ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 16. Tidak Salah


__ADS_3

Myung-Soo dan Nara berlari menuju kamar Hyunsik dengan perasaan khawatir luar biasa. Pemandangan di sana tidak ada yang salah menurut Myung-Soo. Hyunsik aman di tempat tidur tapi suster Jung telah tergelatak tak jauh dari sana. Myung-Soo pun membiarkan Nara memeriksa Hyunsik, sedangkan dia sendiri menghampiri suster Jung.


Di depan tempat tidur itu, Nara berdecak pinggang, menatap Bora yang sedang berbaring sambil memeluk boneka pesawat dengan wajah yang dia sembunyikan di balik mainan itu. Sudah tidak heran lagi, ini adalah kelakuan Bora.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa sangat ceroboh? Bagaimana jika Suster Jung mati?" batin Nara bertanya dengan intonasi kesalnya.


"Hehehe ... maaf, Ra. Enggak sengaja, lain kali enggak kayak gitu lagi kok. Seriusan!" Hantu Bora mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya tapi jari dari tangan yang lain, jarinya dia silangkan. Ini berarti Bora tidak janji dan bisa aja kesalahan itu terulang di kemudian hari.


"Suster Jung!" panggil Myung-Soo menepuk bahu wanita paruh baya itu. "Suster!" tepukan-tepukan itu terus Myung-Soo lakukan untuk membuat suster Jung bangun.


Wanita itu mengerejapkan matanya perlahan. Ia beranjak untuk duduk saat Myung-Soo membantunya melakukan hal itu.


"Tuan, ada setan!" kata suster Jung dengan wajah ketakutan.


Myung-Soo hanya terkekeh. "Tidak mungkin ada hal seperti itu. Mungkin Suster hanya kecapean."


"Tapi saya berani bersumpah kalau tadi saya melihat boneka pesawatnya terbang, gerak - gerak sendiri, Tuan. Saya enggak bohong!"


Pria itu menoleh ke arah dimana Hyunsik dan Nara berada. Tidak ada apa pun di sana. Nara malah terlihat asyik-asyik saja bermain dengan Hyunsik.


"Gini aja, Suster istirahat dulu, biar Hyunsik, saya dan Bora yang jaga. Tapi nanti malam ke sini lagi, enggak papa?"


Suster Jung mengangguk yakin. Jika memang ini diperlukan, dia harus beristirahat dengan baik. Tapi sungguh, tadi itu bukan halusinasi. Suster Jung melihat semuanya dengan sangat jelas. Namun, ia tidak bisa menyalahkan Myung-Soo juga, akan sangat sulit mempercayai ucapannya karena tidak ada bukti.


"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan!" pamit Suster Jung.


"Baik, Sus. Hati-hati."

__ADS_1


"Iya, Tuan. Terima kasih."


Myung-Soo mengembuskan napas kasar. Pria itu berjalan menuju ranjang, memperhatikan apa yang sedang Nara lakukan juga melirik ke arah boneka pesawat di samping Hyunsik. Tangan besar itu terulur, mengambil bonekanya. Sadar atau tidak, Bora lah yang menggenggam mainan tersebut. Dia tersenyum, merasa senang karena bisa berinteraksi dengan Myung-Soo meskipun hanya sebatas itu.


"Ikhhh , gila kamu itu!" Nara bergidik negri melihat kebucinan Bora.


"Kamu enggak akan tahu gimana rasanya jatuh cinta. Kalau udah tahu, enggak bakal kamu bisa tidur seminggu!"


"Mati dua kali dong aku!"


Bora hany menyengir kuda.


"Tapi, Ra. Bagaimana dengan Sarang? Bukannya mau ngungkap kejahatan mereka?"


Nara mengangguk. Iya, dia memang akan membeberkan semuanya. Namun tidak sekarang karena masih ada beberapa hal yang belum selesai.


"Iya. Kenapa?"


"Kau bisa menjaganya bukan?"


Nara mengangguk yakin. "Bisa lah. Hyunsik kan anak kita."


"Cihh," Myung-Soo tergelak seraya menggelengkan kepalanya. "Ya sudah, saya mau siapkan makan malam. Kamu jaga dia baik-baik. Suster Jung sudah mengajarkan cara membuat susu kan?"


Nara hanaya mengangguk. Myung-Soo pun berbalik. Namun, baru akan membuka pintu, suara tangis bayi telah menghentikan langkahnya.


"Hei, tenanglah, Sayang! Mama di sini, Nak. Shutttt!"

__ADS_1


Myung-Soo tersenyum melihat Nara yang tengah berusaha menenangkan bayi itu. Bocah ini benar-benar sangat aneh. Kekanakan tapi juga bisa menenangkan anak.


Karena bayinya sudah kembali diam, Myung-Soo pun keluar dari kamar itu, mulai mengeluarkan bahan makanan yang akan dia masak agar mereka tidak kelaparan. Tangan besar itu terlihat sangat cekatan dan terampil. Lengan kemeja yang dia gulung sampai ke siku membuatnya terlihat sangat luar biasa gagah nan tampan.


Kepalanya menoleh begitu mendengar pintu kamar terbuka, ternyata Nara membawa bayinya ke luar, mungkin agar tidak sesak di dalam sana.


"Jangan terlalu dekat ke sini, Ra! Kasian dia! Apa mau aku bantu ambilkan ayunannya?"


Belum sempat Nara menjawab, Myung-Soo telah melesat ke kamar Hyunsik mengambil ayunan elektrik milik bayi mungil tersebut kemudian memposisikannya di depan Nara.


"Nah, letakan lah! Tangan mu akan pegal kalau terus digendong seperti itu!"


Nara hanya menurut saja. Memang iya, dia sudah mulai tidak nyaman. Padahal bayi ini masih sangat kecil, 5 kilogram saja belum, tapi kenapa tungkainya sangat lemah.


"Itu karena kau belum terbiasa, terlebih semakin lama kau akan mulai merasa kalau bobotnya itu bertambah. Bukan karena dia berbuah jadi Hulk, hal ini normal, dan jangan selalu gendong dia, nanti kebiasaan."


Nara lagi-lagi hanya mengangguk. Dia mendongak, menatap Myung-Soo yang tengah menunduk untuk merapikan selimut Hyunsik. Dengan begini, Nara bisa melihat wajah calon suaminya dari jarak yang sangat dekat. Myung-Soo ternyata sangat tampan, bulir keringat yang bercucuran menimbulkan kesan berbeda, apalagi saat tatapannya agak turun ke bawah, leher kokoh ini, juga jakun yang menonjol ... astagaaaa ... apakah benar ada manusia seperti ini di dunia?


"Cieeeeeeee ... uhuyyyyyy! Aku udah bilang kalau Myung-Soo Oppa itu tampan, Ra."


Nara menyikut hantu yang ada di sampingnya, merasa kesal karena hantu itu terus mengganggu.


"Ra ...!"


"Apa?" tanya Nara dalam hati.


"Kalau seandainya, suatu hari nanti, aku bisa kembali ke tubuhku bagaimana menurutmu?"

__ADS_1


__ADS_2