan menepuk - nepuk punggung bayi itu agar si bayi bisa sendawa. Itulah yang Myung-Soo pelajari dari tutorial yang dia tonton. Masih agak terbata tapi Myung-Soo mudah untuk menyesuaikan diri.
"Wihhh ... printer sekali anak Papa. Udah bisa sendawa, sekarang tidur ya Sayang!" kata Myung-Soo dengan suara lembut penuh kasih sayang. Bora hanya duduk memperhatikan, lagi-lagi dia dibuat kagum karena Myung-Soo benar-benar sangat sabar.
__ADS_1
Mungkin, karena terlalu lelah, setelah membaringkan Hyunsik. Myung-Soo ikut berbaring, kemudian tertidur. Persis seperti seorang ayah yang tengah mengeloni anaknya.
Bora menatap pria itu lama. Sangat lama sampai wajahnya yang tadi penuh senyum kini mulai berubah sendu. Andai sejak dulu dia tahu kalau Myung-Soo memiliki sikap lembut seperti ini, Bora mungkin akan lebih berusaha untuk memenangkan hati calon suaminya itu.
Cup!
Satu kecupan dia daratkan pada pipi pria yang sangat dia cintai. "Maafkan aku, Kak!" ucap Bora dengan mata berkaca-kaca. "Tuhan memang tidak memberikan takdir untuk kita bersama. Maafkan aku!" lirih Bora kemudian keluar melewati pintu kamar yang sedikit terbuka.
Di atas sofa di dekat TV. Nara mengerejapkan matanya perlahan. Perempuan itu, langsung terduduk, wajahnya mendadak panik karena Hyunsik tidak ada di sana.
"Astaga. Hyunsik ke mana?" Nara melemparkan selimut sembarangan. Dia melihat ke setiap sudut tapi tidak ada siapa pun. Hanya ada makanan di atas meja. Apa Myung-Soo membawa Hyunsik pergi? Tapi ke mana?
Nara pun langsung melesat, berlari ke kamar sang anak. Langkahnya berhenti tepat di samping tempat tidur. Dia tersenyum lega saat melihat Hyunsik sudah kembali terlelap. Tatapannya beralih pada Myung-Soo yang ikut tidur di samping anaknya. Pria ini pasti sudah sangat kelelahan. Bahkan Nara melihat semua peralatan yang dipakai Myung-Soo untuk mengganti popok Hyunsik masih berserakan.
Perlahan, Nara ikut naik ke atas ranjang. Perempuan itu menarik selimut, menyelimuti Myung-Soo dan ikut berbaring menyamping dengan Hyunsik di tengah-tengah keduanya. Cukup lama Nara menatap wajah Myung-Soo, entah apa yang Nara pikirkan, tidak ada yang tahu. Dia kembali memejamkan mata kemudian tidur.
Sementara itu, di luar apartemen, terdengar suara para wanita yang ribut entah membicarakan apa. Kedua wanita itu menggedor pintu bahkan memencet bel akan tetapi tidak ada jawaban. Cukup sering bel itu berbunyi. Bora yang mendengar hal tersebut menghidupkan intercom untuk melihat siapa yang datang.
"Mama. Ibu Mertua!" ucap Bora dengan wajah paniknya.
__ADS_1
"Kita panggil bagian keamanan. Dobrak saja pintunya!" kata Nyonya Kang. Nyonya Han pun mengangguk.
Melihat hal tersebut, Bora yang panik mau tidak mau membuka pintu, masa bodoh lah, daripada kedua wanita ini harus merusak pintu, lebih baik dibukakan saja.
Kedua wanita yang sudah berbalik itu kembali menoleh karena pintu yang ingin mereka buka paksa malah merelakan diri begitu saja.
"Saya bilang juga apa. Mereka pasti ada di dalam," kata Nyonya Kang. "Saya sudah menelpon sekertaris Myung-Soo. Katanya dia udah pulang dari siang. Bora juga pasti ada di sini."
Baik Nyonya Kang maupun Nyonya Han masuk ke apartemen itu seperti tanpa beban. Keduanya saling meneriakkan nama anaknya masing-masing tapi Myung-Soo dan Bora sama sekali tidak menyahut.
"Aku cari di kamar utama. Kamu cari di kamar ke dua!" titah Nyonya Kang.
Nyonya Han pun mengangguk mengiyakan. Dia benar-benar berjalan menuju kamar Hyunsik. Baru akan membuka pintu, dan memegang handle pintu itu, Nyonya Han dibuat bingung karena handlenya macet.
"Loh, kok enggak bisa dibuka!" kata ibu Bora bingung. Dia terus mencoba sambil mendorong pintu itu tapi tetap tidak bisa. Dia tidak tahu kalau dari dalam, Bora menahan pintunya agar tidak bisa dibuka dari luar.
"Naraaaaa! Bangun woy! Ada bahaya!" teriak Bora masih berusaha menahan pintu itu. Namun, karena kekuatannya tak lebih besar dari kekuatan sang ibu, pintu itu mendorongnya sampai dia jatuh tersungkur ke lantai.
"Bora, apa kau ada si sini. Mama--- Boraaaaa!" teriak Nyonya Han begitu melihat anaknya sedang tidur dengan Myung-Soo.
__ADS_1
Yang membuatnya heran bukan itu, melainkan tangan mungil yang menyumbul keluar di tengah-tengah anak dan calon menantunya.