
Nara, perempuan yang sedang ada dalam dekapan Myung-Soo melepaskan pelukannya. Ia melihat jauh ke arah Bora dan Henry. Perempuan itu berlari menghampiri dua orang yang sudah banyak membantunya selama ini.
"Ada apa?" tanya Nara. Dadanya naik turun tak karuan. Perempuan itu khawatir, dia ikut menyentuh Bora akan tetapi Bora sama sekali tidak bisa disentuh.
"Ada apa ini, Bora. Kenapa aku tidak bisa menyentuhmu?" lirih Nara dengan mata berkaca-kaca.
Jangan sampai apa yang mereka takutkan terjadi. Nara tidak ingin kehilangan Bora. Perempuan itu tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.
"Nara ... aku takut!" Bora mulai menangis. Arwah itu belum siap jika harus pergi meninggalkan semua orang sekarang. Bora harus bertemu dengan Hyunsik dulu. Bora juga belum pamit kepada kedua orang tuanya.
"Jangan katakan apa pun. Ini mungkin hanya sementara," ucap Henry berusaha untuk berpikir positif. Sebisa mungkin dia menghindarkan hal buruk dari pikirannya.
Myung-Soo terlihat sangat kebingungan. Pria itu menatap heran ke arah Nara dan juga Henry. Ada apa dengan orang-orang ini, kenapa ekspresi wajah mereka sangat tidak menyenangkan. Pria itu melangkah kan kakinya untuk menemui calon istri dan teman calon istrinya itu. Namun, Nara dan Henry malah sudah berlari seperti sedang mencari sesuatu.
**
**
"Tidak, jangan lakukan itu. Jangan pergi, Bora. Aku sangat membutuhkan mu. Kita sudah janji kalau kita akan menjaga Hyunsik sama-sama. Jangan tinggalkan aku. Boraaaaaa!"
Nara berteriak dengan sangat kencang. Kedua orang itu berlarian ke sana kemari. Keduanya dibuat kalang kabut. Air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi. Nara meraung. Perempuan itu berteriak lagi dan lagi akan tetapi tidak pernah mendapatkan jawaban. Bora lenyap entah ke mana.
"Boraaaaa!" teriak Nara. Perempuan itu ambruk dengan bahu bergetar hebat. Tak berbeda jauh dengan Nara. Henry pun ada dalam kondisi yang sama. Pria itu membungkuk menumpukan kedua tangannya pada lutut. Mereka berdua ketakutan. Tidak mungkin Bora hilang begitu saja, ini pasti cuma mimpi mereka, tapi kenapa terdengar sangat nyata.
"Bora ... kembalilah! Kita membutuhkan mu. Kita menyayangi mu." Henry tidak kuasa menitikkan air mata. Baru saja dia mengatakan kalau dia mencintai gadis itu, tapi kenapa Tuhan sudah mengambilnya kembali. "Andai aku tahu kalau kau akan pergi secepat ini, aku tidak akan pernah menahan perasaan ku, Bora. Aku akan mengatakan kalau aku sangat mencintaimu sejak lama. Tolong kembali, Bora. Tolong!" Henry berucap dengan sangat lirih. Pria itu tidak kuasa menahan air mata. Ini terlalu menyakitkan, ditinggalkan perempuan yang dia cintai saat cintanya baru mekar ternyata rasanya sangat menyedihkan.
__ADS_1
Myung-Soo merengkuh tubuh bergetar Nara. Meskipun dia tidak tahu kenapa dengan calon istrinya itu, Myung-Soo belum berani menanyakan apa pun. Dia hanya mendekap tubuh itu, membawa Nara ke dalam pelukannya berusaha untuk memenangkan Nara dan mengatakan jika semuanya akan baik-baik saja.
Namun, bagaimana mungkin semuanya akan baik-baik saja. Nara yang berpikir kalau dirinya lah yang akan menghilang ternyata malah mendapatkan kenyataan lain. Fakta baru membuatnya merasa sangat hancur. Iya, dia belum sempat berterima kasih. Nara belum sempat meminta maaf bahkan dia belum pernah mengatakan kalau dia sangat menyayangi Bora. Nara sangat bersyukur atas semua kebaikan yang Bora lakukan untuknya. Perempuan itu sangat menyesal karena belum sempat mengatakan hal-hal itu.
"Kakak ... bagaimana ini? Kenapa dia harus pergi? Kenapa Tuhan sangat tidak adil. Aku menyayanginya, Kak. Aku sangat menyayanginya."
Sesaat setelah mengucapakan itu. Nara terkulai dalam dekapan Myung-Soo, perempuan itu kehilangan kesadaran karena terlalu syok akan kenyataan yang baru saja ia terima.
***
Beberapa minggu setelah kepergian Bora. Nara masih saja murung. Perempuan itu lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan Hyunsik. Namun, tuntutan belajar masih bisa perempuan itu lakukan. Nata harus tetap mempersiapkan diri untuk masuk ke universitas yang Bora inginkan.
Di depan cermin yang ada di kamarnya, Bora menunduk dengan air mata bercucuran. Setiap kali melihat wajah Bora, Nara selalu saja terbayang arwah yang hampir satu tahun mengikutinya. Kebersamaan mereka membuat Nara tidak bisa melupakan perempuan itu.
"Masuk!" sahut Nara mengusap air matanya kasar.
"Mama," gumam perempuan itu.
Nyonya Han tersenyum. Perempuan itu mendekap Nara kemudian mengusap punggungnya perlahan. "Jika lelah, istirahat saja dulu. Kuliah bisa nunggu beberapa waktu lagi, Nak. Jangan memaksakan diri."
Nara menggelengkan kepalanya. Dia tidak bisa menunda apa pun lagi. Nara sudah berjanji kepada Bora kalau dia akan melakukan segalanya dengan baik. Nara tidak akan mengecewakan Bora. Dia tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah Bora berikan kepadanya. Nara akan mewujudkan semua keinginan Bora, dia tidak akan melewatkan suatu hal apa pun.
"Bora akan membuat Mama sama Papa bangga sebelum pernikahan Bora dan Kak Myung-Soo dilakukan."
Nyonya Han tersenyum seraya mengangguk pasti. "Kalau begitu turunlah! Myung-Soo sudah menunggu di bawah."
__ADS_1
Nara mengiyakan. Dia mengecup seluruh permukaan wajah ibunya kemudian berlari ke lantai bawah. Perempuan itu langsung menghambur ke pelukan Myung-Soo membuat pria itu terkekeh kecil.
"Sudah siap?" tanya Myung-Soo.
"Hmmm ... aku ingin pergi ke toko buku dulu, Kak."
"Laksanakan!" ujar Myung-Soo membuat Nara terkekeh kecil.
Sementara di tempat lain, seorang pria tengah menatap hamparan air yang ada di depannya. Pria itu membawa setangkai bunga mawar putih. Dia mencium mawar itu kemudian dia lemparkan ke dalam air, lebih tepatnya ke sungai han. Salah satu tempat yang sangat Bora sukai.
"Kau adalah orang baik, Bora. Aku yakin, kau akan bahagia di surga. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk mu. Aku mencintaimu, Bora. Sangat mencintaimu."
.
.
.
.
.
The End.
Satu bab lagi epilog ya karena novel ini sudah selesai sampai di sini. Love2 buat kalian semua yang sudah membaca sampai akhir. Author ucapkan banyak-banyak terima kasih. Tanpa kalian Author itu bukan apa-apa. Sehat-sehat dan bahagia selalu. ♥️♥️♥️♥️
__ADS_1