
Nara dan Myung-Soo langsung terperanjat saat mendengar lengkingan suara wanita di kamar itu. Baik Nara maupun Myung-Soo menggeser tubuh mereka, duduk berdampingan dengan maksud ingin menyembunyikan Hyunsik dari semua orang.
"Ma~~," gumam Nara dengan wajah pucat pasi.
Tak lama berselang, wanita lain muncul yang mana dia adalah ibunya Myung-Soo, Nyonya Kang.
"Ada apa?" tanyanya bingung karena melihat calon besannya sudah sangat marah.
"Nyonya, Kang. Kenapa tidak bilang kalau Myung-Soo sudah memiliki bayi. Kau lihatlah, di belakang mereka ada mahluk kecil, dan lihat tempat ini. Semuanya penuh dengan peralatan bayi."
Nyonya Kang mengitari kamar itu dengan seksama. Benar aja, banyak sekali barang-barang keperluan bayi baru lahir. Sejak kapan ini ada si sini. Nyonya Kang masih ingat betul kalau saat terakhir dia berkunjung, tidak ada apa pun di sini.
"Kang Myung-Soo!" geram Nyonya Kang dengan tanduk di kedua sisi kepalanya. Wanita paruh baya itu langsung menghampiri sang anak, dan ....
Plak!
Satu tamparan pelak mendarat di pipi putra tunggal kesayangannya. Napas Nyonya Kang memburu, dadanya naik turun memikirkan betapa kurang ajarnya Myung-Soo saat ini.
"Eomma ... Eomma salah paham. Ini bukan anak Myung-Soo. Jangan marah dulu!"
Nara dan Bora meringis membayangkan betapa sakitnya tamparan yang diberikan oleh Nyonya Kang. Lagipula, ada apa dengan para wanita ini, kenapa mereka malah membuat kesimpulan sendiri tanpa menanyakan fakta yang terjadi.
__ADS_1
"Bora!" pekik Nyonya Han. "Pulang, kita batalkan saja perjodohannya!"
Nara meringis mendengar hal tersebut, habislah dia. Jika Nara yang mengambil keputusan, mungkin dia akan sangat senang, tapi bagaimana dengan Bora? Dia telah memiliki janji pada hantu itu.
"Tante tunggu, ini benar-benar bukan anak saya dengan wanita lain. Ini anak kami!"
"What?!!!" pekik semua orang tidak percaya. Tatapan mereka hanya tertuju kepada Myung-Soo.
Sadar kalau dia telah salah bicara, Myung-Soo mengibaskan tangan untuk mengklarifikasi. "Maksudnya, Hyunsik adalah bayi temannya Bora, ibu Hyunsik sudah meninggal, jadi Bora ingin membantu merawatnya ... ... ....
Myung-Soo menjelaskan panjang lebar, sejauh apa yang dia tahu, dia mengatakan itu semua kepada Nyonya Han. Dia juga menyenggol lengan Nara meminta Nara untuk menjelaskan semuanya. Awalnya Nara ingin menolak, tapi karena tidak ingin semua masalahnya menjadi sangat rumit, Nara memberanikan diri untuk memberitahu apa yang telah dia alami sampai melahirkan anak itu dan berakhir meninggal dunia.
Tidak ada yang tidak menitikkan air mata. Bahkan Bora saja sampai meringkuk di pojok kamar, menangis sesenggukan. Dia benar-benar tidak pernah berfikir kalau semuanya akan sangat semenyedihkan itu. Yang dia tahu Nara hanya diruda paksa oleh seseorang. Tapi ternyata, yang melakukan itu bukan hanya satu orang saja.
Nyonya Han menyingkirkan Nara dan Myung-Soo dari atas ranjang itu, dia memangku Hyunsik kemudian mendekapnya erat. "Ya Tuhan ... anak sekecil ini harus menerima nasib yang sangat malang. Orang yang paling kamu butuhkan adalah Ibu kamu, tapi sekarang dia udah enggak ada. Bagiamana kamu akan menghadapi dunia, Nak?"
Nyonya Kang ikut teriris mendengar tangisan Nyonya Han. Wanita itu memeluk Myung-Soo, menangis dalam dekapan sang anak dengan tangisan yang sangat memilukan. Dia salut kepada orang yang mempertahankan bayi ini meskipun dia hidup dalam kekurangan. Nyonya Kang yang bergelimang harta saja belum yakin kalau dia bisa mengambil keputusan seberat itu.
Sepasang anak manusia itu saling menatap, Nara tersenyum meski senyumnya sangat menyakitkan di mata Myung-Soo. Entah kenapa, Myung-Soo merasa jika calon istrinya itu seperti tengah menceritakan dirinya sendiri, bukan orang lain. Ada kepahitan, ketakutan, rasa sakit, dendam, dan juga kasih sayang yang amat sangat dalam di sana.
Meskipun calon isterinya seperti ini karena ikut merasakan kepedihan sahabatnya, agaknya tidak mungkin. Ekspresi Nara sama sekali tidak seperti itu. Dia benar-benar seperti mengalami semua hal yang tadi dia katakan.
__ADS_1
"Gini, aja. Kalian pasti sibuk dengan pekerjaan kalian masing-masing. Myung-Soo harus mengurus perusahaan. Bora juga harus sekolah," kata Nyonya Han. "Hyunsik biar saya aja yang rawat!"
"No!" kata Nyonya Kang. Dia melepaskan pelukannya kemudian mendorong Myung-Soo untuk menjauh. "Hyunsik akan tinggal bersama saya. Saya yang akan merawatnya."
"Hah ... ini anak teman anak saya. Jadi saya yang berhak ngambil dia!"
"Eitsssss ... tapi lihat, dia sudah tinggal bersama anak saya. Di apartemen anak saya. Dan semua peralatan ini, pasti Myung-Soo yang beli. Jadi, biarkan dia tinggal bersama saya."
"No. Saya yang akan merawatnya."
"Enggak bisa. Saya aja."
Myung-Soo dan Nara saling menatap satu sama lain, keduanya sama-sama mengembuskan napas berat.
"Kenapa jadi kayak gini," gumam Myung-Soo dan Nara bersamaan.
"Enggak bisa! Saya yang harus jadi neneknya."
"Saya bilang saya."
"Saya!"
__ADS_1
"Saya aja."