ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 8. Tebusan 1M


__ADS_3

Nara yang sedikit tersentak menoleh ke belakang. Gadis itu menatap pria di depannya lekat, ia tidak bisa mengatakan apa pun sebelum Myung-Soo bersuara. Salah sedikit saja, Myung-Soo mungkin akan mengetahui semua rahasia antara dia dan Bora.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Myung-Soo ikut duduk di sebelah Bora. Menatap gadis itu masih dengan segala kebingungannya, tadi dia benar-benar mendengar jika gadis ini memang tengah berbicara. Tapi tidak ada siapa pun di sana. Hanya ada Bora dan dirinya.


"Aku sedang latihan untuk pementasan seni!" bohong Nara. Dia tentu tidak bisa mengatakan apa pun. Syukurlah jika Myung-Soo tidak benar-benar mendengarkan semuanya. Akan sangat rumit jika pria ini tahu. Nara terlalu malas untuk menjelaskan apa pun.


Mendengar jawaban dari Nara, Myung-Soo hanya mengangguk. Masuk akal jika gadis di sampingnya ini tengah belajar untuk acara di sekolahnya. Tidak lama lagi mereka akan lulus, mungkin Bora memang sedang mempersiapkan diri untuk acara tersebut.


Tidak ada yang keluar dari bibir mereka. Nara diam, hanya menatap langit malam dengan tatapan kosong. Dia tidak bisa meninggalkan Myung-Soo, tapi pikirannya benar-benar tidak fokus, bagaimana caranya agar dia bisa merawat bayi itu dengan statusnya yang sekarang. Nara tidak mau kehilangan anaknya.


Angin malam semakin lama semakin bertiup kencang. Myung-Soo melepaskan coat yang dia kenakan lantas memakaikan coat itu kepada calon istrinya. Untuk beberapa saat, tatapan mereka bertemu, Myung-Soo diam, menelisik bola mata di depannya dalam. Tatapan ini, mata yang sama tapi dengan rasa yang berbeda, tidak ada binar atau semangat hidup seperti yang selalu dia lihat dulu. Ada luka dan juga dendam di sana.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Bora?" Myung-Soo membatin. Ia kembali duduk seperti semula, Bora benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat. Gadis ini selalu menjadi yang paling antusias saat bertemu dengannya, bahkan saat dia memperlakukan Bora tidak baik pun Bora tidak pernah tersinggung. Bora yang sekarang seperti bukan Bora dua minggu yang lalu. Saat orang tua membahas pernikahan pun tidak ada raut bahagia di wajahnya.


"Han Bora!" panggil Myung-Soo.


Nara menoleh, "Kenapa?"


"Kita akan segara menikah, aku harap kau bisa memaafkan semua perlakuan ku di masa lalu!"


Gadis itu mengerutkan kening, ia ingin menolak, akan tetapi Bora asli yang ada di belakang Myung-Soo mengangguk seraya menautkan tangannya.


"Aku akan mencoba," jawab Nara akhirnya. Bora tersenyum, berterimakasih berkali-kali untuk apa yang telah Nara lakukan. Begitupun dengan Myung-Soo. Meski rasanya sangat hambar, tapi dia bersyukur karena gadis ini tidak mempersulitnya.


****

__ADS_1


Keesokan harinya, saat pulang sekolah, Nara memutuskan untuk pergi ke rumah sakit tempat dimana terakhir kali dia melahirkan bayinya. Bora menuntun Nara untuk menanyakan apa yang pernah dia lihat kepada petugas di bagian administrasi.


"Maaf Sus, dua minggu yang lalu saya di rawat di sini bersama teman saya. Dia juga murid di Yeonwo School!" Nara menunjukan kartu identitasnya kepada petugas itu. "Nama teman saya Lim Nara, dia dibawa ke UGD setelah pingsan di depan rumah sakit ini."


Suster tersebut langsung mengangguk mengiyakan. Tidak ada satu pun pegawai yang lupa pada kejadian itu. "Tapi Lim Nara sudah meninggal dan sudah dibawa pihak keluarga," jawab suster itu.


Nara melirik kanan kiri. Ia membetulkan topi yang dia kenakan agar wajahnya tidak terlalu jelas. "Saya tahu, saya mencari anaknya, Sus. Yang waktu itu ada dalam gendongannya. Dia masih ada di sini 'kan?"


Suster tadi terlihat bingung. Dia tidak bisa memberikan informasi pasien kepada orang lain. Apalagi ini hanya temannya. Tapi ... "Bayinya sudah dibawa oleh ibunya Lim Nara. Sepertinya baru 30 menit yang lalu beliau membayar biaya administrasi."


Sepasang netra Lim Nara langsung terbelalak begitu mendengar hal tersebut. Dia menoleh ke arah Bora, wajahnya mendadak sangat panik. Ibu tirinya tidak boleh mengambil anaknya.


"Terima kasih, Sus! Saya permisi!" ucap Nara. Gadis itu langsung berlari keluar dari rumah sakit. Karena terlalu terburu-buru, dia sampai terjatuh, Nara meringis mengusap lututnya yang terluka. Tidak, ini bukan apa-apa. Dia harus segera menemukan bayinya.


"Taxi!" teriak Nara seraya melambaikan tangan. Lim Nara masuk dan mengatakan tujuannya kepada sopir taxi tersebut. "Cepat, Pak! Saya buru-buru!"


Taxi itu berhenti di depan sebuah gang pemukiman yang cukup kumuh untuk orang-orang seperti Bora. Mereka berdua harus naik ratusan anak tangga untuk sampai di depan rumah Nara dan keluarganya. Hingga saat mereka tiba di depan gerbang itu, Nara diam untuk beberapa saat.


"Tunggu apa lagi, ayo masuk, Nara!" pinta Bora karena dia takut kalau bayi itu akan kenapa-napa.


Dengan segala keresahan hatinya, Nara mendorong pagar itu kemudian masuk, ia berpura-pura celingukan melihat keadaan, padahal sebenarnya Nara hanya sedang melihat situasi.


"Permisi!" ucap Nara di depan pintu rumah ibu tirinya. Tidak ada jawaban, gadis itu sudah mengangkat tangan ingin mengetuk pintu akan tetapi tiba-tiba saja dia mendengar percakapan ibu tirinya dan dua anaknya yang lain.


"Ibu ngapain sih bawa-bawa anak haram ini ke sini. Hidup kita aja udah susah, masih mau ngerawat bayi pelacur itu. Mau dikasih makan apa dia!"

__ADS_1


Gelak tawa terdengar dari mulut wanita yang sudah tidak muda lagi itu, "Kalian pikir ibu kalian bodoh? Jangan panggil aku Seo Jin kalau aku tidak bisa memanfaatkan keadaan ...."


"Maksud Ibu?"


"Kita jual bayi ini. Barangkali organnya bisa menghasilkan pundi-pundi won untuk kita."


"Psikopat!" gumam Bora seraya menutup mulutnya yang ternganga. Gadis itu ikut membantu Nara untuk menggedor pintu akan tetapi sia-sia saja.


Tok! Tok! Tok!


Akhirnya Nara menggebrak pintu rumahnya karena sudah tidak tahan.


"Permisi! Nyonya Seo Jin. Ini saya temannya Nara!"


Orang-orang yang ada di dalam terlihat sangat panik, mereka mengambil bayi yang tergelatak di atas lantai kemudian memindahkannya ke atas sofa.


"Jaga bayi itu!" titah Seo Jin kepada dua anaknya.


Kedua anak remaja itu mengangguk. Sementara Seo Jin membukakan pintu untuk Nara.


"Nyonya Seo Jin! Saya dengar bayi Nara ada di sini. Saya temannya, dan Nara sempat meminta saya untuk merawat anaknya itu. Kami teman satu sekolah!" ucap Nara menunjukan logo pada jas di seragamnya agar wanita iblis ini percaya. Nara sengaja berbicara dengan nada yang sangat lembut karena dia terlalu takut jika Seo Jin malah akan mempersulitnya.


Wanita itu bukannya menyahut malah tertawa sumbang. Dia memperhatikan Nara dari atas sampai bawah. "Jangan berbohong padaku, kau orang kaya 'kan? Nara tidak mungkin memiliki teman sepertimu! Pergilah! Saya masih banyak pekerjaan."


"Tidak," ucap Nara menahan pintu yang akan ditutup oleh Seo Jin. "Saya akan bayar berapa pun yang Anda mau. Berikan bayi itu kepada saya, dan saya akan membayarnya!"

__ADS_1


Wanita itu tertegun, dia menoleh ke belakang, melihat ke arah dua anaknya yang malah mengangguk. Seo Jin kembali berbalik, lantas menatap Nara dan tersenyum evil. "Aku ingin 100 juta won!"


"What!" pekik Nara dengan wajah terkejut bukan main. 100 juta won. Apa wanita ini sudah gila, darimana dia harus mencari uang sebanyak itu.


__ADS_2