
''Sayang...ayo kita bersiap'' kata Rian mengagetkan Ariana dari lamunan nya.
Ariana membuka mata nya, dan melihat Rian sudah di hadapan nya.
Rian mengulurkan tangan untuk membantu Ariana berdiri.
Sesaat Ariana terdiam, menatap wajah pria tampan itu, kemudian Ariana menyambut uluran tangan Rian, yang membuat Rian tersenyum bahagia.
Mereka keluar ruangan,
''Ariana kau tidak apa apa?'' tanya Nina yang melihat Ariana sedikit pucat.
''Ikut lah!'' hanya kata itu yang keluar dari bibir Ariana.
Dia berjalan jauh meninggal kan Nina dan Rian yang masih menatap bingung.
Rian hanya mengangkat bahu yang juga tidak mengerti apa masuk Ariana.
Sepanjang perjalanan tak ada yang berbicara,
Ariana masih tetap dengan kebiasaan nya memandang keluar jendela. Kali ini ia duduk di belakang bersama Rian, sedangkan Nina di depan bersama supir. Semua hanya diam.
Ada apa sebenarnya? kenapa Ariana mengajak ku juga? gumam Nina dalam hati.
Kring....kring.... panggilan telepon di hp Rian.
Kak Danu? pikir Rian
Rian (halo kak?)
Danu (Rian, apa kau sudah bersama Ariana?)
Rian (Iya, kami sedang di jalan menuju bandara)
Danu (Ok baik lah, kabari aku jika sudah sampai)
Rian (iya kak)
tut...tut...
''Siapa?'' tanya Ariana kali ini dengan menatap Rian.
__ADS_1
''Kak Danu'' jawab Rian.
Ariana berpaling menatap keluar jendela, pikiran nya melayang entah kemana dia benar benar merasa sangat takut hingga tak sanggup untuk menerka nerka.
Papa...aku harap kau baik baik saja, meski hati ku sungguh gelisah. gumam Ariana.
Rian memandangi Ariana, mencoba meraih jari jemari nya, menggenggam dalam genggaman nya tanpa satu kata pun yang keluar dari bibirnya.
Ariana membalas genggaman itu dengan lembut, masih dengan tanpa memalingkan pandangan.
***
Di singapore.
Di rumah sakit yang cukup ternama, Danu masih berdiri di depan ruang ICU, menatap lewat pintu kaca wajah Ayah nya yang terbaring di ranjang dengan segala alat bantu pemacu kehidupan.
Hati nya begitu teriris, menyadari betapa egois nya dia, yang berusaha mencoba mengubah takdir yang tertulis.
Pa...maafkan aku, belum bisa melepas kepergian mu. Aku sungguh tidak sanggup melihat mu seperti ini, aku ingin Ariana bertemu dengan mu sekali saja, mungkin untuk yang terakhir kali. gumam Danu dalam hati yang meneteskan air mata tak tertahan.
Tuan Heru meminta agar Danu menyerahkan surat wasiat setelah kepergiannya, dia tidak ingin Arian melihat nya menderita terbaring di sini.
Bagaimana pun, Ariana adalah adik nya, dan juga putri orang yang terbaring tak berdaya itu. Danu yakin Ariana pasti sangat ingin bertemu dengan Ayah nya.
Pa...bertahanlah sedikit lagi, Ariana akan datang kemari. Kau ingin melihat nya menikah bukan? Aku akan wujud kan itu hari ini, di hadapan mu. Pa...aku akan berjuang semampu ku. gumam Danu dalam hati nya, menatap nanar sosok yang terbaring.
Benar benar terasa perih dan sesak di dada, menerima kenyataan Orang Tua nya yang kini terbaring tak berdaya. Andai waktu dapat di putar, andai waktu bisa lebih cepat mengetahui penyakit Papa nya, mungkin semua tak akan seperti ini.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hai hai... terimakasih buat yang sudah support dengan cara Like, Coment, dan Vote 😘
Buat yang belum, pliss jangan pelit Like nya ya.
Terimakasih🙏😉
__ADS_1