
Akhirnya Ariana benar benar tertidur dengan lelap, Rian menyelimuti tubuh Ariana dengan jas yang ia gunakan. Hingga saat Danu dan Nina kembali pun Rian memilih tak membangunkannya.
Nina yang merasa cukup lelah pun memilih membaringkan tubuh nya di sofa, menatap nanar wajah Ariana yang tertidur pulas.
Ternyata Paman sangat memahami mu Ar, aku pikir kau sudah lebih baik dan bisa membuka hati untuk Tuan Rian. pikir Nina.
Nina mengingat kejadian saat gelas yang pecah di genggaman Ariana.
Kau pasti mengingat kejadian itu, maafkan aku Ar aku sudah lancang menceritakan nya pada Tuan Rian, meskipun aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Tapi aku dapat melihat ketakutan mu saat itu. Pikir Nina lagi.
***
Malam hari itu, Danu benar benar panik setelah mendapat telepon dari Nina. Ia bergegas mencari keberadaan Ariana, seluruh pengawal dan pelayan di kerah kan untuk mencari Adik kesayangan nya.
Seluruh tempat di jelajahi, semua tempat di geledah secara paksa.
Tanpa terkecuali!
Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00 malam, tapi belum menemukan keberadaan Ariana.
''Nina!!! katakan siapa yang membawa pergi Ariana?!!!!'' bentak Danu penuh dengan amarah.
Tanpa sadar mencengkram kuat kedua bahu Nina, hingga meninggalkan sedikit memar.
''Sa....saya tidak me...lihat wa...jahnya Tuan'' jawab Nina terbata bata, menahan sakit sekaligus ketakutan.
''Aaagghhrrrryyyyytrrrrr!!!!!! Sial!!!!'' teriak Danu putus asa.
Hingga tak lama berselang ada suatu pesan yang memberi petunjuk bahwa melihat mobil yang terparkir di daerah sedikit kumuh tidak jauh dari gedung tua.
Danu segera beranjak dan menuju tempat kejadian.
Saat Danu turun hendak menutup pintu mobil, ia menangkap bayangan seorang wanita penuh dengan darah di tubuh nya, rambut yang berantakan, wajah pucat dengan penuh tangisan dan baju yang terkoyak memperlihat kan tubuh bagian depan nya.
Sedetik kemudian Danu tersadar siapa yang sedang ia lihat.
''Ariana!!!'' pekik nya segera berlari mendekati wanita itu.
Ia melepas jaket nya dan memakaikan nya pada Ariana, menutupi bagian tubuh adik nya, dan memeluk nya dengan erat.
Ariana masih tetap terisak segugukan, tubuhnya dingin juga gemetar ketakutan.
__ADS_1
Danu menatap nanar pada Ariana, darah yang masih terlihat segar di pakaian dan darah yang terus menetes dari genggaman tangan nya.
''Ariana?! apa yang terjadi?!'' tanya Danu penuh dengan kekhawatiran.
Ia mencoba melepaskan pecahan kaca di genggaman Ariana.
Nina menatap nya syok dan menutup mulut dengan kedua tangan nya, air mata nya menetes deras.
''Riana?!'' panggil Nina mendekati Ariana.
Ariana menatap Nina masih dengan air mata yang mengalir.
''Aku membunuh nya...aku membunuh nya!!!'' ucap Ariana di iringi isak tangis, dan gemetar tubuh nya, memeluk tubuh sahabat nya.
Karena melihat kondisi Ariana akhirnya,
Danu menyuruh supir untuk mengantar kan Ariana dan Nina pulang ke rumah, dengan empat orang pengawal.
Memastikan Ariana akan tetap aman.
Di dalam mobil Ariana masih benar benar ketakutan, tubuh nya gemetar hebat. Nina mencoba membalut luka di tangan Ariana dengan sapu tangan miliknya.
''Jangan takut, tidak ada yang akan menyakiti mu, tenanglah'' lanjut Nina.
Ariana hanya tetap diam dengan isak tangis yang masih terdengar.
Nina dapat mengerti ketakutan Ariana saat itu, ia terus memeluk nya.
Sesampai di rumah, Tuan Heru begitu panik melihat keadaan Ariana, dia terus menanyai Ariana tapi Ariana dia seribu bahasa.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut 🙏
__ADS_1