ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 7. Menemukan


__ADS_3

Lim Nara. Gadis yang sekarang sedang dipakaikan riasan pada wajahnya hanya bisa pasrah. Setelah Myung-Soo mengantarnya pulang ke rumah utama keluarga Han, Nara telah disambut oleh beberapa penata rias wajah dan pakaian. Seperti yang sudah Nara ketahui sebelumnya kalau malam ini keluarga Han dan keluarga Kang akan mengadakan perjamuan makan malam. Tentunya untuk membahas masalah pertunangan resmi antara Bora dan Myung-Soo. Saat itu, Myung-Soo selalu mengatakan jika mereka harus menunggu Nara lulus sekolah terlebih dahulu, akan tetapi sekarang, semuanya telah berubah. Myung-Soo malah memberikan saran agar mereka mulai membahas masalah pernikahan. Gila bukan, Nara pikir Myung-Soo adalah pedofil yang sangat menyukai daun muda.


"Sekarang aku bisa membaca pikiran mu," gumam Bora di samping Nara. Gadis yang duduk di depan cermin itu menipiskan bibir, pertanda jika dia tidak perduli.


"Myung-Soo Oppa itu bukan pedofil. Mungkin dia hanya merasa bersalah karena kejadian waktu itu."


"Itu masalah kalian, kenapa harus melibatkan aku," kesal Nara membatin.


"Ya mau bagaimana ... sekarang aku adalah kamu, dan kamu adalah aku. Terima saja nasib pemberian Tuhan. Seharusnya kau bersyukur, bukan malah marah-marah seperti ini. Apa kau tidak tahu kalau aku ingin hidup lagi, kau tidak merasa bersalah padaku? Setidaknya buatlah kehidupan yang layak untuk ku. Aku tahu, semakin lama kau juga akan semakin nyaman dengannya. Myung-Soo oppa itu pria baik-baik."


Nara termenung setelah Bora mengucapkan rentetan kalimatnya. Gadis itu melirik ke belakang karena Bora keluar dari kamar dengan wajah sendu. Tiba-tiba dia ikut merasa sedih, benar apa yang dikatakan Bora, ini adalah tubuh orang lain, kehidupan orang lain, setidaknya dia harus mencoba untuk melakukan yang terbaik agar mereka tidak saling dirugikan.


"Maafkan aku, Bora," batin Nara dengan suara yang sangat lirih.


Tak lama berselang, seorang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar itu, dia tersenyum, menatap Nara dengan tatapan luar biasa kagum. Anak perempuan ini sangat cantik. Saking cantiknya, Yuri sampai tidak bisa berkedip.


"Wuahhh ... anak mama cantik sekali." Yuri mencubit pelan pipi anaknya itu. Nara hanya tersenyum, Bora memang secantik ini. Lebih cantik dari wajahnya yang penuh dengan luka sangat menyedihkan. "Kita pergi sekarang, Nak! Keluarga Kang sudah menunggu di bawah!" kata Yuri lagi.


Nara pun mengangguk. Gadis cantik yang mengenakan kemeja putih berbalut outer senada dengan rok yang dia kenakan sebatas lutut membuat tampilannya terlihat sangat fresh di usianya yang masih muda. Langkah demi langkah membawa Nara turun dari anak tangga. Gadis itu berjalan dengan penuh percaya diri akan tetapi tidak ada senyum di bibirnya, sehingga ... ketika Jun-Myeon memanggil nama Bora, barulah senyum simpul itu tersungging.


Banyak orang di meja makan itu menoleh ke arah Nara, mereka semua dibuat terpana karena kecantikan alami yang gadis itu miliki. Tak terkecuali, Myung-Soo. Pria itu seperti lupa, bagaimana cara untuk berkedip.


"Wuahhhh ... calon menantu Eomma cantik sekali. Pa, coba lihat calon istri Myung-Soo, Bora benar-benar sangat cantik 'kan?" Nyonya Kang mendekat ke arah Nara, menarik gadis itu dan dia benar-benar seperti sedang membanggakan anak orang lain pada suami dan anaknya. "Lihat, Myung-Soo, kau itu sangat beruntung."

__ADS_1


Nara tersenyum kecil, gadis itu sedikit menunduk, menyelipkan rambutnya ke belakang telinga layaknya wanita yang tersipu saat mendapatkan pujian dari orang lain.


Pada salah satu kursi, Myung-Soo juga ikut tersenyum, kali ini ia telah bisa memalingkan wajahnya dari Nara. Pria itu masih menarik ujung bibirnya seperti lupa akan kejadian tadi sore.


"Silahkan, duduk, Nyonya Kang! Kita makan malam dulu," Yuri menarik Nara kemudian mendudukkan gadis itu di sebelah Myung-Soo. Sementara di sebelahnya ada anak sulungnya.


Dalam perjamuan makan malam itu, baik Myung-Soo atau pun Nara tidak ada yang banyak berbicara, keduanya tenggelam dalam pemikirannya masing-masing. Nara diam tentu karena dia terpaksa melakukan ini. Namun Myung-Soo. Tidak ada yang tahu.


"Jadi bagaimana?" tanya Jun-Myeon pada Tuan Kang.


"Pernikahan akan tetap dilakukan setelah Nara lulus sekolah, tapi pertunangan bisa diadakan secepatnya! Apa Bora setuju?"


Gadis itu tidak menjawab, dia malah fokus pada Hantu Bora yang keluar dari rumah itu dengan linangan air mata.


"Han Bora?" panggilannya lagi karena Bora benar-benar diam.


Gadis itu tersentak, ia langsung menoleh dengan wajah terkejut. "Bora setuju, Ma!" jawabnya yang mana itu membuat semua orang tertawa.


"Yang udah gak sabar buat nikah nie ye!" Han Jun-Myeon bercanda terhadap putrinya itu. Nara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gadis itu tidak tahu apa dan kenapa mulutnya mengeluarkan kata-kata seperti itu.


"Nara mau cari udara segar dulu, Ma, Pa!" ujar Nara meminta izin. Ia juga membungkuk ke arah keluarga Kang untuk menghormati orang-orang tersebut.


Jun-Myeon dan Yuri mengangguk mengiyakan permintaan putri bungsunya itu. Sementara Myung-Soo, atensinya juga terganggu sehingga dia pun meminta izin untuk keluar mencari angin.

__ADS_1


"Biarkan saja mereka mengobrol!" kata Nyonya Kang. Dua keluarga yang memiliki nama besar dan cukup berpengaruh di Korea itu berbincang dan terkadang akan tertawa bersama.


Di luar Rumah, Nara celingukan, ke sana kemari mencari keberadaan Bora. Tadi dia melihat gadis itu keluar dari rumah tapi kemana.


"Bora!" batin Nara memanggil. "Kamu di mana?" tanya Nara lagi. Tidak ada jawaban, sehingga, Nara pun memutuskan untuk mencari Bora ke taman di samping rumah. Dan benar saja, netranya meilhat sosok itu tengah duduk pada bangku taman.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nara. "Aku minta maaf kalau aku sudah membuatmu sakit hati!"


Bora menggelengkan kepalanya, dia mendongak, menatap langit yang sukar menampakan bintang. Bangunan-bangunan tinggi, di kota itu membuat langit kehilangan kepekaan untuk menampakan aksesoris malam tersebut.


"Aku sangat menyesal karena saat itu, aku terlalu manja kepada kedua orangtuaku. Aku lebih banyak meminta daripada memberi. Aku sedih karena sekarang aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mereka." Bora mengucapkan itu dengan suara yang sangat lirih. Nara menoleh ke samping lantas ikut menatap langit malam dengan pemikirannya yang juga tidak kalah kacau.


"Kau mungkin tidak beruntung, Bora. Tapi, bukankah sekarang ada aku, kau memberikan tubuhmu padaku, dan aku akan mencoba untuk mengabulkan permintaan mu."


"Really?" tanya Bora dengan wajah sumringah. Gadis itu menoleh ke arah Nara, meminta jawaban atas apa yang telah Nara katakan.


"Aku janji, tapi jangan larang aku untuk membalaskan dendam ku!" Nara ikut menoleh, menatap mata Bora dengan dalam.


"Aku janji," jawab Bora yakin. "Dan, untuk anak yang kau lahiran waktu itu, aku tidak yakin, tapi dia masih ada di rumah sakit!"


Netra Nara langsung terbelalak stelah mendengar kabar baik itu dari Bora, dia sudah akan berbicara, akan tetapi tiba-tiba saja, Nara mendengar langkah kaki seseorang.


"Apa yang sedang kau lakukan, Bora? Kau mengobrol dengan siapa?"

__ADS_1


__ADS_2