ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 15. Ketahuan Iseng


__ADS_3

Myung-Soo mendesah juga sesekali melirik ke arah Nara kesal. Bisa-bisanya gadis ingusan seperti Nara malah mempermainkannya. Pura-pura sakit agar mereka bisa cepat sampai di apartemen.


"Don't be mad, aku cuma pengen cepet-cepet ketemu sama Hyunsik. Bukan mau nempel sama Kakak. Jangan geer!" ketus Nara sambil memainkan ponselnya.


Myung-Soo tergelak, pria itu benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Bora. Padahal, dia sudah membantu Bora tapi ....


"Bora, seharusnya kau berterimakasih. Aku jauh-jauh dari kantor cuma buat menuhi panggilan guru karena kamu bikin masalah. Bisa enggak sih peka sedikit. Saya tahu kamu orang kaya. Tapi sikap seperti ini tidaklah baik sekalipun kepada orang yang paling dekat dengan mu."


Bukannya mendengarkan, Nara malah melirik ke arah Bora yang ada di belakang. "Calon suamimu sangat bawel, Bora. Bisa enggak sih kalau ditukar tambah aja."


"Eishhhhhhh ... emangnya dia barang bekas. Dia ini produk berkelas yang enggak akan kamu temui di manapun, Nara!"


Perempuan itu memutar bola mata malas, dia malah tersenyum - senyum melihat foto - foto Hyunsik yang ada di ponselnya.


"Bora! ... Han Bora!"


"Kenapa?" tanya Nara dengan suara pelan tapi nadanya itu sangat tidak menyenangkan.


"Kamu enggak denger saya ngomong apa?"


Nara mengangguk kemudian membungkuk ke arah Myung-Soo yang tengah fokus dengan setirnya.


"Maafkan, saya Tuan Myung-Soo. Terima kasih."


Jika Nara pikir Myung-Soo akan senang karena hal itu, Nara salah. Pria itu justru semakin meradang sehingga otaknya menjadi mendidih seperti akan meledak.


"Wih ... kamu tuh keren, Ra. Baru kali ini aku liat Myung-Soo Oppa kelimpungan. Dulu, dia itu cuek banget, aku ngoceh aja enggak pernah didenger. Tapi pas sama kamu, dia malah mengambil posisi ku saat itu, beginilah aku kalau kesel sama ini cowok. Tapi ... meskipun begitu, aku masih tetap menyukainya!" Bora menata wajah Myung-Soo dari samping, meskipun tidak terlalu jelas, tapi Bora sangat senang karena hal itu. Hal yang dikatakan Bora ini membuat Nara sedikit melirik ke arah Myung-Soo, tangan besar calon suaminya itu menarik dasi kasar. Mungkin dia sesak karena sejak tadi hanya marah-marah tidak karuan.

__ADS_1


Sesampainya di apartemen, Nara langsung berlari ke arah kamar Hyunsik. Dia tersenyum begitu melihat bayi mungilnya tengah tertidur pulas.


"Loh, Non Ara. Cuci tangan dulu kalau mau pegang bayi." Suster Jung mengingatkan. "Bayi baru lahir itu sangat sensitif. Kalau kita enggak hati-hati, kasian dianya. Nanti Tuan kecil sakit."


Ahhhh ... Nara langsung melesat pergi keluar. Perempuan itu berlari seperti anak kecil yang akan bertemu dengan teman-temannya. Namun, karena terlalu tergesa, Nara tidak siap ketika melihat Myung-Soo yang tengah berdiri di dekat pantry.


"Ekhhhhh!"


"Astagaaaa!"


Bruk!


Nara dan Myung-Soo jatuh bersamaan. Myung-Soo terlentang, sementara perempuan itu mendarat tepat di atas tubuh Myung-Soo, kelopak mata keduanya terbelalak saat sadar kalau bibir mereka crash dan ya, sampai sekarang pun masih menyatu. Nara tidak bisa mengangkat kepalanya karena ternyata hantu lucnu* Bora menekan kepalanya sehingga dia tidak bisa bergerak.


"Lanjutin dong, Ra. Tanggung tahu!" ujar Bora tanpa dosa. Hantu itu tertawa geli melihat ekspresi keduanya yang terlihat putus asa.


Myung-Soo beranjak dengan tergesa-gesa. Pria itu ingin menyingkirkan Nara dari pangkuannya akan tetapi perempuan itu malah menjerit membuat Myung-Soo ketakutan.


"Yakkkk! Sakit!" ketus Nara. Dia menunduk masih dengan posisi yang sama. Duduk di atas pangkuan Myung-Soo dengan kepala tertunduk dan tangan yang memegang rambutnya.


"Apa yang kau lakukan!" Myung-Soo memekik tak kalah kencang.


"Menurutmu apa! Rambutku nyangkut di kancing baju Kakak. Jangan ditarik, nanti aku pitak. Bora bisa marah padaku!"


Deg!


Ketiga orang itu mendadak terdiam, Myung-Soo mengerutkan kening mendengar hal aneh yang keluar dari mulut Nara. Bora marah? Bukankah Bora adalah dirinya sendiri?

__ADS_1


"Eishhhhhhh ... maksudnya, nanti Mama marah. Tolong lepaskan, sakit, Kak!"


Myung-Soo mengangguk mengerti, sedangkan Bora hanya bisa mengelus dada lega. Bisa-bisanya Nara keceplosan di saat seperti ini.


"Pelan-pelan!"


"Bawel. Ini juga sudah pelan-pelan. Lagian kenapa sih harus lari-larian kayak gitu. Kamu pikir ini taman bermain, kalau yang kamu tabrak Suster Jung yang lagi bawa Hyunsik gimana?"


"Enggak mungkin, Hyunsik lagi di kamar." Nara menjawab seadanya.


Tak!


Myung-Soo menyentil kening Nara kesal. "Ini misalnya. Bukan hari ini, tapi di lain hari. Hati-hatilah. Jangan ceroboh, otak saja mau ngurus bayi. Nyata-nyatanya malah sendirinya yang masih harus diurus.


Pria itu mendorong tubuh Nara setelah rambut itu berhasil dia lepaskan. Nara malah berdecih, komat-kamit seperti mengulang apa yang telah Myung-Soo katakan.


"Calon suamimu itu rada gila, Bora!"


"Kau yang gila!" ketus Bora lantas melengos pergi ke kamar Hyunsik.


Hantu itu bersorak heboh ketika melihat Hyunsik sudah bangun. Namun, Suster Jung malah tengah sibuk membereskan pakaian Hyunsik ke laci lemari milik bayi itu.


"Halo, Hyunsik. Ini Mommy, sayang. Yang tadi lari itu, Eomma, Eomma mu. Ini mommy, mau main sama mommy enggak? Mau liat pesawat terbang?" Bora berceloteh di depan wajah Hyunsik. Bayi itu sama sekali belum mengerti, pandangannya masih belum jelas tapi Bora sangat antusias. Hantu itu mengambil boneka pesawat terbang, dan mulai menerbangkan pesawatnya di atas wajah Hyunsik.


Tanpa Bora sadari, detik yang lalu, Suster Jung telah selesai dengan pekerjaannya. Namun, saat berbalik, dia mematung, menatap boneka itu dengan mata membulat dan juga mulut ternganga.


"See ... seee ... SETANNNN!" teriak Suster Jung dengan suara 3 oktafnya.

__ADS_1


"Hyunsik!" gumam Nara dan Myung-Soo bersamaan.


__ADS_2