Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
10. Masalah


__ADS_3

Mobil hitam tiba di depan gerbang, tin tin bunyi klakso mobil membuat satpam yang berjaga langsung sigap berdiri menghampiri mobil yang membunyikan klakson tersebut sebelum membukakan gerbang.


Akles melihat satpam yang menghampirinya terlebih dahulu sebelum membukakan gerbang seketika langsung menurunkan kaca mobil mengeluarkan setengah kepalanya.


“Ah maaf Tuan saya tidak tau jika itu Tuan muda”


Rupa rupanya satpam itu tidak mengetahui jika yang mengendarai mobil itu adalah tuan muda, karena Akles memakai mobil Juanda yang mana memang ia belum pernah mebawanya kerumah papahnya tersebut.


Langsung satpam itu lari membukakan pintu gerbang setelah melihat Akles yang membuka kaca pintu mobil dan mengeluarkan setengah kepalanya.


Akles melaju pelan memasuki halaman rumah melewati satpam yang berdiri disamping gerbang. Satpam itu hanya bisa menundukkan kepalanya tepat ketika Akles masuk.


Membuka pintu yang besar memasuki rumah yang sudah lama tidak ia singgahi kurang lebih 2 tahun lamanya ia tidak pernah menginjakkan kakinya dirumah ini.


Melihat sekeliling yang begitu megah, mewah, dan juga bersih. Serta dikelilingi wangi bunga yang segar dan harum.


Akles berjalan masuk dan melihat fotonya yang besar yang masih terpajang, begitu bersih dan masih terawat.


‘Ternyata rumah ini belum banyak yang berubah, foto ku ternyata masih saja dipajang disini’


Akles tersenyum melihat fotonya waktu kecil yang begitu gemas dan juga tampan sembari memegang piala kemenangan yang terpanjang.


“Tuan muda saatnya untuk naik ke atas pak CEO sudah menunggu dimejanya”


Akles yang sedang melihat lihat ternyata ada seorang pria tinggi besar memanggil untuk menemui papahnya tersebut.


“Ah rupanya satpam didepan sudah laporan ternyata, baiklah”


Akles sudah tau pasti papahnya sudah menunggu kehadirannya walau dia belum bertemu tetapi sudah mengetahui jika putra sematawayangnya datang.


“Mari tuan muda saya antar”


Pria itu mengantar Akles menuju ruangan yang dimaksud.


Sesampainya diruang yang dimaksud, hanya Akles yang memasuki ruangan itu, tetapi pria yang mengantarnya hanya sampai di pintu ruangan berjaga di depan ya pria itu adalah penjaga keamanan rumah ini.


Sebelum memasuk ruangan Akles mengetukan pintu tok tok Akles langsung masuk.


“Akles!. Rupanya kamu ingat pulang”


Sindir papahnya tepat setelah Akles melangkah 3 langkah dari pintu masuk. Akles yang mendengar ucapan pertama ayahnya, langsung terdiam tidak menjawab dan berjalan begitu saja melangkah mendekati papahnya yang duduk dimeja kerjanya.


“Kau tidak menjawab pertanyaanku Akles?”


Rupanya papahnya kesal karena Akles tidak menjawab sindirinya itu.


“Iya pah aku pulang” menjawab dengan terpaksa.


“Ada perlu apa kamu kemari?”


“Bukannya papah sudah tau jika perusahaan sedang tidak baik baik saja!”.


Akles yang langsung menjawab pertanyaan papahnya dengan suara tegar, ia paham pasti papahnya sudah tau akan keadaan perusahaan tetapi malah pura pura tidak mengetahuinya. Dan bahkan bertanya ada perlu apa dia datang dirumah yang bahkan sudah 2 tahun tidak pernah ia singgahi.


“Pah aku butuh bantuan papah!, koneksi papah, aku butuh modal lagi, aku tau ini pasti tidak mudah. Tetapi Akles janji akan menyelesaikan ini semua”.


Papahnya yang mendengar Akles butuh modal lagi langsung berdiri menghampiri Akles, Akles yang sudah berdebar keringat dingin, jantung yang berdetak kencang seperti mau copot, takut jika ia digampar papahnya, karena papahnya begitu tegas.


Akles langsung memejamkan mata tepat ketika papahnya didepan hadapannya yang mengangkat kedua tangannya.

__ADS_1


Tapi tak disangka sangka bukannya menggampar Akles dengan kedua tangannya tetapi malah papahnya memeluk Akles dan tertawa terbahak bahak.


“Hahaha anah papah sudah pulang dan bahkan minta modal, usahamu sedang tidak baik baik saja ternyata ya?”


Akles seketika langsung menghela napasnya dan menatap tajam papahnya itu kesal karena tertawanya yang begitu menjengkelkan.


“Sepertinya ada yang aneh di perusahaan itu, kamu sudah mengambil langkah apa Akles?”


Tanya papahnya setelah mereka berdua perpelukan dan duduk berhadapan untuk mendiskusikan masalah tersebut.


“Tepatnya aku belum tau pah dibagian mana anehnya, tetapi aku mencurigai hasil prosuksi kita kurang baik tidak seperti tahun sebelumnya yang begitu melejit. Aku sudah memerintahkan Juanda untuk menyelidiki dibagian lapangan, dan prosuksi dan menghendel pemasa demo, aku juga menjual rumah dan mobil semua milikku pah!, untuk menutupi kerugian ini, makanya aku meminjam mobil Juanda untuk sementara”.


“OK baiklah sebelum papah memberikan modal kembali papah minta kamu urus dulu masalah ini sampai ke akarnya supaya jika memberikan saham ditempatmu tidak membuat rugi lagi”.


“Baiklah, dan aku mau tinggal disini karena aku tidak punya rumah lagi, siapkan kamar untukku dan mobil, uang, dan black card ”


Akles rupanya ingin menetap dirumah papahnya setelah ingin menjual semua aset yang dimilinya.


Papahnya yang mendengar permintaan putranya langsung tersenyum dan menganggukan kepalanya.


“Ok baiklah asal satu syarat, kamu harus bersungguh sungguh”.


“Baik pak CEO!!! percayakan semua pada saya hehehe”. Tangan Akles dengan posisi hormat tepat dihadapan papahnya.


“Lagi begini saja langsung memanggil Pak CEO kamu ya, Ah sudah sudah turunkan tanganmu”


Sembari menyeringai, dan melambaikan tangannya mengisyaratkan untuk menyudahi posisi hormat. Akles yang melihat papahnya langsung tersenyum kegirangan. Begitulah akrapnya kedua orang ini anak dan ayah.


“Oiya pak satpam didepan pecat saja, masa aku masuk tidak langsung membukakan pintu tetapi mengecek aku dulu tidak sopan sekali dia”


Papahnya yang tertawa melihat sifat putranya yang belum berubah.


“Kasian sekali dia jika dipecat karena tidak mengenali anak dari bosnya, bagaimana orang katakan? bisa bisa, kamu tidak akan menikah menikah karena wanita pada takut akan sifat burukmu itu Akles!!.”


“Ada satu hal lagi Akles jika situasi stabil kamu akan mendapatkan saham yang sudah dijanjikan oleh Kakekmu dan bisa saja kamu menggantikan diposisi CEO ini”.


“Tetapi pah,, aku belum siap jika menduduki posisi CEO!!. Tetapi jika kakek mau memberikan saham aku sangat sangat setuju”.


“Satu hal lagi kamu harus cepat menikah Akles, usiamu tahun ini sudah 28 sampai kapan kamu mau membujang terus?, lihatlah papahmu sudah tidak muda lagi! dan kakekmu juga menekan papah untuk memberikan ia cicit”.


Akles yang mendengar permintaan papahnya untuk segera menikah langsung mengerutkan dahinya. Menghela napas panjang sembari memalingkan wajah tidak suka.


“Pah syarat itu terlalu berat, nanti kupikirkan lagi”.


“Jangan terlalu lama memilih Akles, papah bisa mencarikan calon menantu yang terbaik jika kamu mau, bagaimana?”.


Rupanya papahnya gemas karena anaknya tak kunjung mendapatkan calon istri.


“Sudahlah pak jangan bahas masalah pribadi, aku sedang pusing masalah perusahaan ini”.


Akles langsung beranjak dari duduknya. Berdiri dan langsung melangkah keluar meninggalkan papahnya.


“Aku keluar dulu, aku lapar. Papah mau makan siang bareng? Jika mau aku akan meminta pembantu menyiapkan makan siang untuk kita berdua”.


“Anak ini jika sudah membahas tentang kapan menikah selalu saja menghindar, yasudah kita makan siang bareng”.


Akles tersenyum mendengar jawaban dari papahnya dan langsung keluar, menyuruh pembantunya menyiapkan makan siang untuk mereka berdua bersama papahnya itu.


Matahari kian terbenam, warna langit mulai gelap, duduk di meja kerja dikamar yang sudah disiapkan untuknya menginap, mata yang begitu fokus mengetik dan memperhatikan layar monitor laptopnya, memikirkan strategi dan langkah selanjutnya.

__ADS_1


Tok tok tok bunyi mengetuk pintu. “Iya masuk saja tidak dikunci”.


Kreek bunyi pintu dibuka rupanya pengawal setia papahnya yang mengetuk pintu.


“Ada apa?” tanya Akles tehadap pengawal papahnya itu.


“Ini hp barunya tuan, pemberian pak CEO untuk tuan gunakan!’’.


“Terimakasih pak”


Menerima hp yang disodorkan oleh pengawal itu, setelah pengawal memberikan hp untuk Akles ia langsung permisi untuk pergi keluar.


Akles menatap hp yang diberikan dan langsung menelpon Juanda untuk mengetahui infomasi selanjutnya.


“Halo Juanda ini aku Akles?”


“Ah iya pak”


“Rupanya kamu sedang bekerja sudah malam begini?”


Akles langsung bisa mengetahui jika Juanda masih bekerja karena ia memanggil Akles dengan sebutan pak bukan namanya.


“Iya saya sedang menyelidiki dilapangan pak, rupanya bapak sudah punya hp ya?”


“Iya ini no aku mulai sekarang simpan supaya kamu mudah untuk menghubungi ku”.


“Bapak sudah bertemu pak CEO supanya ya?”


“Sudahlah, jadi bagaimana info kelanjutan apa benar ada yang janggal?.”


“Untuk info lebih lanjut saya akan mengirimkan emailnya ke bapak, jika bapak kurang mengerti bisa hubungi saya lagi, untuk sementara hari ini saya masih menyelidiki dilapangan dilahan perkebunan untuk bahan bakunya, saya merasa ada yang aneh”.


“Baiklah Juanda terimakasih sudah bekerja keras”.


“Oiya pak satu lagi, saya juga sudah menemui para pedemo dan petani dan sudah saya sampaikan pesan dari bapak ke mereka, kalau begitu saya tutup dulu telponnya”.


Setelah menutup telpon Akles langsung mengecek email yang sudah Juanda kirim, melihat isi email yang dikirim Juanda membuat Akles ternganga dan melototkan matanya membuatnya geram dan berteriak kesal.


“Aaaakhh sialan bajingan, perbuatan siapa ini? berani beraninya berbuat curang”


Teriakan Akles menatap tajam laptop melihat isi email dan napas yang kencang sampai dada kembang kempis, dengan kedua tangan mengepal dan memukul meja membuat bunyi gerbakan yang cukup kencang.


Disisi lain Juanda setelah menutup telpon langsung bergegas pergi dari lahan perkebunan sembari membawa segenggam tanah yang sudah dimasukkan kedalam plastik.


Ia langsung memasuki mobil hitam yang ia kendarai, sebelum menyalakan stater mobil, Juanda menelpon seseorang terlebih dahulu.


“Halo pak, ada yang bisa saya bantu?” suara lelaki dari balik telpon.


“Iya saya butuh bantuan bapak” sejam dari sekarang saya kan tiba disana, dan jangan sampai orang lain tau akan pertemuan ini”.


Juanda langsung menutup telponnya dan langsung menyalakan stater mobil langsung pergi dari lahan perkebunan.


Sesampainya ditempat yang dituju, lelaki yang ada ditelpon tadi langsung menghampiri mobil Juanda.


Juanda langsung memberikan sampel tanah yang ia bawa dari lahan perkebunan kepada lelaki yang diteponnya tanpa turun dari mobil terlebih dahulu.


“Mohon bantuannya ya pak, jika sudah keluar hasil tolong langsung kabari saya secepatnya”.


“Baik pak, saya akan segera menghubungi bapak jika hasil sudah keluar”.

__ADS_1


“Kalau begitu saya permisi dulu”.


Juanda langsung pergi meninggalkan lelaki itu, lelaki itu menundukkan kepalanya ketika Juanda pergi.


__ADS_2