
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Ariana, Rian dan Nina sampai di Singapore.
Danu menjemput mereka di bandara dan membawa nya ke apartemen milik mereka, sepanjang perjalanan Ariana hanya bertanya tentang Papa nya.
''Kak, kenapa Papa tidak menjemput ku?''
''Papa di mna?''
''Papa baik baik saja kan?''
Pertanyaan pertanyaan Ariana yang hanya di jawab oleh kebisuan Danu.
''Kak, kenapa kau diam saja? kemana Papa? aku sedang bertanya?!!'' tanya Ariana lagi dengan nada sedikit tinggi.
''Sayang...tenang lah'' ujar Rian mencoba menenangkan.
''Kak Danu!!!'' teriak Ariana tanpa peduli ucapan Rian.
''Istirahat lah dulu, nanti akan ku bawa menemui Papa'' ucap Danu setelah mereka sudah sampai di apartemen.
''Apa maksud mu? menemui Papa? memang Papa di mana? Kakak?!!'' bentak Ariana tanpa sadar.
Danu hendak berlalu pergi tanpa peduli dengan wajah gusar pada adik nya, dia sangat tau perasaan Ariana saat ini pasti sedang sangat kacau.
Tapi Ariana tidak menyerah, dia mencoba mencegah kakak nya, menarik lengan kakak nya, dan mencoba menahan tubuh Danu menghimpit di dinding pintu.
''Kakak!!!!'' bentak Ariana tepat di wajah tampan Danu.
Danu dapat melihat tatapan kecemasan sekaligus kemarahan pada mata Ariana.
Rian yang sedari tadi hanya melihat, mencoba menghampiri Ariana untuk menjauhkan nya dari tubuh Danu.
Tapi dengan cepat Danu mencegah dengan mengangkat tangan nya.
Danu menatap lekat wajah Ariana dan menyentuh pipi mulus adik nya,
''Aku tau ini bukan saat nya, tapi aku juga tau kau tidak akan bisa tenang jika aku belum menjawab mu'' ucap Danu pelan dan lirih.
Cengkraman Ariana melemah, menatap tak mengerti pada kakaknya.
''Apa maksud kakak?'' dengan tatapan mata seorang adik yang mengiba.
__ADS_1
Danu mengeluarkan sepucuk kertas putih yang di lipat rapi, dan menyerahkan nya pada Ariana.
Ariana menerima dengan gemetar, dan gemuruh dada nya benar benar sudah tidak beraturan.
Dia kenal tulisan tangan itu, biar pun sedikit berantakan tapi dia yakin itu tulisan orang yang pernah mengajarkan nya pertama kali menulis.
Rian dan Nina sama sama menatap tak mengerti. Ada apa ini sebenarnya? gumam mereka berdua.
Arian membuka kertas yang terlipat itu, mencoba membaca dan mengartikan kata kata yang tertulis di sana. Dada sesak nya, tak tertahan mengalirkan air mata yang menetes deras.
*Dear Tuan Putri ku.
Salam sayang dan cinta ku untuk mu....,
Tuan Putri ku sungguh tumbuh begitu cantik, anggun dan pemberani sama persis seperti Mama mu.
Mungkin Papa begitu egois selama ini pada mu Nak, sampai Papa pergi pun tak pamit pada mu...,maaf kan Papa ya. Papa sangat menyayangi mu lebih dari apa pun, dan Papa yakin kau tau itu.
Maafkan Papa yang menyembunyikan semua nya, Papa tidak ingin melihat mu khawatir.
Ingat lah bahwa Papa selalu menyayangi mu, jadi lah Tuan Putri ku yang seceria mentari pagi.
Rian pria yang baik sayang...menikah lah dengan nya. Hiduplah bahagia dan lupakan masa lalu itu.
Salam sayang dan cinta ku dari Pelayan mu, dan Papa yang selalu mencintai mu*.
Ariana terdiam, tatapan kosong dengan air mata yang terus mengalir tanpa henti. Hati nya begitu sakit dan perih. Seketika pandangan menjadi gelap, tanpa terdengar suara.
Ariana pingsan.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Lanjut ya...😉