ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 36. Menghajar Orang Gila


__ADS_3

Nara mengembuskan napas beberapa kali setelah keluar dari mobil Myung-Soo. Perempuan itu terlihat sangat kesal tapi entah kenapa.


"Ra! Kenapa sih kamu bohong masalah kemauan kamu sama Kak Myung-Soo? Aku tahu kamu ingin mengajaknya kencan. Kenapa enggak bilang aja!"


Perempuan itu menunduk juga menarik ujung bibirnya, dia tersenyum miris atas apa yang dia rasakan saat ini. Nara mungkin egois akan satu hal, tapi ... Nara benar-benar tidak tahu ending seperti apa yang akan menghampirinya. Perasaan takut meninggal tiba-tiba muncul begitu saja. Andai kata nanti Bora bisa kembali ke dalam tubuhnya, dan dia harus menghilang, setidaknya Nara sudah merasakan kebahagiaan yang dia miliki sekarang. Asalkan dendamnya sudah terbalaskan, juga anaknya memiliki keluarga yang baik, Nara tidak akan menyesal. Dia sadar, kesempatan seperti ini tidak mungkin Tuhan berikan secara cuma-cuma. Bora juga tidak mungkin terus berkeliaran dalam keadaan seperti ini. Jika memang semuanya harus berakhir, pasti ada salah satu diantara mereka yang harus pergi.


"Jika pun itu aku, aku tidak keberatan, Bora!"


"Apa?" tanya Bora kebingungan.


Nara menggelengkan kepala, dia tersenyum dan kembali melanjutkan jalannya.


Langkah demi langkah membawanya berjalan melewati koridor, perempuan itu juga tersenyum kecil ke arah Eunhae dan Nayeon.


Tak!


Langkah kaki seorang pria menghentikan Nara yang baru akan masuk ke dalam kelasnya. Rahang perempuan itu mengetat, Nara mendongak menatap pria di depannya dengan tatapan membunuh.


"Apa!" ketus Nara.


Pria itu berdecih, dia ingin menyentuh dagu Nara tapi Nara tepis tangan itu, pria brengsek di depannya tertawa hambar, sedangkan para siswa dan siswi yang lain memadati area tersebut. Pemandangan seperti ini sangat jarang terjadi. Dewi sekolah diganggu preman sekolah, siapa yang tidak akan tertarik untuk melihat tontonan menyenangkan itu.


"Jangan galak-galak cantik, aku tahu kau akan sangat menyukaiku. Sok suci sama sekali tidak akan menyelamatkanmu!"


Nara berdecih, perempuan itu melihat ke area sekitarnya, senyum di bibir perempuan itu tersungging. Ia enggan berurusan dengan sampah di depannya. Tujuan Nara kembali bukan untuk mencari musuh baru, dia hanya ingin membalaskan apa yang belum tuntas di masa lalunya.


Tak!

__ADS_1


Lagi-lagi pria itu menahan langkah Nara. Seringai di wajahnya membuat para siswa dan siswi lain saling berbisik saking terkejutnya mereka melihat ada orang yang berani merundung Nara. Siswi baru dengan dekeng luar biasa.


Kesal dengan itu semua, apalagi saat mendengar gelak tawa pria brengsek di depannya, Nara dengan cepat mendorong leher pria itu dengan lengannya. Si pria pun terpojok sehingga suara riuh kembali terdengar.


"Oh my God!"


Semua orang yang ada di sana dibuat tercengang karena Nara tiba-tiba menarik kerah baju pria brengsek itu dan mengangkatnya ke atas sampai si pria tergantung dengan kaki bergerak mencari pijakan.


Seringai beralih ke wajah Nara. Mata perempuan itu menyala bak api yang siap melahap apa pun di sekitar. Ia mendongak, alisnya sedikit bergerak, bibirnya menahan senyum ke arah Bora yang menarik kerah baju belakang pria itu dari atas. Nara tidak menyangka jika semakin hari mereka menjadi semakin kompak. Kekuatan Bora juga semakin diluar nalarnya.


"Uhukkk! Lepp-as-kan a-aku!"


Pria brengsek itu memukul tangan Nara akan tetapi Nara tidak menggubrisnya sama sekali. Untuk apa memberikan kesempatan dengan mudah pada orang-orang gila seperti ini.


"Dengarkan aku, Pecundang! Jika kau memiliki penyokong!" Nara melirik ke arah Sarang yang berada di barisan paling belakang diantara orang-orang yang berkerumun. "Tanyakan dulu pada penyokong mu itu, apakah dia sanggup meredam kemarahan ku atau tidak. Karena jika tidak, kebusukannya akan aku bongkar lebih cepat dari waktu yang seharusnya!"


"Wuahhhhh!"


Orang-orang itu kembali bersorak heboh. Mereka semua bertepuk tangan padahal pria brengsek itu sudah terkapar, tersungkur dan terjerembab dengan memalukan setelah Nara dan Bora melemparkannya tanpa ampun.


"Go Bora! Go Bora! Go Bora!"


"Wuahhhhhh .... Dia benar-benar sangat kuat. Apa mungkin dia adalah Do Bong Sun versi remaja di dunia nyata!"


"Entahlah ... mungkin iya. Gila sih, keren banget. Damage nya bukan main!"


Bora tertawa mendengar perkataan absrud teman-teman Nara. Arwah itu ingin menambah pelajaran untuk pria brengsek itu, tapi Nara melarangnya.

__ADS_1


"Palingan dia punya ilmu sihir. Dia bukan orang baik!" ucap seseorang.


Nara dan Bora memincingkan mata, memusatkan pendengaran berusaha untuk mencari tahu siapa yang telah berani mengatakan hal menyebalkan seperti itu.


"Jangan asal bicara jika tidak mengetahui kebenarannya!" bela Henry.


Perempuan di belakang kerumunan terlihat sangat terkejut, buru-buru dia bersembunyi di belakang Sarang.


"Kalian semua masuk kelas! Hari ini kita ada ujian!"


"What!" pekik anak-anak itu tidak percaya. "Kenapa mendadak?"


"Tanyakan pada kepala sekolah!" jawab Henry tapi tatapannya tidak beralih sedikitpun dari sosok perempuan di depannya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Henry tulus.


Kening perempuan itu mengkerut. Basa-basi macam apa yang dilontarkan oleh pria ini. Apakah dia buta sampai tidak melihat kalau yang kalah adalah pria brengsek itu.


"I'm good," jawab Nara singkat. Ia berbalik untuk masuk ke kelasnya akan tetapi tiba-tiba Henry menahan pergelangan tangannya.


Perempuan itu mematung, ia menunduk sehingga Henry yang sadar pun melepaskan genggamannya. Ia meminta maaf karena tidak bermaksud untuk melakukan hal seperti itu.


"Ada yang ingin aku tanyakan!"


"Tentang apa?" tanya Nara sedikit ketus.


"Aku enggak bisa bilang di sini."

__ADS_1


__ADS_2