Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
33. Introgasi


__ADS_3

Spv itu sudah bersimpuh dilantai sembari memohon ampun dengan keadaan muka sudah bonyok dihajar oleh orang suruhan Juanda, Juanda tetap tenang melihat orang dihadapannya yang tersedu menangis meminta belas kasihan olehnya.


“Ampuni saya pak hik hik hik saya mohon saya khilap saya...” memohon dengan kedua tangan menyatu dengan suara sesengguk tangis, air mata telah bersimpah dengan harap tidak dijebloskan ke penjara, atau ia memohon untuk tidak di hajar lagi karena wajahnya sudah babak belur dihajar supaya mengaku dalang dari semua perbuatannya.


“Patahkan saja tangan kanannya jika tidak segera mengaku atas suruhan siapa perbuatan ini dan atas dasar apa sampai tidak melaporkan peristiwa yang sangat buruk ini!... jika kamu mengaku aku akan mengampuni dan mengurangi hukuman yang telah kamu perbuat.” Ucap Juanda dengan nada tegas sembari menatap tajam Spv itu.


Spv itu melihat wajah Juanda yang amat serius dan terlihat sangat dingin, seram dan juga sangar jika dilihat dari situasi seperti ini.


“Ampuni saya pak... saya melakukan ini karena saya disuruh oleh Asisten Manager Pak Geno dia yang menyuruh saya supaya meloloskan bahan baku yang kurang layak...”


Dengan cepat Spv itu memberitahu orang yang menyuruhnya karena melihat wajah Juanda yang terlihat dingin membuatnya langsung buka mulut dan dia juga sudah takut jika benar tangannya ingin dipatahkan karena wajahnya sudah babak belur .


“Kenapa kamu tidak melapor kepada saya? Siapa lagi yang terlibat dalam masalah ini? cepat JAWAAAAB!....” Teriak Juanda di depan wajah Spv itu sampai membuat lelaki itu terkejut dan memejamkan matanya sejenak.


“Saya hanya melakukan perintah dari AM pak Geno pak, saya diberi imbalan uang jadi saya tidak bisa melaporkan semua ini dan saya juga tidak tau siapa lagi yang terlibat” Menjawab dengan suara tangisan bahkan lelaki itu menjawab sembari menundukkan kepala diikuti kedua tangan yang menutup kepala takut terkena hantaman pukulan kembali di sekitar wajahnya itu.


“jawab dengan jujur atas perintah siapa!!!...” Braak suara gebrakan meja, Juanda yang mengebrak meja masih tak percaya jika hanya AM yang menyuruhnya tidak ada orang lain lagi yang terlibat.


“Sungguh pak saya tidak tau, saya hanya di suruh oleh pak Geno saja. Saya berani bersumpah tidak tau lagi siapa saja yang terlibat selain Kepala Gudang dan Leader yang saya suruh. Ampuuuuni saya pak”


Spv itu langsung sigap memohon ampun dengan segera meraih tangan Juanda untuk meminta belas kasian oleh Juanda.


“Lepaskan” dengan singkat sembari melirik sinis tangannya yang diraih oleh Spv itu. Spv itu lantas langsung melepaskan tangannya ketika Juanda melirik sinis walaupun suara Juanda tidak membentak tetapi tatapanya amat mengerikan.


“Urus orang ini aku akan ketempat Am Asistent Manager berada aku ingin mengintrogasinya lebih lanjut” Ucap Juanda kepada salah satu polisi yang mendampinginya diruangan itu.


Juanda lalu keluar ruangan ia lantas langsung menghampiri Akles yang berada diluar ruangan sembari mengamati dari balik kaca.

__ADS_1


“Pak Dirut sepertinya dia berkata jujur jika yang menyuruhnya adalah AMnya sendiri, ini saya akan ke ruang introgasi dimana AM itu berada. Bagaimana pendapat Pak Dirut?”


Tanya Juanda terhadap Akles yang berdiri tepat dihadapannya itu, memang jika dilingkup pekerjaan Juanda tidak akan pernah memanggil atasannya itu dengan nama saja walau sedekat apapun mereka berdua.


“Introgasi saja dulu mereka ber’enam aku ingin tau apakah mereka berkata jujur atau tidak? Aku masih mencurigai seseorang.” Ucap Akles menjawab pertanyaan Juanda.


“Baik pak Dirut saya akan segera mengintrogasi mereka, kalau begitu mari pak kita ke ruang dimana Assistant manager itu berada”


Juanda lantas langsung menuntun Akles untuk segera mengikutinya dari belakang untuk berjalan menuju ruangan introgasi.


Setelah diruang introgasi seperti biasa ada tiga orang yang mengintrogasi secara langsung yaitu Juanda polisi dan tim Akles. Akles tetap diluar ruangan memantau dari luar kaca introgasi tidak ikut mengintrogasi secara langsung.


“Jawab dengan jujur mengapa kamu melakukan ini semua yang membuat perusahaan menjadi rugi? Bukankah kamu sudah hampir 20 tahun bekerja di Group Gammon? Tidak adakah kesetiaan tertanam didirimu hah?!…” Ucap Juanda dengan tegas sembari duduk tenang dihadapan Asistent Manager Pak Geno itu.


“Heh anak muda ini ternyata berani juga ya haha” Jawab Asistent manager itu dengan tenang seperti meremehkan Juanda yang jauh lebih muda olehnya karena asistent manager itu berusia lebih dari 50 tahun sedangkan Juanda berumur 28 tahun.


Juanda yang mendengar lelaki paruh baya itu yang meremehkannya hanya bisa tersenyum miring sembari menaiki alisnya.


Pak Geno selaku assistant manager langsung terdiam memasang wajah masam tak suka dan merasa tersindir karena dia memang benar sudah dikantor polisi.


“Kenapa diam bukankah bapak tadi meremehkan saya? Kamu tau siapa saya?” Tanya Juanda sembari memelototkan matanya.


Pak Geno hanya bisa mengangguj tak menjawab sepatah katapun.


“Cepat mengaku jangan buang buang waktuku!!!…” dengan tegas Juanda berbicara supaya Pak Geno mengaku siapa saja yang terlibat.


“Saya tidak melakukan apapun mengapa saya harus mengakui yang tidak saya perbuat. Terus siapa lagi yang terlibat, memangnya terlibat dalam hal apa hah coba katakan?”

__ADS_1


Ucap Pak Geno masih menyangkal jika dia tak terlibat bahkan dia pura pura tidak tau akan masalah ini.


“Cepat!” Ucap Juanda dengan nada tegas diikuti kepala memiring mengode ke timnya dan polisi untuk memberikan pelajaran.


Assistant managers itu babak belur dihajar oleh dua orang.


“Uhuk uhuk memangnya salah saya apa hah?” Dengan keras walau mulutnya sudah berdarah dan hidung sudah mimisan pipi dan perut memar terkena hantaman tinju.


“Hahaha cepat katakan!…” dengan cepat Juanda langsung menjambak rambut Pak Geno sampai lelaki paruh baya itu mendengak.


“Katakan apa hah? Uhuk uhuk uhuk” pak Geno masih tetap pura pura tidak tau walau dia sudah babak belur dan bahkan rambutnya masih dijambak oleh Juanda.


“Siapa saja yang terlibat? Cepat!!!…” Juanda langsung menampar pipi Pak Geno tak tahan karena ia masih tidak mengaku.


“Akh tembak saja kakinya sini” Juanda langsung menarik pistol dan bahkan menodongkan ke kepalanya. Membuat Pak Geno langsung gemeteran takut jika benar Juanda menembaknya.


“Polisi kenapa kalian diam saja lelaki sialan ini menodongkan pistol ke hadapanku cepat singkirkan pria ini!” Teriak pak Geno tetapi Juanda langsung memukul kepala pak Geno dengan menggunakan Pistol ditangannya membuat AM itu sempoyongan.


“Berani sekali kamu ya, jika aku mati kamu pasti akan dipenjara juga” Teriak AM itu terhadap Juanda yang baru saja memukul kepalanya sampai pelipisnya robek berlumurkan darah.


“Aku tidak akan membuatmu mati dulu, mau ku tembak kakimu ya hah. CEPAT!…” Juanda langsung menarik pelatuk pistol dan menodongkan ke kaki Pak Geno.


“Tunggu tunggu iya iya aku mengaku tolong singkirkan dulu pistol itu ku mohon” dengan suara terbata bata dengan mengangkat tangannya menyuruh Juanda mengingkirkan pistol itu.


“Tidak. Katakan dulu cepaaat!…”


“Ba ba baik Manager pak Ilham dan General Manager pak Tama”

__ADS_1


Akhirnya Pak Geno mengaku yang terlibat membuat Juanda langsung menurunkan pistol itu dan bahkan Juanda langsung menaruh ke saku celananya.


“Urus dia” Ucap Juanda ke tim dan polisi lalu Juanda keluar setelah mendapatkan jawaban yang diinginkannya.


__ADS_2