Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
51. Ternyata


__ADS_3

Alice terburu buru berjalan menuju apartemen Briana sembari menenteng tasnya ia kemudian langsung membuka pintu tanpa mengetuk atau membunyikan belt dengan raut wajah yang sudah kusut tak terkendalikan lagi.


“Alice sudah tiba?....” Ucap Briana ketika mendengar suara ada yang membuka pintu dan melihat jika sahabatnya yang sudah tiba.


“Akkkh astaga Briana, ngagetin tau. Kok kamu sudah datang, bukankah katanya mau lembur?” Alice yang kaget ketika Briana menyapanya ia pikir rumah itu kosong sang pemilik belum pulang dari bekerja.


“Hehe kan kalau jadi lembur tetapi ini tidak jadi yasudah aku pulang tepat waktu saja dong” Jawab Briana sembari tersenyum dan berjalan menuju ruang tengah untuk duduk.


“Aiiis buat aku jantungan aja kamu...” Teriak Alice sembari menendang pantat Briana tetapi tendangan itu meleset karena Briana langsung menghindar dengan gesit.


Briana menjulurkan lidahnya memeleti Alice karena ia berhasil menghindar. Alice yang kesal langsung memencongkan mulutnya terdengar eiiisss.


“Ada apa nih kayaknya lagi kesel, mukanya udah ditekuk begitu?” Tanya Briana ketika melihat wajah Alice yang kusut sembari duduk diruang tengah.


“Briana hari ini aku benar benar kesal…. Aakkhhh sangat kesaal…” Teriak Alice sembari menghentakkan kakinya ke lantai dengan wajah yang teramat emosi teringat kejadian dikantor.


“Memangnya kenapa sih kusut banget tuh muka?…” Tanya Briana sembari mengambil remot tv dan menghidupkan tv.


“Briana kamu tau tidak Akles ternyata Direktur Utama ditempat aku bekerja…” Ucap Alice dengan wajah teramat serius.


“Apaa uhuk…” Briana yang mendengar jika Akles adalah Direktur Utama di tempat sahabatnya bekerja membuat wanita cantik itu kaget dan tersedak oleh teh yang sedang ia minum.


“Ah melihat responmu yang kaget rupanya kamu juga tidak tau. Aku hampir saja kecewa dengan mu yang tidak memberitahuku jika Akles adalah sang Dirut.”


Alice yang ingin marah terhadap Briana yang tidak memberitahunya jika Akles Dirut langsung memasang tampang datar sedikit kesal.


“Aku memang tau jika dia punya perusahaan tetapi aku tidak tau jika Akles adalah Direktur Utama di tempatmu bekerja Alice.” Jawab Briana sembari membersihkan mulutnya karena tersedak teh tadi.


“Akh aku kesalll” Alice langsung menarik teh yang dipegang oleh Briana dan langsung meneguk hingga habis tak tersisa.


“Akh Alice kan kamu bisa bikin sendiri kenapa menghabiskan tehku sih..” Teriak Briana sembari memukul lengan Alice dan menarik gelas yang sudah kosong diminum oleh sahabatnya itu.


“Apa sih Briana bisa bikin lagi. Aku haus ditambah kesal…” Teriak Alice tak mau mengalah


“Emang kamu ketemu sama Akles, Alice?” Tanya Briana sembari menaruh gelas itu dimeja.

__ADS_1


“Heem bahkan aku kena hukum oleh Assistant managers nya yaitu pak Juanda” Alice menceritakan dengan detail kejadian dikantor yang menyebabkan dirinya bisa berurusan dengan Juanda.


“Oooh Juanda..” mendengar nama Juanda Briana hanya mengangguk membuat Alice langsung menerkam Briana.


“Jadi kamu sudah tau Juanda?” Teriak Alice sembari menerkam Briana memiting leher sahabatnya itu.


“Ah lepaskan tanganmu aku tidak bisa bernapas Alice..” Teriak Briana sembari memukul dan menarik lengan Alice supaya melepaskannya.


“Tidak akan kulepaskan kenapa kamu bisa kenal juga sama Juanda..” Pitingan Alice semakin kuat membuat Briana terbatuk batuk tak kuat melepas kan pitingan itu.


“Lepaskan dulu….”Teriak Briana sembari memohon dan akhirnya dilepaskan juga oleh Alice.


Setelah melepaskan pitingannya Alice langsung duduk bersila didepan Briana menatap tajam sahabatnya itu sebelum memulai perbincangan.


Mengatur napas panjang panjang diikuti kedua tangan mengatur napas.


“Pak Juanda itu ngeselin banget masa cuman gara gara aku tidak mengenali Akles lantas aku mau dipecat untung saja Akles baik tapi tetap saja masa aku harus bersihin ruangannya selama sebulan😭..”


Keluh Alice menceritakan kelakuan Juanda terhadapnya dengan nada yang berteriak terkadang menangis tak karuan bercerita.


“Bagaimana kamu tau dengan pak Juanda, Briana?” Tanya Alice setelah sedikit tenang bercerita lalu menanyakan kembali bagaimana sahabatnya bisa kenal dengan atasannya.


“Ya waktu itu aku sedang bertemu dengan Akles lalu Juanda datang. Begitu..” Menceritakan awal mula pertemuan.


“Rupanya tidak sengaja..” Energi Alice rupanya sudah mulai habis tubuhnya sudah melenyot bersandar di sofa tak berdaya.


“Bukankah Juanda ganteng seperti type idealmu kan Alice?..” Tanya Briana mengenai Juanda yang tampan.


“Akh iya sih ganteng tapi galak… padahal pas awal ketemu aku sampai tercengang karena kereen banget maco banget ganteng banget eeh tapi… dia galak banget Briana.”


Tubuh Alice yang sudah kehabisan energi tiba tiba langsung bergerak kaki yang menendang nendang angin, tangan yang memukul mukul sofa disampingnya karena kesal akan tampang Juanda yang ganteng tetapi bikin emosi.


“Liat saja Briana aku akan buat dia luluh aku akan ambil hatinya. Aku kan cantik hahaha..” Tubuhnya terdiam kembali setelah berakrobat tetapi mulutnya tertawa lebar terbahak bahak karena ingin meluluhkan Juanda.


Briana hanya tersenyum miring menggelengkan kepala tak habis pikir oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


“Cepat mandi sana, jangan sampai naik kasurku jika badanmu belum bersih..” teriak Briana sembari memukul paha Alice yang sudah berbaring di sofa.


“Iya iya bawel sayangku ini..” ledek Alice sembari berdiri ke kamar mandi untuk bebersih.


Malam sudah kian gelap jarum jam sudah mengarah ke angka 12 tanda sudah tengah malam mereka berdua Briana dan Alice sudah berbaring tertidur di kamar rupanya Alice menginap di apartemennya Briana.


***


Kaki berlari dengan cepat setibanya di parkiran Alice buru buru memasuki gedung tinggi itu untuk segera absen masuk karena beberapa detik lagi ia pasti telat.


Napas nos ngosan ketika berhasil absen masuk kedua tangannya menopang kedua lutut sembari mengatur napas panjang.


“Haaah yeees gak telat, haduh capek banget gara gara tidur tempat Briana aku hampir telat…” Gumam Alice dengan nada suara ngos ngosan.


Kemudian ia berjalan hendak menggunakan lift karena ruang kerjanya di lantai 5 tak disangka sangka ketika pintu lift terbuka rupanya ada Juanda.


Lantas membuat mata Alice membulat sempurna mulut sedikit ternganga tubuh yang terpatung, kaki berat melangkah masuk ke lift karena adanya sosok Juanda.


“Cepat masuuuk!….” Ucap ketus Juanda yang melihat Alice tak kunjung masuk hanya terpatung melihatnya.


“A maaf pak..” Akhirnya Alice tersadar ketika Juanda menyuruhnya masuk.


Alice masuk sembari menundukkan kepalanya jantung lantas langsung berdetup kencang seperti habis berlari padahal tadi dirinya sudah mulai tenang mengatur napas.


‘Mati aku mati!.. aku lupa hari ini harus membersihkan ruangan orang tampan sialan ini’ Ucap Alice dalam hatinya yang sudah berdiri disamping Juanda. Ia ingin melirik ke arah Juanda tetapi tak berani.


“Ah lama sekali ini sampai di lantai 5, apa karena ada pak Juanda ya? mampus aku” Gumam Alice tak sabar ingin keluar.


“Kamu bilang apa?..” Tanya Juanda yang mendengar gumamam tak jelas Alice.


‘Mampus jawab apa ini’ gumam dalam hati Alice.


“Maaf pak saya…” ketika ingin mengatakan jika tidak mengucap apa apa tiba tiba lift terbuka rupanya sudah sampai dilantai 5.


Seketika langsung membuat Alice berlari keluar tak memperdulikan Juanda yang disampingnya.

__ADS_1


“Maaf pak…” Teriak Alice sembari keluar. Juanda hanya tercengang bingung ia belum sadar jika Alice belum membersihkan ruangan seperti perintah atas hukuman Alice yang tidak ada sopan santun kepada atasan.


__ADS_2