Ariana

Ariana
Syok


__ADS_3

Pagi hari nya Danu menggedor gedor pintu kamar Ariana, tapi tidak ada jawaban.


Akhirnya Danu membuka paksa pintu dengan kunci serep, tapi Ariana tak di temukan.


Saat Danu membuka pintu kamar mandi, dia menemukan Ariana terkapar di bawah pancuran air kran.


Tubuh Ariana sangat dingin, bibir nya pucat.


Danu sekuat tenaga menggendong Ariana, dan berlari menuju mobil untuk segera membawa Ariana ke rumah sakit.


Nina yang mendapat kabar dari Danu bahwa Ariana masuk rumah sakit, sesegera mungkin mengirim pesan pada Rian.


(Tuan..., Ariana masuk rumah sakit)


Rian jelas benar benar terkejut mendapat kan kabar itu. Ada rasa khawatir menyeruak dalam hati nya.


Dia pun segera pergi untuk mengetahui keadaan Ariana.


***


Di rumah sakit Tuan Heru dan Danu menunggu dengan gelisah. Danu mondar mandir dengan gelisah.


Tak lama Nina juga datang dengan wajah cemar.


Rian yang baru sampai mencari cari tau keberadaan Ariana. Akhirnya dia menemukan nya saat ingin menyapa.


Buukkk!!! pukulan keras pada pipinya membuat dia mengeluarkan darah dari bibirnya.


Rian meringis kesakitan.


''Apa yang kau lakukan pada adik ku?!!!'' mencengkram kerah baju Rian dan berteriak di depan wajah nya.


Rian hanya diam...


Nina memandang dengan ketakutan, baru kali ini dia melihat Danu semarah ini.


Tuan Heru ingin melerai di saat Danu hendak melayang kan pukulan lagi.


Cekrek! pintu terbuka.


Danu segera melepas kan Rian dan menghampiri Dokter.


''Bagaimana adik saya Dok?'' cemas Danu.


''Nona mengalami syok berat. Apakah Nona pernah mengalami hal yang mengancam jiwa nya?'' Dokter.

__ADS_1


Apa??? mengalami hal yang mengancam jiwa nya? syok??? apa maksudnya? pikir Rian.


''Apa itu sangat berpengaruh?'' tanya Danu


lagi.


''Cukup berpengaruh, karena di lihat dari hasil pemeriksaan, emosi nya belum stabil. Mohon jangan memancing emosi Nona, biar kan Nona istirahat dengan baik. Saya permisi'' pamit Dokter.


''Apa kami boleh menemuinya?'' pertanyaan Rian membuat semua mata tertuju pada nya.


''Boleh, tapi tolong ingat pesan saya tadi'' ucap dokter lagi.


***


Ariana sedang duduk bersandar di tempat tidur, pikiranya melayang mengingat kejadian semalam, ada gemuruh hebat di dadanya. Dia sendiri juga tahu atas kesalahan nya.


Tuan Heru, Danu, Nina dan Rian masuk bersamaan. Tapi Rian tak berani lebih dekat, dia berdiri di dekat pintu memperhatikan wajah pucat Ariana.


Apa aku benar benar keterlaluan? apa ini semua salah ku? kenapa aku begitu sedih menatap nya seperti ini?? gumam Rian.


Ariana menyadari kehadiran mereka tapi dia tak bergeming, wajah pucat nya menghadap keluar jendela kaca.


''Nak...'' Tuan Heru menghampiri membelai rambut panjang Ariana.


Ariana hanya diam.


Nina menatap Ariana, menyentuh kaki nya tapi tidak mengucap kan apa pun.


Ariana tetap diam.


''Ariana...'' suara itu membuat Ariana bereaksi menatap asal suara itu tajam.


Rian menatap nya dengan penuh penyesalan.


Semua terdiam..., melihat Ariana dan Rian yang saling bertatap pandangan dalam keheningan.


Masih berani kau menampakan wajah mu di depan ku! laki laki brengsek!!! Ariana. Meskipun ada rasa lega yang menyelimuti hati nya, dia tetap merasa kesal.


Mata itu penuh kebencian menatap ku, kenapa hati ku jadi sakit? Rian. Akan kah perjodohan ini di batal kan.


''Keluar kau!'' usir Danu pada Rian.


Rian hendak berbalik membuka pintu.


''Tinggal kan kami kak!'' ucap Ariana.

__ADS_1


Rian menoleh menatap tak mengerti.


''Maksud mu?'' tanya Danu


''Aku ingin bicara dengan nya'' ucap Ariana memalingkan wajah menatap ke luar jendela.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Mohon dukungan nya ya ๐Ÿ™๐Ÿ˜‰


__ADS_2