
Nara menatap pria di depannya dengan mata memincing. Seenak jidatnya Minho meminta maaf setelah apa yang dia lakukan? Apakah Minho lupa ketika dengan kejamnya dia meruda paksa dirinya padahal saat itu Nara sudah memohon untuk dilepaskan. Bahkan, setelah kejadian itu, Minho masih terus mengganggu dan menyiksanya. Apakah orang seperti ini masih harus dimaafkan?
"Dengar Minho! Jika kami memaafkan orang seperti mu, apakah rasa sakit yang kami terima akan sirna? Jika kami memberimu maaf, apakah semuanya akan kembali normal, luka yang kau torehkan tidak akan pernah terhapuskan. Semuanya sudah menjadi seperti ini, kenapa kau malah meminta maaf? Kau ingin aku mendengarkan rengekan mu?"
Minho terdiam. Begitupun orang-orang yang ada di sana. Sebagian besar mereka yang pernah dirundung oleh Minho tidak bisa mengangkat kepala. Mereka terlalu sedih, malu, marah dan banyak sekali hal yang tidak bisa mereka ungkapkan.
"Kau lihat! Mereka yang pernah menjadi korban mu sampai tidak bisa mengangkat kepalanya! Lihat itu baik-baik Minho!" Nara menggeram di sisi telinga pria itu.
Mata Nara menyala, perempuan itu ingin meledakkan semua amarahnya tapi hanya sebagian yang bisa dia keluarkan. Masalah Minho, dirinya dan juga semua teman-temannya, Nara benar-benar dibuat kecewa karena hal itu. Sudah cukup baginya untuk menunggu. Sudah cukup baginya untuk menahan segala amarah. Nara tidak ingin menahannya lagi.
"Jika kau ingat. Ada salah satu murid perempuan yang kau perkosa sampai dia hamil dan melahirkan. Sekarang dia sudah meninggal Minho!"
Nara mundur perlahan setelah mengucapkan hal itu. Senyum menyeringai muncul di bibirnya, Nara menatap Minho dengan tajam.
Sementara orang itu, Minho terlihat begitu terkejut, dia terbelalak dengan mulut yang tidak bisa terkatup rapat.
__ADS_1
"Tidak mungkin. Kau pasti berbohong," elak Minho tidak menerima fakta yang diberikan oleh Nara.
"Terserah dengan mu saja, Minho. Aku tidak perduli dengan mu. Mau percaya atau tidak, itu adalah faktanya. Dan kau akan menerima hukuman mu, tidak lama lagi."
Nara menarik tangan Henry untuk meninggalkan lapangan. Perempuan itu tak satu kali pun melirik ke arah Henry. Dia hanya fokus pada jalan dan juga ponselnya.
"Halo ... iya, lakukan sekarang!"
Nara tersenyum evil setelah mengatakan itu. Namun, sesaat setelah mereka hampir sampai di gedung kelas, Nara menoleh kemudian menunduk. Perempuan itu langsung menghempaskan tangan Henry. Nara tidak sengaja melakukan itu. Semuanya terjadi begitu saja.
Henry hanya tersenyum. "Nara."
"Hmmm. Kenapa?"
Bagai adegan slow motion darma, kedua orang itu cukup lama bertatapan. Mereka seperti tidak sadar jika saat ini bukan hanya mereka yang ada di sana, melainkan banyak siswa lain. Dan yang lebih parahnya, Bora tengah berdiri diantara mereka berdua, memangku tangan di depan dada dengan kedua matanya yang menatap sengit ke arah Nara dan Henry.
__ADS_1
"Cukup ya Nara. Jangan sampai kau berselingkuh dengan pria ini!" Bora menarik Henry untuk menjauh dari tubuhnya.
"Dan kau!" tunjuk Bora pada Minho, tepat di depan wajah pria itu. "Jangan sentuh tubuhku, Henry. Meskipun hanya seujung kuku, aku tidak akan rela."
Bora melengos meninggalkan Nara dan Henry. Arwah itu sangat kesal. Nara sudah berjanji untuk tidak berselingkuh dari Myung-Soo, tapi ini apa. Nara malah bertatapan dengan pria lain. Dan itu adalah Henry.
"Nanti kita lanjut lagi ya. Bora marah sama aku. Masalah Minho, aku sudah meminta teman-teman untuk merepost semua video kejahatan yang dia lakukan. Dia harus menerima balasan dari perbuatannya."
"Nar---"
Kalimat Henry tergantung begitu saja saat Nara pergi meninggalkannya. Dia tidak sedang meminta Nara untuk melakukan apa-apa. Hanya ingin menanyakan kondisi perempuan itu. Henry tahu betul, wanita hamil yang dibicarakan oleh Nara tadi adalah dirinya sendiri.
.....
Kedua orang itu duduk di tepian atap sekolah. Membiarkan semilir angin menerbangkan rambut mereka dengan indahnya. Nara tersenyum, tidak melirik ke arah Bora sama sekali.
__ADS_1
"Aku tidak akan mengingkari janji. Jika kau ingin aku tetap berada di samping Kak Myung-Soo, aku akan tetap melakukannya. Jangan cemburu. Kau marah bukan karena Kak Myung-Soo, tapi karena Henry bukan?"