Ariana

Ariana
Papa...


__ADS_3

Ariana masih memejamkan mata nya, mencoba menahan isak tangisnya.


Ariana tidak pernah di tinggal begitu lama lebih dari dua hari.


Tapi kali ini pertama ia di tinggal kan hampir dua minggu lama nya.


Hanya Danu yang setiap hari menelepon nya, bertanya kabar, dan meminta Ariana untuk tidak khawatir, hanya suara Danu yang ia dengar.


Dia rindu suara Tuan Heru...


''Riana...'' panggil Rian menyentuh bahu Ariana.


''Inikah tujuan Papa menjodohkan ku? agar aku bisa di tinggal sendiri seperti ini? apa Papa begitu membenci ku?'' ucap Ariana yang masih terpejam, dan terdengar isak tangisnya.


''Kenapa Papa begitu percaya pada mu untuk menjaga ku? apa Papa sudah tidak mau menjaga ku lagi? apa karena aku begitu sering membuat nya marah, jadi dia begitu membenci ku?'' masih dengan isak tangis nya.


Rian menarik tubuh Ariana dalam pelukan nya, membiarkan Ariana menangis dalam pelukan nya. Hatinya dapat merasakan betapa rindunya Ariana pada Tuan Heru.


''Jangan berpikir yang tidak tidak, Paman pasti punya alasan sendiri'' ucap Rian menenangkan, sembari membelai rambut panjang Ariana.


***


Singapore.


Danu duduk dengan begitu cemas dan gelisah di depan ruang ICU.


Sudah hampir dua minggu ini keadaan, Tuan Heru menurun.


Segala upaya sudah di lakukan dokter untuk mencegah penyebaran kangker hati yang di derita Tuan Heru satu tahun belakangan ini.


Tuan Heru meminta Danu untuk merahasiakan penyakit nya pada Ariana, dia tidak ingin membuat Ariana bersedih dan khawatir.


Tuan Heru sangat tau, bagaimana pun Ariana marah dan kesal pada nya, Ariana sangat lah mencintai nya, tidak ada orang tua yang tidak bisa mengerti putri nya.

__ADS_1


Dari itu, Tuan Heru bersikeras untuk menjodohkan nya, karena ingin membuat Ariana bisa mencintai pria selain dirinya dan Kakak nya.


''Pa...'' panggil Danu di samping tempat tidur Ayah nya.


Tuan Heru hanya menatap nya, mencoba tersenyum seakan berkata JANGAN KHAWATIRKAN PAPA.


Danu menggenggam erat jari jemari orang yang sudah membesarkan nya itu, yang menuntun nya untuk pertama kali belajar berjalan, jari jemari yang selalu menyentuh kepala nya saat Danu kecil melakukan hal yang luar biasa.


Dan kini, jari jemari itu bagaikan tulang yang hanya berlapiskan kulit saja. Kangker itu menyebar begitu ganas nya, membuat tubuh Tuan Heru menjadi sangat kurus.


Danu menahan air mata nya untuk menetes, tapi usahanya sia sia. Danu hanya menundukkan kepala, menciumi tangan yang penuh bekas jarum suntikan itu.


Bahkan masih ada selang infus di tangan itu,


''Da...nu..., ja....ga....a...dik....mu, ja....ngan....bu....at....di...a....me...nang...is'' ucap Tuan Heru dengan suara lemah penuh rasa kesakitan.


Danu hanya, mengangguk an kepalanya. Mencoba untuk menguatkan hati nya.


***


Rian membelai lembut rambut Ariana yang menutupi wajah nya.


Wajah polos wanita tomboi itu, terlihat begitu tenang. Meskipun ada beban berat yang di pikul nya.


''Tidur lah sayang, aku akan di sini menjaga mu'' ucap Rian pelan mencium kening Ariana.


Rian berjalan menuju pintu, menyuruh Nina untuk pulang.


Nina mengiyakan, dengan cepat meninggal kan tempat nya bekerja.


Rian kembali ke ruangan, menatap lekat wanita yang terbaring di sofa dan tersenyum.


Aku benar benar sudah jatuh cinta pada mu gumam Rian dalam hati.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Tolong jangan lupa bantu support ya ๐Ÿ™๐Ÿ˜‰

__ADS_1


__ADS_2