ARA The Bloody Moon

ARA The Bloody Moon
ATBM Bab 41. Tidak Bisa Ditunda


__ADS_3

Nara mengembuskan napas kasar beberapa kali. Perempuan yang tengah menikmati makan siangnya itu dibuat tidak berselera karena tingkah Sarang yang menurutnya keterlaluan. Definisi dikasih hati minta jantung sangat tepat untuk perempuan gila itu, apalagi saat dia dengan pedenya mengancam Nara dengan hal tidak masuk akal.


"Jadi gimana, Ra. Kalau kamu mau, kita akan mulai dengan Sarang lebih dulu. Lagipula untuk apa kita menahannya lebih lama, toh dia itu masih tidak kapok."


Eunhae mengatakan itu dengan kilatan amarah dimatanya. Ia tahu bagaimana sikap Sarang pada Nara saat ini. Perempuan itu terlalu sombong, diberikan kesempatan bukannya dimanfaatkan dengan baik malah membuatnya semakin menjadi-jadi.


"Aku setuju, Ra!" sahut Nayeon. "Tidak ada untungnya membiarkan Sarang terus bebas. Sebaiknya kita buat dia menerima apa yang harus dia terima. Sarang itu sudah gila, tidak perlu dikasihani lagi."


Nara mengambil gelas berisi jus leci di depannya dengan lesu. Sungguh, dia juga ingin membuat Sarang menerima akibatnya, tapi ....


"Jangan tapi-tapian, Nara. Jangan merasa berat hanya karena perempuan itu saudara Kak Myung-Soo. Sudah waktunya bagi Sarang menerima apa yang harus dia terima!" ujar Bora menyakinkan.


Nara kembali membuang napas kasar. Perempuan itu menatap teman-temannya satu per satu, oke ... jika memang sudah waktunya, sekarang giliran Sarang yang harus mereka basmi.


"Lakukan sesuai dengan apa yang telah kita sepakati," kata Nara lantas beranjak dari kursinya.


Orang-orang itu mengangguk dengan senyum menyeringai. Baik Nayeon, Eunhae dan Hye-In, mereka semua sangat senang dengan apa yang Nara katakan. Memang sudah bukan waktunya untuk mereka terus mengalah, apalagi menunggu, Sarang pantas mereka basmi. Sarang adalah bentuk lain dari iblis kejam yang tidak memiliki hati.


....


Dalam langkahnya menuju kelas. Nara kembali dipertemukan dengan Minho dan teman-temannya. Para pria itu menatap Nara dengan senyum berbeda. Ada sesuatu yang tidak bisa Nara baca dari raut wajah kedua orang itu.

__ADS_1


"Mereka itu orang-orang gila! Jangan terpengaruh karena mereka. Kita pasti bisa melawan mereka, Ra!" ingat Bora.


Nara pun mengangguki hal tersebut, dia bukan takut terhadap Minho dan teman-temannya, hanya saja. Nara curiga jika orang-orang itu memiliki niat tidak baik pada mereka.


"Nara!" panggil seseorang tiba-tiba.


Nara menoleh, bibirnya menyunggingkan senyum saat dia melihat Henry tengah tersenyum ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Nara to the point.


"Nanti sore ada rapat OSIS. Kamu juga harus ikut!"


"Lha, kenapa?"


Nara hanya mengangguk. Dia melirik ke arah Bora, dan Bora pun setuju untuk hal itu. Bagi Bora, ini adalah kesempatan yang baik. Menjadi murid yang memiliki pengaruh adalah keinginannya sejak dulu. Jika saat itu dia tidak bisa mendapatkan semuanya, sekarang Bora bisa menjadi populer dengan bantuan dari Nara.


"Baiklah ... kita bertemu setelah pulang sekolah!" kata Nara memperjelas semuanya.


Henry tersenyum, ia mempersilahkan Nara untuk berjalan di sampingnya, berbincang tentang maslah pembelajaran sampai pada akhirnya mereka sampai di depan pintu kelas Nara.


Hal aneh terjadi begitu Nara masuk ke dalam kelasnya. Perempuan itu mengerutkan kening, semua teman-temannya mantapnya Nara dengan tatapan tidak biasa, antara jijik dan benci, entah mana yang paling benar.

__ADS_1


"Ada apa, Ra?" tanya Bora.


Nara pun tidak tahu, dia juga baru masuk ke kelas, mana mungkin dia tahu apa yang sedang terjadi dengan teman-temannya.


"Najis banget, ya. Udah punya tunangan masih aja sibuk selingkuh sama cowok lain. Mana si cowok baik banget, kasian mereka."


"Hmmm ... aku tidak kenal siapa pria itu, tapi melihat dari wajahnya, dia sepertinya sangat baik. Sayang banget kalau mereka harus mendapatkan perempuan kayak gitu!'


"Aku paling tidak suka kalau ada yang mendekati presiden sekolah kita. Nara itu sudah memiliki calon suami, apa satu pria tidak cukup?"


Nara semakin kebingungan, dia tahu, siapa yang sedang mereka bicarakan. Namun, kenapa mereka tiba-tiba seperti ini, padahal sebelumnya mereka pro terhadapnya karena mereka juga sudah tahu bagaimana busuknya Sarang.


"Astagaaaa lihat ini, Nara!"


Bora tercengang saat melihat foto-foto Nara, dan Myung-Soo juga foto-foto Nara dengan Henry ditempel pada green board di depan kelas. Kening Nara mengkerut, foto-foto ini adalah foto-fotonya dengan Henry tadi malam. Dia yang sedang tertawa juga Henry yang tengah menatap ke arahnya membuat mereka terlihat sangat dekat.


"Siapa yang melakukan ini?" geram Nara dengan kedua tangan terkepal.


"Aku tanya siapa yang melakukan ini?" pekik Nara lagi dengan amarah yang siap untuk dia ledakan.


"Aku!" jawab seseorang maju ke hadapan Nara. "Aku yang melakukannya, Nara! Aku!"

__ADS_1


"Hye-In!" gumam Nara. Perempuan itu tercekat, bola matanya hampir saja keluar karena fakta yang ada di depannya. "Bagaimana bisa kau melakukan ini, Hye-In?"


__ADS_2