Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
08. Pulang


__ADS_3

“Kamu tidak menginap disini saja Briana?”.


“Tidak Alice aku pulang saja terimakasih untuk hari ini ya” Briana yang sedang siap siap untuk pulang.


“Aku berharap kamu menginap saja disini Briana aku khawatir” Jawab Alice berharap sahabatnya minginap ditempatnya.


“Sudah tidak apa apa Briana Alice aku sungguh baik baik saja”.


“Tumben sekali kamu tidak mau menginap disini, biasanya saja kamu selalu menginap tanpa ku minta, tetapi kenapa sekarang ini kamu tidak mau menginap?”


Alice berusaha untuk meyakinkan Briana kembali untuk menginap ditempatnya. Tetapi Briana tetap menggelengkan kepalanya kekeh tidak mau menginap, dalam pikirannya jika dia menginap bagaimana dengan Akles?.


‘Aku tidak bisa menginap disini karena diapartemenku ada seseorang yang sedang menunggu kepulanganku kan’


Pikir Briana dalam hatinya menatap Alice meyakinkan jika dia sudah tidak apa apa dan dia hanya ingin pulang.


“Briana nanti saja pulang, sebentar lagi saja jika kamu tidak mau menginap, sebentar disini saja kita bisa mengobrol curhat dulu atau kita bisa memesan makanan lagi.”


Alice yang berusaha untuk menahan Briana, dalam pikirannya jika Briana masih lama disitu sampai malam bisa saja Briana jadi menginap ditempatnya.


“Alice sudah ih. Kenapa kamu jadi manja begini malah menahanku sekuat tenaga untuk pulang!, aku sunggu tidak apa apa”.


“Sunggu tidak apa apa? aku jadi makin curiga jika kamu bilang tidak apa apa”.


“hahaha kamu ini jadi curigaan aja ya sama aku, aku kan jika ada apa apa pasti selalu menceritakan semua denganmu Alice. Tidak ada yang aku sembunyikan sungguh”.


Briana menatap Alice dengan penuh keyakinan, membuat Alice tidak bisa berkata apa apa jika Briana sudah kekeh ingin pulang.


“Yasudah Briana aku menyerah kalau kamu ingin buru buru ingin pulang sekarang”.


‘Mungkin benar, Untuk saat ini Briana butuh waktu sendiri, aku percaya Briana tidak akan senekat kemarin kan, aku takut. Tetapi jika ku paksa malah membuat Briana makin tertekan, ku beri dia sedikit ruang saja’


Imbuh Alice dalam hatinya berpikir positif terhadap sahabatnya itu


“Alice nanti aku pasti menginap disni ya”


Memeluk erat Alice sebelum pulang dan langsung mengambil tasnya, wajah Alice yang pasrah saja melihat sahabatnya itu pulang.


“Briana sampainya dirumah kabari aku segera jika tidak aku akan langsung menyusul kesana”.


“Siapa Alice sayangku makasih ya untuk hari ini dan makannya, kamu memang sahabat terbaikku”.


Briana pulang dengan wajah tersenyum melambaikan tangannya menatap Alice yang dengan wajah pasrah.


Briana sudah di dalam mobil taksi online duduk di kursi penumpang, melihat jalanan yang penuh dengan lampu jalan yang amat tenang. Termenung sesekali Briana melihat hpnya kembali ia mengingat kejadian dilobi sepulang kerja.


Teringat akan ucapan Basil yang meminta no hpnya dan menyuruh untuk membuka blokiran sosmed yang telah Briana blokir, lalu Briana membuka hpnya melihat pengaturan ragu ragu jari jemarinya untuk membuka atau membiarkan blokiran itu.


Briana yang termenung dalam pikirannya tiba tiba hpnya bergetar berdering membuatnya kaget, rupanya ada yang menelpon dan langsung diangkat oleh Briana.


“Halo ayah, kenapa?” rupanya ayah Briana yang menelpon.


“Briana sudah pulang kerja? seharian ini tumben tidak mengabari ayah? Ada masalah apa nak?”


Rupanya ayah Briana merasakan firasat terhadap putri semata wayangnya itu.


“Tidak apa apa apa ayah, maaf Briana sibuk kerja ayah. Banyak pasien, tidak sempat untuk memegang hp, sepulang kerja Briana mampir tempat Alice ayah”.


“Benar anak ayah tidak kenapa napa?”


“Benar ayah maafkan Briana ayah, ini Briana sedang di jalan menuju apartemen dari tempat Alice”


“Yasudah kalau begitu, hati hati ya putri kecil ayah, sesampainya langsung kabari ayah”


“Siap ayah, Briana tutup ya”.


Setelah mematikan telp dari ayahnya, Briana langsung mengurungkan niatnya untuk membuka blokirannya terhadap Basil.

__ADS_1


Membuatnya tersadar jika ia telah melakukan kesalahan terbesar untuk mengakhiri hidupnya, jika mengakhiri hidupnya bagaimana ayahnya.


Mengingat ayahnya membuat Briana menangis menyesal telah berpikir pendek.


“Ini ada tisu kak, rupanya kakak rindu ayah ya?”


Ucap supir taksi onlie itu melihat Briana yang menangis setelah menutup telp dari ayahnya itu.


Briana yang medengar ucapan supir itu langsung menganggukkan kepalanya dan mengambil tisu yang sudah tersedia dan mengelap air mata yang telah membasahi pipinya.


“Terimakasih pak, saya kangen ayah jadi tanpa sadar membuat saya menangis”


“ya kak sudah wajar bahkan saya juga setiap hari merindukan ayah saya, apalagi ayah saya sudah pulang ke sisiNya”


Briana yang mendengar ayah pak sopir telah pulang ke sisiNya langsung peka jika ayahnya sudah tiada.


“Maaf pak” Briana yang merasa bersalah


“Sudah tidak apa kak, mumpung selagi ayah kakak masih hidup bahagiakan dia, dan juga seringlah pulang untuk menjenguknya, jangan sampai membuatnya menunggu dan tersiksa karena merindukan anaknya”.


Mendengar nasehat pak supir Briana langsung menganggukkan kepalanya, merenungi ayahnya betapa rindu ia kepada ayahnya itu.


“Oiya pak terimakasih banyak ya, boleh mampir sebentar, saya mau membeli makan dulu boleh?”


“Oh tentu saja boleh”


Briana yang memesan ayam goreng dua 4 porsi, 1 porsi untuk ia dan Akles dan 2 porsi lagi untuk supir taksi tersebut. Setelah selesai memesan Briana langsung kembali ke dalam mobil dan melanjutkan kembali perjalanan pulangnya.


Sesampainya Briana langsung memberikan makanan yang telah dibelinya untuk pak supir tersebut.


“Ini makanan saya beli untuk bapak dan keluarga”


Sembari menyodorkan makanan yg terbungkus plastik ke pak supir itu.


“Aaah kak repot repot, tidak perlu kak terimakasih” Pak supir merasa tidak enak telah dibelikan makanan dan langsung menolak dengan sopan.


“Ah kak. Makasih banyak! Semoga kakak sehat selalu selamat dimanapun berada, selalu bahagia ya” Akhirnya diterima dan tak lupa mendoakan keselamatan Briana dan juga tersenyum.


“Sama sama pak, ini sekalian taxinya ya, terimakasih pak”


Briana tersenyum dan langsung keluar dari mobil, buru buru ia berjalan untuk langsung ke apartemennya.


Sesampainya di depan pintu apartemen Briana langsung menarik napas panjang bersiap memasuki apartemennya tetapi ia gugup karena ada Akles didalam.


Sebelum ia masuk melihat kembali kantung pastik yang ia tenteng dan tersenyum malu seperti sedang membawakan makanan untuk pacarnya. Karena sudah perpikir begitu Briana langsung menggelengkan kepalanya.


‘Pikiran kotor apa ini Briana fokus, tarik napas dalam dalam tenangkan pikiran jangan gugup!!! Supaya berdebar jantungmu tidak terdengar olehnya, ok ok fokus Briana’


Briana yang berbicara sendiri dan memberanikan diri memencet kode masuk apartemennya.


“Akles aku pulang! Aku bawa ayam goreng kamu pasti belum makan malam kan?”


Salam Briana rupanya tidak ada yg menjawab, membuat Briana bingung kenapa tidak ada yang menjawab, apa Akles tidak mendengar jika Briana sudah pulang.


“Halooo Akles aku pulang!!”


Masih belum ada jawaban Briana langsung masuk memeriksa dapur ruang tengah dan juga kamar mandi tetapi tidak ada siapa siapa.


‘Dimana anak itu kok tidak ada, apa dikamar ku?’


langsung ia meletakan ayam goreng pesanannya di meja makan dan langsung membuka kamar, rupanya benar tidak ada siapa siapa.


‘Apa Akles pulang ke rumahnya?’


Briana yang masih bingung dimana. Akles cukup lama Briana berdiri dikamarnya, tidak beranjak memikirkan Akles.


‘Apa Akles pulang atau hanya diluar mencari angin segar atau dia beli rokok, apa dia bakal kembali kesini atau tidak?’

__ADS_1


Pikiran Briana kemana mana memikirkan dimana Akles?. Bunyi dering hp. Briana langsung mengecek siapa yang menelponnya, rupanya Alice menelpon.


“Haloo Briana kemana saja? Sudah sampai atau belum? Kenapa belum ada kabar darimu?” Teriak Alice dari telpon.


“Haloo Alice tenang dulu aku baru sampai, tadi aku mampir dulu beli makan, maaf Alice sungguh aku baru sampai”


Mendengar Briana sudah sampai membuatnya lega dan tenang.


“Yasudah briana jika kamu sudah sampai dengan selamat, segera kamu mandi dan makan, lalu istirahat”.


“Iya Alice yasudah aku tutup ya”.


Briana keluar dari kamarnya menuju kamar mandi untuk mandi, setelah ia mandi dan berganti baju langsung ia menghampiri meja makan membuka kantung pastik yang ia letakkan tadi.


Tetapi ia salah fokus ke sekertas yang terlipat dan ditindih oleh sendok, rasa penasaran seingatnya tadi pagi tidak ada kertas apa apa dimeja makan.


Membuat Briana langsung mengambil kertas itu dan langsung membukanya, rupanya kertas itu ditulis tangan oleh Akles yang meninggalkan pesan untuk dirinya.


Briana dengan hati hati membuka kertas itu dan langsung segera membaca pesan yang ditulis oleh Akles untuk dirinya membuat matanya berkaca kaca.


“Untuk Briana!. Terimakasih kamu telah menyelamatkan hidupku, aku tidak akan melupakan semua kebaikan yang telah kamu berikan, entah bagaimana aku bisa membalas semua kebaikanmu.


Maaf Briana aku pergi tanpa pamitan langsung padamu, benar katamu aku harus menyelesaikan masalah ini.


Briana aku pakai uang pemberianmu untukku pulang.


Briana kamu adalah wanita yang berharga untukku mulai saat ini. Jadi ijinkan aku untuk bertemu kembali untuk membalas semua kebaikan yang telah kau berikan.


Briana kamu jangan terlalu mengkhawatirkan aku, aku janji akan membangun kembali bisnisku bagaimanapun caranya.


Briana kamu harus jaga kesehatan, jangan sampai kamu sakit jangan sampai kamu lalai akan dirimu sendiri.


Makanlah makanan sehat. Briana jangan terlalu sering makan pedas dan soda dan juga mie instan. Briana terimakasih banyak.


Briana jangan ganti pin apartemenmu, aku pasti akan kembali lagi menemuimu aku janji.


Dari Akles Gamemmon”


Isi surat yang ditulis oleh Akles untuk Briana membuat Briana meneteskan air matanya, melihat lagi pesan kertas dari Akles, membuat Briana mengurungkan niatnya untuk makan dan menaruhnya kembali.


Briana kembali ke kamar membawa kertas di genggaman tangannya.


Briana hanya bisa termenung memandangi kertas yang baru iya simpan di laci meja riasnya, entah kenapa hatinya hampa ditinggal oleh Akles begitu saja tanpa berpamitan langsung, bahkan Briana pun buru buru pulang dari tempat Alice hanya untuk bertemu dengannya tetapi dia sudah pergi.


Iapun duduk di kasur mengambil hpnya dan menelpon ayahnya dengan panggilan vidio.


“Halo ayah Briana sudah sampai dirumah, ini tinggal tidur”.


“Anak ayah sudah sampai ya, gimana hari ini nak?”.


“Baik baik saja ayah, ayah Briana kangen ayah, boleh tidak temenin Briana tidur?”.


“Boleh dong sayang. Biasanya kan begitu, yasudah letakkan hpnya supaya ayah bisa melihat kamu tidur”.


“Terimakasih ayah, ayah Briana sangat rindu ibu”.


“Ayah juga rindu ibumu nak”.


“Ayah saat aku libur nanti temenin untuk menemui ibu ya”.


“Iya sayang, jangan nangis ya hapus air matanya, anak ayah pasti lelah sabar ya Briana doakan saja ibumu”.


Briana hanya bisa menganggukan kepalanya sembari menghapus air mata yang telah membasahi pipinya, memejamkan mata perlahan demi perlahan.


Ayah Briana menyanyikan lagu pengantar tidur yang biasa dinyanyikan ketika menemani Briana untuk tidur.


Melihat Briana yang sudah terlelap tidur dengan keadaan sedih sehabis menangis merindukan ibunya, membuat ayah Briana berkaca kaca dan langsung menyeka matanya sembari memandangi wajah kecil putrinya dari balik layar panggilan vidio itu.

__ADS_1


__ADS_2