
Myung-Soo masih tidak habis pikir kenapa Bora sangat-sangat membingungkan. Tingkah nya semakin aneh dan tidak masuk akal. Semakin lama Myung-Soo lebih sering melihat Bora berbicara sendiri. Ya, Bora mengelak tapi perempuan itu tidak berbicara pada siapa pun, artinya dia memang mengoceh sendiri 'kan?
"Makan yang banyak!" titah Myung-Soo menaruh lauk pauk di atas mangkuk Nara.
Perempuan itu menerima dengan senang hati tanpa tahu alasan dibalik semuanya. Yups, Myung-Soo lebih bertekad untuk menjaga Nara karena dia pikir kalau gadis ini mulai tidak waras.
"Kak!"
"Hmmm!"
"Kau yakin bukan kalau Suster Jung itu bisa mengurus Hyunsik?"
Myung-Soo memutar bola matanya kesal. Jujur saja, dia lebih mempercayai Suster Jung daripada calon istrinya itu. "Habiskan makanan mu, aku akan mengantar mu pulang!"
"Enggak bisa ya kalau aku nginep di sini, biar bisa jagain Hyunsik?"
Kedua mata Myung-Soo terpejam, dia tidak tahu harus marah atau bagaimana, "Jangan membuat masalah dengan keluarga. Pulang, dan belajar dengan giat. Hyunsik aman. Pulang sekolah datanglah lagi. Aku akan memberikan sandi apartemennya padamu."
Nara menipiskan bibir, tapi Bora. Hantu itu masih terpaku, menatap Myung-Soo seraya menopang dagu dengan kedua tangannya. Mata gadis itu berbinar, sangat-sangat menunjukan jika Bora benar-benar menyukai Myung-Soo.
"Hmmm ... jika aku diberi kesempatan untuk hidup, aku benar-benar ingin memeluknya dan mengatakan kalau aku mencintainya, Ra."
Nara berdecih pelan. "Jangan percaya pada wajah tampannya. Dia tetaplah laki-laki yang pada kenyataannya adalah manusia brengsek." Nara membatin yang mana itu terdengar oleh hantu di sampingnya.
"Aku bersumpah, kau akan jatuh cinta pada Myung-Soo Oppa ku. Lihat saja nanti," ucap Bora dengan keteguhan hatinya. Nara hanya mengangkat kedua bahunya acuh. Semakin lama ikatan di antara mereka semakin kuat dan itu menjadikan keduanya bisa mendengar dan membaca hati serta pikiran satu sama lain.
Nara menatap anak kecil dalam gendongan suster Jung. Perempuan itu mengecup Hyunsik sekilas kemudian pamit kepada pengasuh anaknya itu dan segera keluar dari apartemen. Dia sebenarnya tidak rela kalau harus berpisah dengan Hyunsik, tapi ya mau bagaimana, tidak ada pilihan lain lagi.
Setelah sampai di depan rumah, Nara tidak langsung keluar. Perempuan itu diam di jok mobil Myung-Soo seraya menetap lurus ke depan.
"Kak!"
"Hmmm!"
"Aku dengar, Sarang itu adalah adik sepupu mu, apa itu benar?"
__ADS_1
Myung-Soo mengangguk, "Kenapa?"
"Aku hanya ingin mengatakan jika aku tidak menyukai perangainya. Kami memiliki permasalahan yang tidak bisa dijelaskan. Apa pun yang terjadi pada kami nantinya, jangan pernah ikut campur!"
"Kenapa memangnya? Apa permasalahan kalian sepelik itu?" tanya Myung-Soo penasaran.
Nara hanya menarik ujung bibirnya. "Tidak ada yang harus aku jelaskan. Pulanglah!"
Tanpa mengucapkan terima kasih, Nara keluar dari mobil Myung-Soo dengan wajah tanpa dosanya. Gadis itu sama sekali tidak menoleh atau berbalik untuk menunggu kepergian calon suaminya.
"Mama!" pekik Nara dan langsung memeluk Yuri.
"Eishhhhhh ... sudah makan? Myung-Soo mana?" tanya Yuri karena calon menantunya itu tidak ikut masuk ke rumah.
Nara menggelengkan kepala. "Kak Myung-Soo lagi buru-buru, Ma. Katanya sakit perut, kebelet!" Jawaban asal yang Nara katakan membuat Yuri terheran-heran. Alasan ini terlalu tidak masuk akal.
"Ma," panggil Nara. Tangan kirinya menggandeng lengan Yuri dan menuntun mamanya itu untuk masuk ke dalam rumah.
"Ada apa, Sayang?"
Nara tersenyum. "Mulai sekarang, pulang sekolah, Bora ke apartemen Kak Myung-Soo. Tapi Mama tenang aja, Bora bisa jaga diri kok."
....
Yeonwo School masih terlihat sama. Tidak ada yang berubah, anak-anak di sana banyak yang menjalankan aktivitas tanpa hambatan, tapi ... Nara tahu, ini tidak berlaku untuk anak-anak yang mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan. Jerit keputusasaan itu mungkin tidak terdengar oleh orang lain. Namun, bagi Nara, semuanya tergambar dan terdengar dengan sangat jelas.
"Ini cardigan milikmu, maafkan aku dan terima kasih."
Nara terbengong saat tiba-tiba seseorang menyerahkan cardigan tempo hari padanya. Nara tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mengambil itu karena gadis yang sempat dia tolong pun malah melengos begitu saja.
"Jangan dipikirkan, sekarang kita fokus pada misi kita." Lagi-lagi Nara dibuat terkejut. Bukan karena Bora atau gadis tadi, melainkan teman barunya. Eunhae.
"Kau melakukan apa yang aku minta bukan?"
Eunhae mengangguk.
__ADS_1
"Asal ada uang, semuanya akan berjalan lancar."
Nara tersenyum miring. Menatap sekolah itu dengan smirk. Dia sudah tidak sabar ingin melihat kehancuran untuk orang-orang itu. Mereka semua harus merasakan apa yang telah dia rasakan.
"Kita ke kelas dulu," kata Nara lantas pergi beriringan bersama dengan Eunhae dan Bora. Hantu itu benar-benar menjadi pengikut Nara, tidak bisa lepas meskipun hanya sebentar.
"Morning anak - anak!" sapa guru wanita kepada murid-muridnya.
Semua orang yang ada di sama menyapa guru mereka tak terkecuali Minho. Pria itu tidak menyadari, jika dari sudut lain, seseorang tengah memperhatikannya dengan mata evil.
"Hari ini saya mau mengadakan kuis. Bagi yang mendapatkan nilai tinggi, saya pastikan jika orang-orang itu tidak akan mengalami masalah selama ujian."
Banyak anak-anak itu mendesah berat. Mereka tidak melakukan persiapan apa pun. Jika tiba-tiba harus mengikuti kuis, mereka benar-benar akan menjadi pecundang.
Namun, tidak untuk Nara. Gadis itu terlihat sangat senang, meski tidak tersenyum, binar di wajahnya tidak bisa menyembunyikan apa pun.
Satu jam lebih mereka mengadakan kuis tersebut, dan hanya beberapa orang saja yang baru menyerahkan kertas soal dan jawaban mereka ke meja guru, Nara termasuk yang tercepat. Gadis ini memang selalu unggul dalam pelajaran. Sehingga anak-anak orang kaya itu tidak mungkin bisa mengejar.
"Baiklah ... sudah waktunya untuk istirahat. Yang belum menyelesaikan tugas, selesaikan lalu kumpulkan ke meja saya!"
"Baik, Pak!"
Nara tersenyum setelah guru matematikanya pergi. Gadis itu melirik ke arah Eunhae, ia memberikan isyarat pada gadis itu untuk segera keluar dengannya.
"Mampus kamu. Pensilnya aku ambil!" Bora berjingkrak heboh setelah mengambil pensil milik Minho and the geng. Hantu itu tertawa terbahak-bahak ketika Minho, Sarang dan temannya yang lain kebingungan mencari pensil yang tadi sedang mereka gunakan.
"Dasar jahil," gumam Nara yang mana hal tersebut terdengar oleh Eunhae.
"Siapa?" tanya Eunhae tiba-tiba.
Nara gelagapan. Dia mengibaskan tangannya di depan Eunhae lantas mempercepat langkahnya agar mereka bisa segera sampai di tempat tujuan.
Gudang sekolah yang ada di gedung paling belakang. Disinilah Nara, Eunhae dan Bora menghentikan langkahnya.
"Ra. Aku takut, Ra!" ucap Bora yang sedang bersembunyi di belakang punggung Nara.
__ADS_1
"Kamu hantu, takut sama hantu lain atau takut mati dua kali. Jangan bodoh!" batin Nara menggerutu.
Bora mengerucutkan bibirnya kesal. Ia baru akan berbicara, akan tetapi derap langkah dari arah pintu membuat mereka semua menoleh bersamaan. Senyum sinis kembali tersungging di bibir Nara, gadis itu menipiskan bibir seraya berpangku tangan dan menatap orang-orang di depannya penuh arti.