
Nara yang telah berganti pakaian berdecak pinggang ditengah lapangan. Kali ini mereka tengah praktek untuk bermain bola sepak. Namun, yang membuat Nara sangat ingin tertawa adalah kelakuan Bora. Arwah itu dengan lantangnya mengatakan kalau dia ingin diikutsertakan dalam praktek olahraga tersebut.
"Ayok!" kata Bora, arwah itu ternyata telah ada di bawah kaki Nara yang akan melakukan tendangan penalti.
"Ishhhh ...." Nara pun bersiap-siap sehingga atensi semua orang tertuju padanya. Perempuan itu mundur beberapa langkah, dan beberapa detik kemudian .....
Buk!
Swing!!!!
Bola itu melesat dengan cepat menuju gawang. Semua orang yang ada di sana dibuat ternganga. Pasalnya tendangan itu dilakukan dari jarak yang cukup jauh, tapi progres bola yang akan masuk ke gawang sangatlah cantik.
Wushh!
Bora yang terbang membawa bola itu masuk ke dalam gawang.
"Golllll!" teriak semua orang dengan hebohnya. Teman-teman Bora memeluk Nara, berjingkrak bersama begitu pun dengan Bora. Arwah itu tak henti-hentinya tertawa saat melihat betapa dongkolnya para lawan mereka saat itu.
"Ikh keren abis! Gak nyangka lho aku. Selain pinter dalam hal akademik, Bora juga jago di olahraga. Hebat sih! Keren!" puji semua orang. Nara dan Bora saling menatap. Hantu itu telah membantu Nara mencetak 20 gol dalam waktu 45 menit. Ngabrut sangat bukan? Hanya dalam satu babak, Nara dan Bora bisa membobol gawang lawan sebanyak itu. Apalagi jika dua babak. Habislah mental para lawan dibuatnya.
__ADS_1
Di ujung sana, Minho melihat kejadian itu tanpa berkedip. Bibirnya menyunggingkan senyum, Minho merasa ada yang lain dari sosok Nara. Selain cantik, perempuan itu juga tidak kecentilan. Malah, cenderung tidak perduli dengan hal-hal seperti itu. Tidak ada kata jaim, dan itu semua membuat Nara terlihat berbeda dari para gadis yang lain.
"Cari tahu latar belakang pria itu, Manse!" titah Myung-Soo pada asistennya. Mata Myung-Soo memincing melihat Minho yang sedang mengamati calon istrinya. Sebagai seorang pria, tanpa menanyakan apa pun, Myung-Soo tahu kalau Minho memiliki tatapan lebih untuk istri cantiknya itu.
Manse yang mengerti hal itu pun mengangguk. Dia selalu bekerja dengan cepat, dan kali ini tentu akan semakin cepat karena latar belakang orang yang ingin dia ketahui adalah orang biasa yang masih bau kencur pula.
"Ra! Itu bukannya calon suami kamu?" tanya Eunhae menujuk ke arah Myung-Soo dengan dagunya.
Tepat ketika Nara dan Bora menoleh, Nara tersenyum sedangkan Bora melambaikan tangan.
"Cieeee ... witwiww! Udah, temuin dulu Oppa nya! Jangan sampai diembat cewek lain!" Hye-In mengingatkan. Eunhae pun menganggukki hal tersebut. Ia mendorong punggung Nara membuat perempuan itu berlari kecil ke sisi lapangan.
Myung-Soo tersenyum, pria itu mengambilkan handuk kecil dan air dari tangan Manse, memberikan handuk itu kepada Nara kemudian menyodorkan botol air yang telah dia buka.
"Aku suka permainan bola mu!"
Uhukkk!
Nara tiba-tiba terbatuk cukup kencang. Ia menoleh ke arah Bora yang sejak tadi berdiri di samping Myung-Soo sambil merangkul lengan pria itu. Senyum kikiuk tersungging di bibir Nara. Myung-Soo tidak tahu saja kalau di masa lalu, nilai praktek olahraganya selalu yang paling jelek diantara murid-murid lain.
__ADS_1
"Hati-hati!"
Myung-Soo mengucapkan itu sambil mengusap puncak kepala calon istrinya.
Semakin riuhlah pekikan para gadis di lapangan itu. Tapi Myung-Soo seperti tidak perduli malah terkesan sengaja melakukan itu untuk menunjukkan kepemilikannya atas Nara.
Nara dan Myung-Soo saling bertemu tatap. Kedua orang itu seperti terhanyut dalam pikirannya masing-masing. Nara sesekali melirik ke arah Bora. Jika Bora masih hidup, dialah yang akan merasakan dan menerima ini semua 'kan? Arwah itu sangat baik karena mau membantunya untuk merasakan sesuatu yang tidak terbayang. Nara sangat bersyukur akan hal itu.
"Kak ... apa masih ada urusan di sini?" tanya Nara basa-basi.
Myung-Soo mengangguk. "Aku sudah lihat berita di televisi. Guru kamu itu, ah tidak. Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Dan satu lagi, hari ini Sarang tidak masuk sekolah karena masih sakit!"
Seketika senyum di bibir Nara lenyap begitu saja. Mendengar Myung-Soo menyebutkan nama Sarang tanpa beban yang mana hal tersebut menimbulkan banyak pertanyaan dari benaknya.
"Apa kau tidak tahu bagaimana aku kesakitan saat tubuhku dipenuhi luka lebam bahkan lecet dan semua persendian ku sakit? Ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan apa yang sering Sarang lakukan padaku di masa lalu."
Rangkulan tangan Bora pada lengan Myung-Soo arwah itu lepaskan. Dia menatap sendu mata Nara yang berkaca-kaca seperti akan menangis.
"Hei. Are au oke?" tanya Myung-Soo. Pria itu ingin menyentuh bahu Nara akan tetapi Nara menjauh dengan senyum yang sulit untuk diartikan.
__ADS_1
"Sarang mungkin adalah keluarga mu. Tapi dengan itu aku malah lebih senang. Balas dendam ini semakin menyenangkan!"