
Sinar matahari mulai menampakkan cahayanya. Juanda yang sedang menyantap sarapan yang sudah disiapkan oleh Simbok dengan tenang.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi Juanda tampak sangat sibuk menelpon, mengecek berkas dan menatap layar monitor laptopnya.
Bunyi telpon berdering Juanda langsung mengecek siapakah yang menelponnya pagi hari.
“Haloo Juanda, Bagaimana kelanjutan email yang sudah kamu kirim padaku kemarin?” Tanya Akles terhadap Juanda.
“Aku sedang menyelidikinya, semalam juga aku sudah memberikan sempel tanah untuk dicek, supaya kita tau apakah kecurigaanku benar atau salah”.
“Baiklah jika begitu, aku akan mengirimkan email balasan tolong kamu cek juga cctv disana. Dan orang orangnya jangan sampai mereka pergi tanpa diketahui. Ingat Juanda! jangan gegabah. Kerja yang rapih, jangan sampai tikus tikus itu mencurigaimu yang sudah melangkah”.
“Baik Akles, ini saya sedang siap siap untuk pergi ke kantor! Kamu hari ini apakah akan kekantor ?”
“Untuk hari ini aku tidak kekantor dulu, aku akan ke bagian Produksi mengecek keamanan disana?.”
“Tunggu Akles. Jika kamu ketempat produksi bukankah mereka akan berusaha untuk menutupi kesalahan selama ini? Biarkan saja dulu”
Juanda melarang Akles untuk pergi ke bagian produksi, karena Juanda tau jika atasan yang langsung datang semua tikus tikus itu langsung kalang kabut. Pasti mereka akan segera menutupi kesalahan bagaimanapun caranya.
“Jika begitu, aku paham akan maksudmu Juanda, tenang saja aku akan mengurusnya. Kamu fokus saja apa yang ku suruh”.
“Baiklah jika begitu, ku percayakan padamu Akles. Yasudah kalau begitu ku tutup telponnya, sudah saatnya aku akan pergi.”
“Terimakasih Juanda, sampai ketemu nanti, kabari aku jika sudah ada perkembangan!”
“Baik jikalau begitu saya pergi dulu, nanti jika ada info lebih lanjut akan aku kabari lagi”.
Jawab Juanda dan langsung ia menutup telponya dengan Akles.
Setelah menelpon Juanda, Akles lalu keluar dari kamarnya, perlahan berjalan ke arah kamar papahnya.
“Pagi Tuan muda” Sapa salah satu pembantu yang masih terbilang muda dirumah itu, sembari membungkukkan badan dan kepalanya.
“Ah, Pagi Mbak, oiya papah ada diruangannya atau sudah keluar?”
Menjawab sapaan dan sembari tersenyum. Dan sekalian Akles menanyakan keberadaan papahnya itu.
“Bapak sudah keluar dari ruangannya Tuan... Saat ini Bapak diruang meja makan sedang menyantap sarapan pagi, jika Tuan Muda mau menemui Bapak, mari saya antar”
Jawab perempuan muda itu. Sembari tangannya mempersilahkan Akles untuk mengikutinya. Akles hanya bisa menganggukan kepalanya tidak menjawab. Dan segera ia mengikuti langkah kaki pembantu itu.
“Siapa namamu?”
Tanya Akles penasaran, perempuan muda itu mendengar pertanyaan Akles jalannya langsung terhenti. Tidak menjawab dan malah menundukkan kepalanya, rasa takut dan penasaran kenapa majikannya menanyakan namanya yang tak begitu penting.
“Loh kok berenti dan malah tidak menjawab. Tidak sopan sekali”
Akles manjawab ketus, karena pertanyaannya tidak dijawab dan malah hanya bisa diam saja.
__ADS_1
“Maaf Tuan, apa saya tidak salah dengar?”
Setelah mendengar suara Akles yang ketus, iapun langsung berbalik arah menghadap Akles dan tetap dengan kepala yang menunduk tidak berani melihat Akles. Pembantu itu langsung menanyakan ulang apakah ia salah dengar atau tidak jika Akles menanyakan namanya.
“Ah sudahlah, susah sekali orang orang disini menjawab, malah menanyakan ulang. Pada tuli apa bagaimana”
Akles menjawab ketus kesal, karena pertanyaannya tidak langsung dijawab malah menanyakan ulang pertanyaan yang sama.
Akles seketika langsung pergi tak memperdulikan pembantu itu, dan langsung melewatinya yang berdiam diri dan menunduk dihadapannya.
“Nama saya Usi tuan! maaf tidak langsung menjawab”
Pembantu itu langsung menjawab siapa namanya, setelah Akles melewati dirinya yang berdiam diri menunduk, seketika ia memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Dan memberitahu siapa namanya.
Akles yang mendengar jawaban dari perempuan itu langsung menyeringai, tidak menjawab atau menoleh ke arah perempuan itu. Segera ia berjalan menuju ruang makan dimana papahnya itu berada diikuti oleh pembantunya itu.
Tibanya Akles diruang makan, ternyata benar papahnya ada disitu dan sedangkan duduk sembari menikmati sarapan dengan tenang.
Menyadari putranya datang papahnya pun langsung menatap Akles dan tersenyum.
“Sudah bangun ternyata?” sapa papahnya setelah melihat Akles menghampirinya.
“Aku sudah bangun dari tadi pah, cuman baru keluar saja!” jawab Akles, sembari menarik kursi di samping papahnya untuk duduk.
“Yasudah kamu saparan dulu, setelah ini kita bicarakan lagi”
Setelah selesai sarapan mereka berdua duduk berhadapan berdiskusi di ruang kerja papahnya itu. Akles yang menatap layar laptop yang menyala dimeja, papahnya yang duduk menyilangkan kaki melihat sang putra.
“Pah ini email yang dikirimkan oleh Juanda, coba papah lihat”
Akles yang memutarkan laptop ke hadapan papahnya, melihat foto foto itu seketika papahnya langsung menaiki alis, memelototkan mata dan diikuti helaan napas.
“Ini tidak beres Akles, sungguh ini perbuatan yang disengaja! Selidiki, ini ulah orang dalam tidak mungkin jika orang luar melakuan perbuatan seperti itu”
“Aku juga mendukanya begitu pah, jadi hari ini aku ingin ke pabrik bagian produksinya. Tetapi Juanda melarangku jika aku yang pergi langsung”
Belum beres Akles menyelesaikan ucapannya, papahnya langsung memotong pembicaraan Akles.
“Jangan bodok Akles! Jika kamu yang pergi langsung pasti mereka akan langsung mengeles, pikirkan strategi yang matang jika kamu mau membuka kedok para bajingan itu”.
Suara yang penuh emosional, Akles hanya bisa menganggukkan kepalanya.
“Aku belum selesai ngomong pah sudah dipotong saja. Aku juga perpikir demilian, jika aku yang pergi kesana langsung pasti mereka akan menutupi kebusukannya. Jadi aku berencana membawa perempuan yang mengantarkan aku menemui papah tadi pas sarapan”.
Mendengar putranya berniat membawa pembantunya, membuat papahnya semakin bingung apa rencana putranya tersebut.
“Aku tidak mengerti apa hubungannya kamu membawa perempuan itu”
Dengan penasaran papahnya menanyakan maksud tujuan anaknya itu.
__ADS_1
“Kulihat dia masih muda dan rupanya juga menarik, jadi aku ingin membawanya kesana menyuruhnya masuk membawa penyadap suara dan kamera tersembunyi, yah main rapi”
“Akles bagaimana bisa dia masuk dia orang asing?”
“Aku tau pabrik tidak bisa dimasuki oleh orang luar selain karyawan, jadi aku berniat untuk menjadikannya operator produksi. Dia bisa keliling mencari tahu dari bahan baku, pengemasan dan cctv, mudah bukan?”
“Tapi apakah kamu yakin, bagaimana caranya dia masuk sedangkan perusahaan sedang krisis malah menerima karyawan baru, bukankah itu sangat mencurigakan?”
Ternyata papahnya belum mengerti maksud dari anaknya itu dan masih bingung bagaimana caranya.
“Pah aku akan memberikan surat perintah penurunan jabatan, yah anggap saja dia dari staff keuangan yang mumpuni karena suatu kasus dan krisis perusahaan jadi dia diturunkan jabatan, karena tidak mungkin memecat karyawan yang mumpuni, tenang saja pah aku sudah memikirkan stategi yang cukup matang”
“Tapi apakah kamu sudah menanyakan langsung ke pembantu itu? Siapa namanya papah tidak tau karena banyak yang bekerja disini.”
“Namanya Usi, nanti aku akan menemuinya langsung untuk membicarakan tentang hal ini, dia masih muda pasti pandai untuk diajak kerjasama”
“Ah hebat sekali kamu sudah tau namanya, papah saja yang disini tidak tau namanya siapa”
“Jangan berpikir macam macam. Aku menanyakan namanya pas dia mengantarkanku, ada wanita yang kusuka jadi tidak perlu papah mencurigai niatku”
Mendengar ada wanita yang disukainya papahnya langsung kaget dan seketika ia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri putranya itu.
“Kenapa apakah ada yang salah?”
Melihat papahnya yang langsung duduk disampingnya sembari tersenyum membuat Akles keheranan.
“Jadi kapan wanita spesial yang disukai anak papah ini dibawa kemari dan dikenalkan padaku?”
Papahnya langsung merangkul Akles menanyakan wanita itu. Begitu penasarannya papahnya terhadap wanita yang disukai Akles.
“Aku sedang berusaha mengambil hatinya”
Akles menjawab diikuti dengan senyuman membayangkan wajah Briana, melihat Akles tersenyum seketika papahnya langsung reflek mengeraskan rangkulannya.
“Ah pah sesak” Akles langsung menepis tangan papahnya itu yang merangkulnya.
“Sudahlah nanti saja bahas Briana, masalah perusahaan saja belum kelar”
“Oh jadi namanya Briana, nama yang cantik” Menjawab sembari menganggukan kepala.
Mendengar nama Briana yang diucapkan oleh papahnya, Akles langsung berteriak kesal karena keceplosan.
“Aaaahh!!! Sudahlah jangan urusi urusan pribadiku”
Akles langsung berdiri dari tempat duduknya dan langsung pergi meninggalkan papahnya sendiri diruangan.
“Briana Briana oh Briana hahaha” Teriak papahnya melihat Akles yang pergi.
‘Aah lucu sekali anakku, sejak kapan dia suka dengan wanita? baru pertama kali ini aku melihat dia tersenyum menceritakan wanita biasanya selalu ketus, aku jadi penasaran siapakah wanita yang bernama Briana itu, seperti apa rupanya dan hatinya? Pasti cantik dan baik, makanya itu Akles suka, jadi tidak sabar punya menantu hahaha”.
__ADS_1