
Setelah kejadian malam itu Basil yang datang ke apartemen Briana hampir setiap hari Briana selalu bertemu dengan Basil dan selalu ikut mengontrol pasien bersama mantannya itu, ingin rasanya Briana menolak tetapi ia tidak berkuasa jadi hanya bisa menuruti perintah atau jadwal yang sudah ditentukan.
Hari makin demi hari secara terang terangan Basil mendekati Briana dengan menyapa menebarkan senyuman manis yang sangat memuakkan bagi Briana tetapi bagi sebagian orang amatlah sangat manit.
Diza yang sadar jika Basil terang terangan berusaha mendekati Briana lagi membuatnya tambah kesal dan memikirkan bagaimana cara untuk menjauhi mereka berdua lagi.
Briana masih saja berusaha untuk menghindar dari Basil sebisa mungkin, jika tak sengaja papasan denga Basil Briana langsung berputar arah dan mencari jalan lain supaya tidak terlihat oleh Basil.
Ketika di ruangan perawat Briana tampaknya sendiri tidak ada orang lain karena yang lain sedang sibuk mengecek pasien. Tiba tiba Diza datang menghampiri Briana padahal mereka berbeda ruangan.
“Briana... ada hal yang ingin kukatakan?” Ucap Diza dengan ketus memasang wajah masam, ya memang Diza tidak pernah ramah sama sekali jika bersama dengan Briana.
“Hmmm katakanlah...” Menjawab dengan santai sembari menunduk main hp nya.
“Jauhi lah Dokter Basil mulai dari sekarang!...” Dengan nada bicara pelan namun menusuk kedada dengan tatapan tajam Diza melihat Briana untuk menjauh dari Basil.
Mendengar itu Briana langsung melihat ke arah Diza ditaruhnya hp dimeja, beranjak dari duduk kemudian berjalan menghampiri wanita yang memperingatinya itu.
Setelah berjarak dua langkah mereka berdua saling menatap, tatapan saling sinis itu mulai bertabrakan kemudian Briana menyeringai sembari menatap tajam seperti ingin mengiris sesuatu.
“Apa hakmu melarangku? kamu merasa kalah saing lagi denganku karena dokter Basil akhir akhir ini mulai berusaha mendekati ku lagi. Ahahaha kasihan sekali kamu, berhasil membuatku putus dengan Basil tetapi lelaki itu tetap tergila gila denganku...”
Dengan nada bicara tegas diikuti senyum sinis dan mata yang menatap tajam, Briana berhasil mengintimidasi Diza yang tidak tau diri itu telah mengancamnya.
Diza tidak menyangka Briana akan mengucapkan kata kata yang terdengan meninggikan dirinya sendiri dan bahkan merendahkan Diza, padahal perawat yang bekerja disini masih tergolong menyegani Diza karena posisi penting ayahnya di rumah sakit tempat mereka bekerja sekarang.
Karena tidak terima dengan kata kata itu Diza tidak bisa membantah ia hanya bisa tertawa frustasi dan berusaha menampar Briana, tetapi ditahan olehnya.
__ADS_1
“Jaga ucapanmu, ku pastikan kamu akan menyesal telah mengatakan itu. Dan lagi jika aku tidak bisa bersama dengan dokter Basil akan ku usahakan segala cara bagaimanapu itu, sekalipun aku harus menyakitimu atau bahkan menyakiti dirinya. Campan itu!...”
Amcam Diza dihadapan Briana dengan wajah penuh energi emosi dan ingin menerkam, lalu Diza pergi begitu saja setelah mengatakan itu pada Briana.
“Aku tau wanita itu adalah kamu, dan kamu pula yang mengirim foto itu padaku” Teriak Briana setelah Diza pergi tetapi tidak dihiraukan, Diza berjalan tanpa menoleh walau ia mendengar kata kata Briana yang sudah tau jika wanita itu adalah Diza.
Briana hanya bisa menghela napas panjang lega setelah Diza keluar meninggalkannya tetapi masih memikirkan ancaman dari Diza, karena Diza adalah orang yang nekat.
Matahari sudah mulai terbenam sudah waktunya pulang Briana bergagas menuruni anak tangga ia malas menunggu lift yang penuh mengantri. Setelah sampai di depan lobi rumah sakit Briana hendak berjalan langsung ke halte bus tetapi jalannya di hadang oleh pria tinggi semapai dengan aroma yang tidak asing.
Setelah mendengakkan kepalanya melihat wajah orang itu rupanya benar saja jika aroma tidak asing itu adalah aroma Basil sang mantan, membuat Briana langsung reflek mundur selangkah.
“Briana ikut aku. Akan ku antar kamu...” Ucap Basil sembari menarik tangan Briana dengan paksa.
“Akhhh tunggu dokter tunggu, tanganku jangan ditarik. Kita mau kemana?” Jawab Briana sembari mengikuti langkah kaki Basil yang tangannya sudah ditarik paksa oleh Basil sehingga ia terpaksa mengikuti Basil dengan langkah kaki cepat.
Setelah sampai di parkiran lalu Basil membuka pintu mobil dan melepaskan cengkaram tangannya yang menarik Briana secara paksa untuk membawanya tadi. Kemudian Basil mempersilahkan Briana masuk.
Setelah melepas cengkaram itu Briana langsung memegang tangannya yang dicengkaram tadi mengelus seperti kesakitan. Briana hanya bisa menatap tajam Basil yang menyuruhnya untuk masuk ke mobil.
“Briana percayalah aku tidak akan membawa kamu ketempat aneh...” Ucap Basil dengan wajah yang meyakinkan supaya percaya saja padanya.
Briana menarik napas dalam dalam lalu masuk ke dalam mobil mengikuti ucapan Basil, Basil tersenyum puas karena Briana mau ikut dengannya, buru buru ia masuk ke dalam mobil untuk menuju tempat yang belum diketahui dimana.
Dalam perjalanan pun hening dalam kesunyian diam dalam lamunan tidak saling berbicara, mulut mereka berdua seperti sudah di lem untuk tidak saling mengobrol, sudah sangat jauh antara jarak keduanya.
Setelah sekian lama berjalan akhirnya sampai juga, ternyata tempat itu adalah caffe dimana mereka berdua sering berkencan dulu pas masih mempunyai hubungan. padahal tempat itu dekat dari rumah sakit tetapi terasa lama sekali sampainya.
__ADS_1
“Ah kamu menarik tanganku untuk kemari?...” Tanya Briana melihat mobil mereka terhenti didepan cafee itu, Basil hanya tersenyum sembari mengangguk.
Setelah duduk mereka memesan minuman dan makanan. Ternyata masih tetap sama tak saling berbicara hanya terdiam mengikuti suasana hati masing masing.
Basil memberanikan diri untuk memulai percakapan.
“Ternyata seleramu masih sama seperti yang dulu Briana, aku senang kamu masih belum berubah dari segi makanan” Ucap lembut Basil memulai percakapan yang ringan.
“Untuk masalah makanan aku tidak bisa toleran Basil” Jawab ketus Briana sembari menyedot minumannya yaitu macha thea. Basil tersenyum mendengar jawaban Briana sepeti dulu.
Suasana sudah mulai kondusif tidak semendung seperti tadi. Basil dan Briana mengobrol biasa walau hanya menjawab sepatah dua kata saja seala kadarnya.
Disisi lain Akles yang sudah merindukan Briana tidak sabar ingin bertemu, rupanya ia sudah berjalan menuju rumah sakit niat hati ingin menjemput Briana bekerja.
Akles sudah mengirim pesan namun tidak ada jawaban iapun menelpon tidak diangkat mungkin pikirnya Briana sedang sibuk.
Sesampainya di rumah sakit ternyata Akles kembali bertemu dengan Diza.
“Oooh bukankah kamu lelaki yang sedang dekat dengan Briana?” Ucap Diza yang mendekati Akles yang sedang menunggu Briana pulang, Akles menatap tajam Diza tidak suka iapun tidak menjawab pertanyaan Diza sama sekali.
“Briana sudah pulang sejam yang lalu bersama Basil...” Guman pelan Diza memberi tahu Akles jika Briana sudah pulang dengan Basil.
“Apa katamu, Briana sudah pulang sejam yang lalu?” Mendengar itu Akles yang sedari tadi tidak peduli dengan Diza langsung menatap tajam ingin tahu lebih lanjut.
“Iyaaa benar Briana sudah pulang...” Tegas Diza melihat reaksi Akles yang terkejut, Diza menyeringai senang rupanya Akles terprovokasi.
Akles langsung pergi begitu saja meninggalkan Diza ia kembali ke mobil buru buru ingin memastikan apakah Diza sudah pulang atau belum.
__ADS_1