ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 12. Kelakuan Minho CS


__ADS_3

Lagi-lagi suara pukulan-pukulan dan gelak tawa terdengar dari arah tempat pembakaran sampah. Seseorang dengan geramnya menarik rambut seorang gadis yang tengah berlutut sehingga kepalanya mendongak. Tak berhenti sampai di situ, sebuah tamparan juga mendarat di pipinya sehingga dia tersungkur akan tetapi Minho tarik lagi rambutnya dan gadis itu kembali duduk dengan kepala tertunduk.


"Yakkkk! Kau sudah berani menolak perintah kami, hah? Kenapa? Karena kemarin ada yang menolong mu? Cih ... rasakan ini!" Sarang menerjang kembali gadis itu.


Plakkk!


Satu tamparan lagi Sarang layangkan. Kini Minho hanya memperhatikan kejadian itu seraya menyesap tembakau yang terselip di jemarinya.


"Dengar Hye-in. Jika kau menganggap Nara sebagai ibu peri mu, kau salah! Dia itu hanya pecundang. Jal*ng yang bersembunyi dibalik kecantikannya."


Prok! Prok! Prok!


Terdengar suara tepuk tangan dari arah lain. Dua perempuan yang dibelakangnya diikuti oleh beberapa pria bertubuh tinggi tegap tengah berjalan mendekati Sarang dan teman-temannya. Seringai jelas nampak dari wajah Nara. Ya, Nara dan Eunhae menatap Sarang dengan tatapan merendahkan. Jangan lupakan Bora yang juga ikut melotot seraya berdecak pinggang.


"Jadi, kalau orang seperti ku, j*lang. Kau sendiri apa? Bukankah kasta mu dalam hal seperti ini lebih tinggi?" Nara tersenyum meremehkan.


"Ck." Sarang berdecih seraya berdecak pinggang. Gadis itu menatap Nara dengan tatapan horor akan tetapi herannya dia malah kembali menjambak rambut Hye-In dan menginjak kakinya.


Srakkk!


Seperkian detik berikutnya Nara pun ikut menarik rambut Sarang.


Gadis itu mendelik, kepalanya mendongak, akhirnya jambakkan Sarang pada rambut Hye-In dia lepaskan. Kedua tangannya mencengkram tangan Nara dengan kuat, Sarang berusaha untuk melepaskan tangan Nara, akan tetapi tidak bisa.


"Apa?" sarkas Nara dengan seringai di bibirnya. Nara menarik rambut Sarang semakin kencang, dan saat dia akan melepaskan Sarang, tangan kanannya telah bersiap untuk menghajar gadis itu.


Plak!


"Shi**! ... Nara ka--"

__ADS_1


Plak! Plak! Plak!


Minho melongo ketika melihat Nara menganiaya Sarang sampai seperti itu. Ia berjalan mendekati Nara, kedua tangannya telah terkepal, dan bersiap untuk memukul Nara akan tetapi teman-teman Nara bergerak lebih cepat. Para pelajar dari bagian atlet itu menarik tangan Minho ke belakang dan memelintirnya tanpa ampun.


"Yakkkk! Kau gilaaa, lepaskan aku!" teriak Minho dengan mata terpejam menahan sakit yang teramat luar biasa.


Nara tersenyum menyeringai. Dia meminta salah satu temannya untuk mengambil apa yang telah dia siapkan.


"Apa yang ingin kau lakukan, Bora! Lepaskan aku! Kau gila. Aku akan melaporkan ini kepada guru!"


Nara tergelak, dia mengambil ember sedang berisi air bekas pelan yang dia campur dengan telur busuk dan juga cat berwarna kuning menyala.


"Boraaa! Don't!!!!" teriak Sarang.


Nara malah semakin antusias, dia benar-benar menumpahkan cairan itu di atas kepala sarang. Setelah Sarang terlumuri dengan cairan khusus itu, anak-anak lain muncul, masing-masing membawa satu ember yang mereka lemparkan ke arah teman-teman Sarang dan Minho.


Nara menendang Sarang dengan kakinya pelan. Gadis itu tersenyum semakin jahat saat melihat baju seragam Sarang yang basah telah menampakkan isian dari dalam seragam itu sendiri.


"Kau pantas mendapatkan ini, Sarang! Bukankah dulu kau sangat menyukai hal seperti ini. Sangat menyenangkan bermain-main dengan ku, bukan?"


Sarang berdecih, dia kembali mendelik saat melihat Nara bertingkah seperti itu.


"Tenang, Sarang! Ini baru permulaan. Bukankah masih ada permainan inti? Kau akan mendapatkan apa yang Nara dapatkan!"


Senyum menyeringai kembali muncul di bibir Nara. Sedangkan Sarang? Gadis itu malah mematung, kedua tangannya dia silangkan di depan dada.


Tatapannya beralih ke arah Minho yang sedang disiksa oleh teman-teman Nara. Kepala gadis itu menggeleng, ini tidak mungkin, bagaimana bisa Bora mengenal Nara, Bora adalah anak orang kaya. Terlihat dari apa yang dia kenakan. Gadis ini juga tidak mengenal rasa takut, tidak mungkin ... bagaimana jika Bora benar-benar melakukan apa yang pernah dia lakukan kepada Nara.


Hantu Bora tertawa terbahak-bahak. Dia malah berjingkrak heboh lantaran orang-orang brengsek itu telah terkapar tak berdaya. Dia mengacungkan kedua jempol nya, merasa sangat bangga kepada dirinya sendiri yang sebenarnya itu hanyalah cangkang, karena apa yang dia lakukan tidak lain adalah perbuatan Nara.

__ADS_1


"Kembali ke kelas!" ucap Nara menyodorkan tangannya ke arah Hye-In. Namun, gadis itu malah mendongak, menatap Nara dengan perasaan bersalah yang terus menghantuinya. Sudah dua kali Nara membantunya akan tetapi Hye-In malah bertingkah seperti tidak tahu terima kasih.


"Ayo!" ajak Nara lagi dan Hye-In pun menerima uluran tangan dari Nara.


"Tidak usah takut pada orang-orang sepert mereka. Jika sekolah tidak bisa melindungi mu, aku sendiri yang akan memberikan perhitungan dengan mereka. Bukankah mata harus dibalas dengan mata?" Nara tersenyum kecil saat mengatakan itu. Seperti tanpa beban dan tanpa rasa takut.


"Terima kasih," ucap Hye-In.


"Seharusnya kau bersuara sejak hari itu, Hye-In. Mungkin kau tidak akan seperti ini kalau bergabung dengan kami!" Eunhae terlihat kecewa tapi dia tidak bisa marah. Mungkin Hye-In memiliki alasan kenapa dia melakukan itu semua.


"Ikhhh ... sumpah ya. Kamu keren banget, Ra. Kalau aku kayak gini sejak dulu, mungkin aku juga akan membasmi kecoak-kecoak yang sok kayak mereka."


Nara hanya tersenyum mendengar ocehan dari Bora. Setiap orang memiliki penyesalannya masing-masing. Jika Nara dulu memiliki banyak uang, mungkin dia juga tidak akan berakhir seperti ini. Dia berani karena sekarang latar belakangnya sangat baik. Terlebih, anak-anak atlet itu juga membantunya hanya karena Nara menjanjikan kalau dia akan meminta orangtuanya untuk merekomendasikan mereka supaya mereka bisa menjadi atlet nasional.


Nara tidak berbohong. Kedua orangtuanya memang memiliki nama dalam jajaran pemerintahan, tidak sulit kalau hanya untuk sekedar merekomendasikan.


"Han Bora!" panggil seseorang tiba-tiba.


Mereka semua menoleh, termasuk para pria yang mengikutinya.


"Wae?" ( Kenapa?) Nara bertanya seperti tanpa beban.


Pria di depan Nara itu mengembuskan napas pelan. Ia memalingkan wajah, merasa agak kesal karena ekspresi Nara benar-benar terlalu datar.


"Kau masih ingat aku, 'kan? Aku Henry. Presiden sekolah. Sarang dan teman-temannya mengatakan kalau kau membully mereka? Apakah itu benar?"


Nara mengerutkan kening saat mendengar hal tersebut, dia berjalan mendekat ke arah Henry dan berdiri tepat di depannya. Menatap Henry dengan tatapan lekat, bahkan Nara tidak segan untuk memindai apa saja yang ada di mata pria itu.


"Jika aku mengatakan iya, apa yang akan kau lakukan?" sarkas Nara dengan senyum evil di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2