ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 14. Calon Istri


__ADS_3

Nara dan Miseo langsung menoleh ke arah sumber suara. Dua perempuan itu menunjukan ekspresi yang berbeda saat melihat Myung-Soo berdiri di depan mereka, Nara dengan wajah kesalnya, sementara Miseo dengan senyum lebar.


Miseo dan Myung-Soo mungkin hampir seumuran, hanya beda satu tahun karena Myung-Soo lahir lebih dulu. Ketampanan Myung-Soo, dan juga kekayaan juga wibawa yang dimilikinya membuat semua perempuan mudah untuk jatuh cinta padanya, termasuk Miseo, hanya saja, Miseo tidak bisa menunjukan apa yang hatinya rasakan karena dia cukup sadar diri dengan perbedaan status yang dia miliki dan juga yang dimiliki Myung-Soo. Sebaik apa pun pendidikan Miseo, itu sama sekali tidak akan pernah bisa dibandingkan dengan kekayaan milik keluarga pria itu. Akan sangat sulit untuk masuk ke keluarga Kang jika kamu tidak memiliki latar belakang yang mendukung.


"Kenapa, Kak?" tanya Nara menatap Myung-Soo lekat.


"Kenapa malah bertanya? Bukannya tadi guru manggil aku untuk ketemu? Masuklah?" titah Myung-Soo akan tetapi Miseo melarangnya. Perempuan itu dengan tegas menahan Myung-Soo untuk masuk ke ruang guru.


"Maaf, Tuan Myung-Soo. Sarang sudah diwalikan kepada saya. Jadi Tuan tidak perlu memenuhi panggilan guru!"


Nara mengerutkan kening dengan mulut yang berusaha untuk menahan senyum. "Ikh, bego," gumam Nara menggelengkan kepalanya.


"Bora~," panggil Myung-Soo karena mendengar hal tersebut. Nara hanya mengangkat kedua bahunya acuh.


"Saya ke sini sebagai wali calon istri saya, bukan untuk sepupu saya!"


Miseo terbatuk setelah kalimat itu keluar dari mulut Myung-Soo, dia benar-benar dibuat terkejut karena pengakuan Myung-Soo yang sangat tiba-tiba. Myung-Soo akan menikah? Dengan gadis bau kencur? Hancurlah hati para perempuan yang menyukai pria ini, termasuk hatinya.


"Oh my God, kapan hari patah hati nasional itu akan datang, ini benar-benar tidak masuk akal!"


Myung-Soo menarik tangan Nara kemudian masuk ke kantor guru. Setelah memberikan salam hormat untuk orang-orang yang ada di sana, kepala sekolah malah dibuat ternganga lantaran orang yang saat ini ada di depannya adalah orang yang sangat dia kenal.


"Tuan Muda, Kang. Kenapa Anda kemari?" tanya kepala sekolah Park kepada Myung-Soo. Myung-Soo adalah anak konglomerat di kota itu, siapa yang tidak tahu pada keluarga besar Kang yang memiliki bisnis raksasa. Tapi bukan itu yang menjadikan namanya dikenal banyak orang.

__ADS_1


Keluarga Kang terkenal karena keramahan dan juga kebaikannya. Nama keluarga kaya itu kerap kali ada dalam daftar donatur tertentu, seperti donatur untuk rumah sakit kanker khusus anak. Sekolah swasta, dan masih banyak lagi. Yeonwo School juga pernah menerima bantuan dari perusahaan keluarga Myung-Soo saat sekolah itu hampir tutup karena ada hal-hal yang membuat Yeonwo School terancam bangkrut.


Orang-orang yang ada di sana dibuat terheran bukan main. Kepala sekolah yang tadinya sudah menggebu-gebu ingin marah malah terlihat sangat sumringah, terlebih sikapnya yang merendah kepada Myung-Soo, seperti bukan sifat asli kepala sekolah saja.


"Silahkan duduk!" kata Pak Park. Myung-Soo menarik tangan Nara sehingga Pak Park menjadi sangat yakin kalau ada sesuatu diantara Myung-Soo dan Nara.


"Kak Myung-Soo," gumam Sarang. Dia ingin menyapa pria itu akan tetapi guru BK melarangnya.


"Kau tidak sadar kalau tubuh mu itu bau? Jangan merusak mood kepala sekolah jika tidak ingin dikeluarkan dari sini!"


Sarang berdecih pelan, perempuan itu komat Kamit tapi juga tidak bisa melawan. Sarang sebenarnya senang karena Myung-Soo datang, dia berpikir jika kedatangan pria itu adalah untuknya, akan tetapi, Sarang tentu saja salah besar karena Myung-Soo sudah memiliki hal yang lebih penting daripada mengurusnya.


"Eummm ... Tuan Kang ini wali nya siapa?" tanya Pak Park masih berusaha memastikan karena tidak ingin salah paham. "Bora adeknya ya?"


Hal tersebut membuat Nara tertawa kecil dalam hatinya, sudut bibirnya sedikit terangkat dan dia berbisik si samping telinga Myung-Soo. "Om-om enggak tuh!"


"What!" pekik semua orang termasuk Sarang dan teman-temannya. Jangan lupakan ekspresi tidak percaya Henry karena pria itu benar-benar tidak menyangka kalau Nara telah memiliki calon suaminya di usianya yang masih sangat muda.


Nara mencubit pelan perut Myung-Soo. Seharusnya Myung-Soo mengaku sebagai kakaknya saja. Kenapa malah jadi seperti ini. Apa pria ini benar-benar sudah mau go publik?


Para wali dari anak-anak lain pun ikut tercengang, mereka sampai mencari tahu, siapa itu Kang Myung-Soo. Dan saat semuanya mengetahui hal tersebut, barulah mereka mengangguk mengerti. Kedua orang ini mungkin dijodohkan sejak kecil dan mereka tidak bisa menolak perjodohan tersebut.


....

__ADS_1


Setelah masalah selesai. Myung-Soo meminta izin kepada guru agar Nara bisa pulang lebih dulu. Namun, saat di depan mobil, tiba-tiba seseorang berjalan mendekat dan berteriak ke arah mereka.


"Kak!" panggil Sarang.


Nara langsung menjauh seraya menutup hidung. Dia benar-benar tidak tahan saat mencium bau tubuh Sarang.


"Kenapa? Bukankah kau sudah di jemput sekertaris ibumu? Kenapa kemari?"


Sarang menggelengkan kepalanya. "Kakak. Kakak bilang Kakak mau nikah sama Bora 'kan?"


Myung-Soo melirik ke arah Nara sekilas kemudian mengangguk.


"Kak. Jangan nikah sama Bora. Bora itu jahat. Kakak lihat apa yang dia dan teman-temannya lakukan sama Sarang? Lihatlah! Ini semua karena dia, Kak. Dia bukan cewek baik-baik. Enggak usah nikah sama dia!"


Nara hanya mengembuskan napas kesal. Karena tidak ingin mendengar apa pun, dia lebih memilih untuk membuka pintu mobil, Nara hendak masuk ke sana, tapi tiba-tiba tubuhnya terhuyung.


"Akhhh!" Nara refleks memegangi kepalanya. Perempuan itu meringis dan hampir terjatuh.


"Bora!" pekik Myung-Soo merasa khawatir. Syukurlah dia dengan cepat menahan tubuh Nara jadi calon istrinya itu tidak sampai jatuh ke bawah.


Dengan segala kegelisahan dan juga ketakutan disentuh lawan jenis, Nara mencoba untuk melawan itu semua. Dia memeluk leher Myung-Soo dan beralih menatap Sarang. Ringisan dari wajahnya tiba-tiba menghilang, Nara menarik ujung bibirnya kemudian mengacungkan jari tengah kepada perempuan di depannya.


"You lost!" gumam Nara tanpa suara.

__ADS_1


"Shi**!" Sarang mengepalkan kedua tangan saat mendapat penghinaan seperti itu dari Nara.


"Kau lihat saja, Bora! Aku akan pastikan kalau Kak Myung-Soo tidak akan jadi menikah denganmu!"


__ADS_2