ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 22. Never give up


__ADS_3

Beberapa menit yang lalu, saat Nara tengah menggenggam tangan Nayeon. Sosok Bora ada di belakang Nayeon, menggenggam erat rok yang dikenakan perempuan itu untuk berjaga-jaga. Bora dan Nara hanya takut ketika Nara menariknya ke belakang, Nayeon terlalu kuat sehingga apa yang mereka lakukan menjadi sia-sia. Nara juga akan mati konyol sebelum dendamnya terbalaskan. Ini belum berakhir, tidak boleh ada yang meninggal sebelum dendamnya tersalurkan dengan baik.


Yahhh, karena bantuan dari Bora. Nara bisa mencegah percobaan bunuh diri yang dilakukan oleh Nayeon. Perempuan itu bernapas lega, dia berbaring di atas lantai semen di atap gedung tersebut. Nara menoleh, dia masih menggenggam tangan Nayeon dengan bibir tersenyum tipis.


Setelah semuanya clear, Nara dan Nayeon dibawa ke UKS untuk mengobati siku mereka yang terluka. Awalnya tidak ada yang berbicara, sampai ketika Bora mengacungkan tangan membentuk huruf 0. Barulah Nara membuka suaranya.


"Nayeon! Aku tidak tahu masalah apa yang kamu alami di sini. Tapi ... jika itu karena Min-ho dan teman-temannya, atau karena salah satu guru yang ada di sini, aku akan membantumu. Bekerja samalah dengan ku. Aku janji, mereka akan mendapatkan pembalasan yang setimpal."


Nayeon yang sejak tadi menunduk mulai mengangkat kepalanya. Perempuan itu menatap Nara dengan tatapan tidak percaya. Apa mungkin yang dia dengar? Nara mau membantunya?


"Aku sungguh-sungguh, Nayeon. Kau tau Lim Nara?" Nara sedikit menunduk untuk melihat ekspresi wajah Nayeon. Perempuan di depannya itu mulai menunjukkan gelagat tidak wajar. Tangannya bergetar dan berkeringat. Nara menjadi sangat yakin kalau Nayeon tahu apa yang dia alami.


"Kau tahu kalau Nara hamil karena ulah orang-orang itu?"


"What?" Nayeon yang sejak tadi diam mulai mengeluarkan suara. "Maksudnya, Nara hamil karena Min-ho dan Saem Jian-Man?"


Nara mengangkat kedua bahunya. Dia tidak mungkin menjelaskan ini semua.


"Tapi, bagaimana kau tahu? Kau anak baru di sini, Nara?" tanya Nayeon.

__ADS_1


"Banyak hal yang aku ketahui tentang sekolah ini dari Nara. Awalnya aku pikir semuanya bisa membaik, tapi saat mendengar kabar jika Nara meninggal setelah kelahiran, aku bertekad untuk membalaskan dendam, menggantikan dia yang tidak bisa apa-apa." Nara sedikit tergelak. "Kau pikir, untuk apa orang seperti ku pindah ke sekolah seperti ini? Ya. Memang sekolah ini bagus, tapi tidak sebagus sekolah lamaku."


Nayeon kembali terdiam. Keningnya mengkerut memikirkan jalan apa yang harus dia pilih. Gagal bunuh diri satu kali membuatnya tidak berani lagi untuk melakukan hal tersebut.


"Jika kau mati, itu hanya akan sangat sia-sia. Anak-anak yang merundung mu tidak akan pernah menyesal. Mereka tidak akan perduli, jika mereka tidak memiliki hati saat merusak dan melecehkan mu, menurutmu, apa mereka akan tergerak saat kau mati konyol? Tidak bukan? Semuanya sia-sia saja, Nayeon!"


Nayeon pun mengangguk. Ia kembali mendongak, menatap Nara dengan tatapan yang sangat berbeda dari sebelumnya. Tidak ada keputusasaan. Yang tersisa hanyalah dendam dan keyakinan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Nayeon akhirnya.


Nara menyunggingkan senyum. Perempuan itu berbisik di samping telinga Nayeon dan diangguki oleh perempuan itu juga oleh hantu di sampingnya.


Mereka berdua keluar dari UKS. Dan saat itu, telah ada Eunhae dan Hye-In yang menunggu mereka di depan pintu UKS.


"Apa kalian baik-baik saja?" tanya keduanya.


Nara, Bora dan Nayeon mengangguk mengiyakan.


"Permainan tanpa jeda akan dimulai. Aku harap tidak akan ada yang mundur," kata Nara.

__ADS_1


Ia berjalan lebih depan diantara perempuan - perempuan itu. Koridor menjadi sangat ramai dikarenakan orang-orang ini berjalan penuh percaya diri.


Namun, saat sebelum mereka bisa melewati kantor guru. Ssaem Kim memanggil Nara dan Nayeon ke ruangannya.


Nara menepuk pundak Nayeon. Perempuan itu seperti mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Dan ya, Nayeon pun mengangguk mengerti.


"Duduklah!" titah Ssaem Kim. Nara dan Nayeon pun hanya menurut. Sangat lama mereka mendengarkan ocehan Ssaem Kim. Nara dan Nayeon malah saling menggenggam. Keduanya benar-benar tidak menangkap apa yang tengah disampaikan oleh guru BK di depannya.


"Baik, Ssaem! Kita mengerti, sekarang kita sudah boleh keluar 'kan?" tanya Nara yang sebenarnya adalah pernyataan. Jika dia terus mendengar ocehan Ssaem Kim, permasalahan hidup mereka bukan selesai malah akan semakin ruwet dan ribet.


"Astagaaaa ...." Ssaem Kim menggelengkan kepalanya. "Ya sudah. Keluar dan belajar dengan baik. Sebentar lagi kita akan ujian!"


Nara dan Nayeon mengangguk, mereka berdua berdiri kemudian membungkuk ke arah Ssaem Kim.


"Terima kasih, Ssaem! Kami permisi!"


"Hhmmm! Pergilah!" titah Ssaem Kim sambil mengibaskan tangannya.


Kedua orang itu keluar dari ruangan guru. Mereka sudah akan tersenyum, akan tetapi senyum itu tidak mekar ketika mereka harus berpapasan dengan salah satu guru yang sangat mereka benci.

__ADS_1


"Jo Jian-Man!" gumam Nara dengan bibir menyeringai.


__ADS_2