
Malam semakin larut...
Tapi Ariana masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sudah hampir dua minggu ini dia bekerja lembur menyelesaikan pekerjaan Danu yang menumpuk selama dia pergi.
Nina selaku sekertaris juga ikut membantu.
Ariana juga sudah hampir dua minggu tidak bertemu Robi dkk. Dia benar benar di sibuk kan dengan urusan perusahaan yang di dirikan oleh Ayah nya.
Rian juga selalu setia mengantar jemput Ariana, hubungan mereka bisa di bilang semakin baik. Ariana sudah terbiasa dengan kata kata Rian yang mungkin menggelikan di telinga nya.
Ariana benar benar menikmati kasih sayang yang di berikan Rian pada nya, meskipun ia sendiri tidak tau perasaan nya seperti apa pada Rian. Yang dia tahu hanya Rian adalah tunangan nya.
''Sayang...kau belum selesai?'' tiba tiba Rian muncul dari balik pintu memecah kan keheningan.
Rian juga membawa dua kantong makanan juga minuman.
''Cie cie...ehem...tau aja nih Tunangan nya belum makan'' ucap Nina menggoda Ariana yang tampak masih sibuk dengan pekerjaan nya.
''Nina, selesaikan pekerjaan mu!'' ucap Ariana tanpa mempedulikan pertanyaan Rian.
''Nina, jadi bos mu yang dingin ini belum makan malam ya?'' tanya Rian melirik Ariana yang masih tak peduli kehadiran Rian.
''Hmz, belum Tuan'' jawab Nina ragu karena tatapan Ariana yang melototi nya.
''Hei, jangan menatap ku seperti itu! kau memang blm makan malam tadi'' jelas Nina, seraya berdiri.
''Kau mau kemana?'' tanya Ariana.
''Ke meja kerja ku!'' jawab Nina meninggal kan ruangan.
Rian masih menatap Ariana yang benar benar seolah tak peduli pada nya.
''Apa?!'' tanya Ariana judes.
Rian hanya melirik ke arah sofa yang di atas meja terdapat makanan yang ia bawa tadi.
Ariana masih tak bergeming.
''Kau mau aku suapi?'' tanya Rian dengan senyum menggoda.
__ADS_1
Ariana memang sudah menahan lapar nya dari tadi, tapi rasa enggan memaksa nya untuk malas menyantap makan malam.
Tapi karena Rian mengancam akan menyuapi nya, akhirnya Ariana duduk di sofa memakan makanan yang di bawa kan Rian.
''Apa paman sudah menelepon?'' tanya Rian.
''Belum'' jawab singkat Ariana.
''Kalau Kak Danu?'' tanya Rian.
''Tadi pagi dia menelepon, aku ingin bicara pada Papa tapi, Kak Danu bilang Papa lagi tidak bisa di ganggu'' jawab Ariana sedikit kecewa, dia benar benar merindukan Papa nya.
Rian dapat melihat ke kecewa an Ariana.
''Mungkin paman memang sedang sibuk'' ucap Rian menenangkan Ariana.
Ariana hanya diam, tak bergemin.
''Oh ya, apa kau besok akan datang ke acara reoni?'' tanya Rian lagi, mencoba mengalihkan rasa kecewa Ariana.
''Tidak!'' jawab Ariana.
''Karena kau pasti mengikuti ku!'' jawab Ariana acuh.
Sebenarnya Ariana memang tidak akan datang, karena dia tidak mau melihat tatapan Robi yang menahan cemburu.
''Hei, kenapa jadi aku?'' tanya Rian '' Apa kau tidak mau aku datang?'' lanjut Rian.
Ariana hanya dia tanpa menjawab.
Dia meletakan sendok di tangan nya, bersandar di sofa dan memejamkan mata nya. Ada rasa rindu yang sangat melanda hati nya.
Rindu pada Papa dan Kakak nya, tanpa sadar air mata menetes jatuh membasahi pipi nya.
''Sebenarnya apa yang terjadi? apa yang di lakukan Papa dan Kak Danu di sana? kenapa aku di tinggal sendiri?'' kata kata itu keluar begitu pelan dari bibir Ariana, tapi masih jelas terdengar oleh Rian.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih untuk yang sudah mau baca karya perdana ku ini. Tolong bantu Like, Coment, dan Vote ya 🙏
__ADS_1