ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 38. Hal Menyebalkan


__ADS_3

Bora melangkah dengan sangat pelan saat keluar dari kelasnya. Hari sudah hampir malam tapi mereka baru menyelesaikan rentetan ujian yang diberikan guru kepada mereka. Sangat lelah dan juga menguras otak. Nara butuh sesuatu yang bisa menghidrasi tubuhnya agar kepala milik Bora itu tidak pecah.


"Milk shake strawberry kayaknya enak, Ra!" kata Bora memberikan rekomendasi.


Nara mengangguk mengiyakan. Setelah sampai di mobil, dia meminta sopir untuk mengantarkannya ke tempat dimana Bora biasa membeli minuman tersebut. Si arwah terlihat sangat antusias, padahal sudah pasti dia tidak akan bisa menikmati apa yang akan Nara minum.


Kedua orang itu ingin melupakan masalah Henry untuk beberapa waktu. Nara tidak bisa hanya terfokus pada orang yang belum tentu akan mau membantunya untuk menyelesaikan masalah. Jika memang, Henry ingin membuatnya berada dalam kesulitan, pria itu pasti akan membuat kegaduhan dengan menyebarkan gosip tidak baik tentangnya dan Bora.


Guru sialan itu sudah resmi hilang dari muka bumi. Selain dipecat dari Yeonwo School, dia juga tidak mungkin diterima di sekolah mana pun karena kasus tidak baik yang sudah dia lakukan. Segala sesuatu itu harus ada timbal baliknya, jika Tuhan menunda hal itu, biarkan Nara yang membantu mempercepat semuanya.


"Kita sudah sampai, Non!"


"Baik, Pak! Terima kasih."


Nara dan Bora turun dari mobil lantas berjalan menuju cafe tempat dimana milk shake yang dia cari berada.


"Beli yang jumbo, Ra!" kata Bora.


Lagi-lagi Nara hanya mengangguk. Perempuan itu berdiri di belakang pelanggan lain, mengantri karena jika tidak dia tidak akan mendapatkan apa pun.


"Terima kasih," ucap Nara mengambil milk shake miliknya.


Bora berjingkrak heboh, dia meminta Nara untuk membuka tutup milk shake tersebut agar dia bisa membaui apa yang sudah lama dia inginkan.


"Minumlah!" kata Nara.


Bora mendelik kepada perempuan itu. Bagaimana mungkin dia bisa meminum itu, bukankah tubuhnya transparan?


"Kau saja yang minum! Aku tidak bisa, Nara!"


Perempuan itu tersenyum getir, niat hati ingin bercanda kepada Bora, tapi Bora malah terlihat sangat sedih. Oh Tuhan, bagaimana caranya agar dia bisa berkomunikasi dengan baik bersama arwah itu.

__ADS_1


"Bora!"


Tiba-tiba seseorang muncul entah dari arah mana. Nara menoleh, keningnya langsung mengkerut saat dia melihat pria yang tidak ingin dia temui juga ada di cafe tersebut.


"Seharusnya kau pura-pura tidak melihatku, Minho!"


Kalimat sarkastik itu sama sekali tidak menggoyahkan pria yang kini malah menarik kursi kemudian duduk di depannya. Minho tersenyum menyeringai. Memperhatikan Nara dari atas sampai bawah.Ia pura-pura menjatuhkan barang hanya untuk melihat betis jenjang Nara yang sangat mulus dan juga sangat mempesona.


"


Srukkk!


Brukkk!


Minho tercengang saat Nara menendang kursinya membuat dia terjengkang dan jatuh. Semua orang yang ada di cafe tersebut menatap ke arah Minho dengan tatapan kasihan dan juga bingung. Mereka tentu tidak tahu apa alasan Nara melakukan hal tersebut.


"Jangan menunjukan jati dirimu, Minho! Aku tidak berniat untuk membongkar segalanya sekarang!"


"Brengsek!" geram Minho. Ia langsung beranjak, mengejar Nara yang sudah ke luar dari cafe tersebut.


Tangannya terulur, menarik paksa lengan Nara membuat apa yang sedang Nara pegang jatuh dan berhamburan ke mana-mana. Perempuan itu mendelik, menghempaskan tangan Minho seraya menatapnya tajam.


Deru napasnya sudah tidak karuan. Marah? Sangat, Nara benar-benar dibuat kesal dengan orang tidak waras di depannya.


"Apa yang kau lakukan, Minho. Apa kau sudah tidak sabar menunggu giliran untuk aku hancurkan!"


Pria itu berdecih kasar, wajahnya berpaling untuk sesaat. Meremehkan ancaman yang diberikan oleh Nara. "Aku tahu kau tidak akan bisa melakukan hal itu. Jika memang kau sangat ingin membuatku hancur, kenapa sampai sekarang kau masih diam? Kenapa aku masih baik-baik saja!"


Nara tersenyum menyeringai. Perempuan itu berjalan mendekat ke arah Minho, menusuk dada pria itu dengan jari telunjuknya cukup kuat.


"Jangan merasa aman karena hal itu, Minho! Aku diam bukan karena tidak mampu. Hanya menunggu waktu yang tepat agar baji*an seperti mu bisa habis sampai ke akar!"

__ADS_1


Lagi-lagi Minho menggeram, pria itu mengepalkan kedua tangannya juga mengayunkan tangan itu ke arah Nara dan ....


Settt!


Kedua orang itu mengerutkan kening, mereka berdua menoleh ke samping melihat siapa orang yang sudah menahan tamparan yang akan dilayangkan oleh Minho.


"Henry," gumam Nara dan Bora bersamaan. Pria itu hanya tersenyum.


"Jangan jadi pecundang dengan memukul perempuan, Minho! Kau itu pengecut!"


"What! Kau bilang aku pengecut. Jangan sok pahlawan, Henry!"


Settt!


Bughhhhh!


Henry mengibaskan tangan setelah membuat Minho tersungkur di jalanan. Pria itu tersenyum kecut, ia menarik tangan Nara kemudian mendudukkan perempuan itu di salah satu bangku taman.


"Ambilah!" titah Henry. Ia menyodorkan milk shake strawberry untuk Nara.


Perempuan itu pun mendongak, ia mengambil itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Aku tidak tahu hal mengerikan apa yang dilakukan Minho padamu. Tapi, mulai sekarang, aku janji. Aku akan membantu untuk menjauhkan dia darimu!"


Nara dan Bora sama-sama menatap Minho dengan dalam. Dua perempuan itu dibuat heran karena kalimat ambigu yang keluar dari mulut Henry. Senyum pria itu, dan gesture tubuhnya, Nara merasa ada yang salah dengan ini.


"Minho aku---!"


Nara tidak melanjutkan kalimatnya saat ponsel di dalam tas tiba-tiba bergetar, tangan mungilnya merogoh tas kecil tersebut untuk mengeluarkan benda pipih itu dari sana.


"OMG. Itu Kak Myung-Soo, Nara. Panggilan video, habislah kau!"

__ADS_1


__ADS_2