
Nara masuk ke perpustakaan yang letaknya lumayan jauh dari ruang guru. Perempuan itu mengerutkan kening melihat keadaan perpustakaan yang sangat sepi. Ia berbalik ke belakang, tapi Jian-Man sudah ada di sana, menatap Nara dengan tatapan aneh sekaligus menjijikkan.
"Nama kamu Bora 'kan? Saya dengar kamu meminta saya untuk bertemu?"
Semakin mengerut lah kening Nara. Apa yang salah? Bukankah dia sendiri yang mengundangnya untuk datang. Tapi kenapa malah menuduhnya melakukan hal yang sangat dia benci.
"Bukannya Ssaem yang meminta saya datang?" tanya Nara. Kakinya membawa dia mundur beberapa langkah, menjauh dari Jian Man akan tetapi guru bajingaan itu melakukan hal sebaliknya. Ia terus mengikuti Nara ke dalam dan membuat perempuan itu terpojok pada rak buku di belakang.
"Jangan malu-malu seperti itu, Bora. Kalau kamu menginginkannya tidak apa-apa. Saya siap kok. Sini!"
Tangan Jian Man terulur, hendak menyentuh wajah Nara dengan senyum penuh arti, matanya menyala, seperti menunjukan hasrat yang siap untuk meledak.
Brak!
Tiba-tiba salah satu buku jatuh dari atas rak. Jian Man menoleh dari Nara tapi tidak dengan perempuan itu, ia tersenyum menyeringai membayangkan betapa bodohnya seorang Jian Man.
"Itu adalah Lim Nara!" ujar Nara menyeringai.
Deg!
Jian Man langsung menoleh dengan mata membulat dan wajah pucat pasi.
"Kenapa?" Lim Nara bertanya dengan tangan tersilang di depan dada. Ia melihat dengan jelas bagaimana terkejutnya Jian Man saat itu.
Di ujung sana, Bora malah sedang menggoyangkan tangannya yang terisi buku, bersiap untuk melemparkannya ke depan Jian Man.
__ADS_1
Bruk!
"Upss!" Bora menutup mulutnya dengan ekspresi mengejek. "Enggak sengaja," katanya yang mana hal tersebut memunculkan senyum kecil di bibir Nara.
"Siapa kau?" Jian Man mundur menjauh dari Nara dan kini giliran Nara yang memojokkan pria itu sampai ke dinding. "A-apa yang kau inginkan?" Pria itu terbata, ketakutan dengan lutut bergetar.
Nara menarik ujung bibirnya, perempuan itu mengangkat tangan sehingga salah satu buku besar melayang mengikuti gerakan tangannya.
"Jika aku katakan kalau aku adalah Lim Nara, apa yang akan kau lakukan?"
Nara memutar jari telunjuknya dan buku itu pun ikut berputar, persis seperti Nara ini adalah seorang penyihir. Padahal, di ujung sana Bora tengah berusaha mengikuti gerakan tangan Nara.
Jian Man semakin ketakutan, dia melirik ke arah buku itu dan kembali menoleh ke arah Nara. "Saya tidak salah, saya memanggilmu kemari karena Sarang mengatakan kalau kamu ingin menemui saya!"
Brak!
"Cihhhh ... kau takut mati tapi kau sudah membuat Nara mati, Ssaem! Kau tahu, rasanya terlalu menggelikan melihat bajingaan seperti mu ketakutan bak anak anjingg tersesat di jalanan."
"Siapa kau ... apa yang kau ketahui tentang Nara. Dia sudah tidak ada. Kenapa kau menakuti ku seperti ini? Kau seorang penyihir?"
Nara tergelak dengan suara tawa renyah. Tangannya kembali bergerak, menepis deretan buku dari kejauhan sehingga buku-buku itu berjatuhan. Satu gerakan lagi membuat salah satu vas bunga di sana terangkat, berputar kemudian bergerak mendekati Jian Man, berhenti tepat di atas kepalanya.
Nara tersenyum penuh arti. Rasanya sangat menyenangkan melihat lutut Jian Man yang bergetar. "Dengar, Ssaem! Sepandai apa pun kau menyimpan bangkai, baunya akan tercium juga. Aku tahu apa yang kau lakukan pada gadis-gadis di sekolah ini. Bukankah ada banyak yang terjerat tipu muslihat mu!"
Terdengar seperti pertanyaan tapi lebih cocok dikatakan berbagai pernyataan. Kepala Jian Man mendongak, menatap vas bunga keramik di atas kepala.
__ADS_1
"Saya tidak melakukan apa pun. Saya tidak melakukan kesalahan. Mereka yang mau bermain dengan saya! Saya tidak memaksa mereka!"
Kali ini bukan Nara yang tergelak, tapi hantu itu. Hantu itu lah yang tertawa mendengar ucapan bodoh seorang guru di depannya. Ia sudah akan membantingkan vas bunga itu tapi dia urungkan saat Nara menggelengkan kepala.
"Thanks," kata Nara mengeluarkan ponselnya, mematikan rekaman yang sejak tadi dia nyalakan untuk mengabadikan apa yang telah guru bodohnya ini katakan. Nara tersenyum menggerakan tangannya lagi, mengarahkan vas bunga di atas kepala Jian Man agak ke depan dan ....
Brak!
Benda itu jatuh tepat saat Nara membuat gerakan seolah-olah membantingkan vas utu dari kejauhan.
Degup jantung Jian Man bertalu tanpa nada. Dadanya naik turun tidak karuan, dia mendengus saat melihat ke bawah dan celananya telah basah. Nara pun tersenyum mengejek.
"Dia mengompol!" ejek Bora menunjuk Jian Man dengan gelak tawa. Nara hanya menggelengkan kepala, lantas keluar dari perpustakaan tersebut.
"Kita harus membuat perhitungan dengan perempuan gila itu, Bora," kata Nara menyeringai. Ia melihat area sekitar, mencari keberadaan Sarang tapi bajingaan wanita itu belum muncul.
"Temui anak-anak itu dulu," kata Nara.
Bora pun mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berjalan beriringan pada koridor sekolah. Andai orang lain bisa melihat Bora, kedua orang ini benar-benar sangat keren dan terlihat begitu solid. Keduanya saling melengkapi dan bisa menutupi kekurangan masing-masing.
"Apa yang akan kita lakukan kepada Sarang?" tanya Bora.
Smirk itu kembali muncul, tatapan Nara semakin menakutkan bak evil yang baru keluar dari bawah kegelapan.
"Hanya melakukan apa yang pernah mereka lakukan!"
__ADS_1