
Ariana terus berjalan menaiki tangga, memasuki kamar yang di ikuti Nina dan di susul Tuan Heru.
Ariana langsung menuju kamar mandi,
Brak!!! pintu tertutup kasar.
Ia meninggalkan Nina di balik pintu.
Ariana segera menghidupkan kran air agar lekas membasahi tubuh nya.
Ia mengoyak pakaian yang ia kenakan, membuang ke sembarang arah.
Ariana menggosok tubuh nya dengan sangat kasar, hingga rasa pedih akibat gosok kan nya tak di rasa kan.
Seakan ingin membersihkan dan menghilangkan bekas sentuhan dan jilatan laki laki yang hampir merenggut masa depan nya.
Hampir satu jam lebih Ariana belum juga ke luar dari kamar mandi.
Nina dan Tuan Heru menanti dengan sangat panik, lalu mencoba mengetuk pintu.
''Ar?!!! kau sedang apa? buka pintu nya!!'' pekik Nina.
''Ar!!! aku mohon! buka pintu nya!!!!'' Nina.
''Ar, ini Papa!!! buka pintunya Ar!!!'' ucap Tuan Rian.
Cekrek! pintu terbuka.
Ariana keluar dengan memakai baju handuk nya.
''Ar apa yang terjadi?'' tanya Tuan Heru lagi.
Tapi Ariana masih diam, ia berjalan menuju ruang ganti pakaian.
Saat ia mencoba melepas handuk nya, terlihat dari pantulan kaca bekas kecupan merah di dada kiri nya.
__ADS_1
Ariana terperanjat, ia seperti merasa marah dan jijik, entah apa yang ada di pikirannya. Ia meraih gunting yang ada di laci meja rias nya.
Sedetik kemudian Ariana menggoreskan gunting itu di atas tanda kecupan, seakan mencoba menguliti tubuh nya, membuang tanda merah itu segera, darah segar mengalir deras, membasahi tubuh nya.
Rasa sakit itu terkalahkan dengan rasa marah dan rasa jijik nya.
Nina yang khawatir menyusul Ariana ke ruang ganti.
Dan betapa terkejut nya ia melihat apa yang di lakukan Ariana.
''Ar!!!! apa yang kau lakukan?!'' pekik Nina. memancing Tuan Heru dan Para pelayang.
Nina dengan cepat mencoba merebut paksa gunting di tangan Ariana.
''Ar!!! apa yang kau laku kan!!! berikan pada ku!!! Ar!!!!'' pekik Nina berkali kali.
Namun Ariana tak menghentikan aksinya, ia malah mencoba mendorong tubuh Nina.
''Lepaskan aku!!!! aku akan menghilangkan tanda itu!!!! lepaskan!!!!'' bentak Ariana tak mau kalah.
''Nak!!! jangan seperti ini!!! buang benda itu!!!'' Tuan Heru mencoba merebut paksa gunting itu.
Akhirnya benda tajam itu terjatuh ke lantai.
Darah masih mengalir deras dari sayatan gunting di dada Ariana.
''Ada apa Ar? jangan sakiti diri mu nak?'' bujuk Tuan Heru meneteskan air mata.
''Panggilkan dokter!!!'' perintah Tuan Heru.
''Ar tenanglah, ada aku, ada Paman, tenang lah Ar'' ucap Nina dengan isak tangis.
''Aku mohon tenang lah Ar?'' mohon Nina dengan isak tangis memeluk Ariana.
Ariana membalas pelukan Nina, ia menangis sekencang kencang nya. Melepaskan sesak di dada nya.
__ADS_1
''Aku benci Pria!!! aku benci Laki laki!!! Dia ********!!!! dan aku sudah membunuhnya!'' umpat Ariana dalam pelukan Nina.
''Iya Ar, tenang lah!'' balas Nina.
***
Nina mengusap air mata nya, ia kembali memandangi Ariana yang sedang tertidur pulas di sofa.
''Ar, setidak nya kau sekarang memiliki laki laki yang akan menjaga mu, yang benar benar mencintai mu. Lupakan lah kejadian di masa lalu'' ucap pelan suara Nina.
Nina kembali memejamkan mata dan tertidur dalam mimpi yang indah.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Terimakasih untuk yang sudah support ๐๐