
Juanda tidak menghiraukan Alice yang berlari begitu saja ia pun melanjutkan perjalanannya ke ruang kerja.
Setibanya diruangan ketika dirinya ingin membuka pintu membuatnya terkejut karena dengan waktu bersamaan OB keluar dari ruangannya lengkap dengan alat bersih bersih.
“Aaah maafkan saya pak. Saya tiba tiba keluar dari ruangan pas bapak mau membuka pintu jadi membuat bapak terkejut.” Ucap OB itu sembari tertunduk hormat.
“Iya tidak apa apa” menjawab sembari masuk keruangan begitu pula OB itu permisi untuk pergi karena tugas membersihkan ruangan tempat Juanda subah beres.
“Tunggu sebentar…”
Juanda menghentikan langkah kakinya setelah lima langkah masuk karena teringat akan muka Alice yang terburu buru dan melihat OB yang baru keluar dari ruangannya. Ia kemudian keluar kembali dan memanggil OB itu.
“Iya kenapa pak?.” Tanya OB itu ketika Juanda memanggilnya kembali. Wajah Ob itu langsung pucat takut jika ia melakukan kesalahan setelah membersihkan diruangan Juanda.
“Apakah kamu yang pertama membersihkan ruanganku?..” Tanya Juanda dengan nada dingin.
“Iya pak saya yang pertama. Apakah kurang bersih atau ada yang hilang?” Dengan suara bergetar ob itu menjawab jika memang dirinya yang pertama membersihkan ruangan itu.
“Ah bukan bukan..” sembari melambaikan tangannya.
“Mulai besok ob tidak ada yg boleh membersihkan ruanganku, terkecuali jika aku yang meminta..”
Seperti biasa nada bicara Juanda yang dingin dengan wajah yang datar walau memang tampan tetapi sangat disegani oleh para karyawan.
“Baik pak.. maaf kalau begitu saya permisi jika memang tidak ada lagi pak” menjawab dengan menunduk hormat.
“Baiklah kamu boleh pergi… eh tunggu beri tahu rekan setimmu yang ku katakan barusan”
“Baik pak” menunduk hormat kemudian pergi begitu juga Juanda langsung masuk ke ruangan.
“Pantas saja dia langsung buru buru ketika bersamaku tadi rupanya dia telat.. masih mau kerja atau tidak sih?” Rometan Juanda sembari menyalakan laptopnya memulai bekerja.
Kemudian Juanda mengambil telpon untuk menelpon seseorang untuk menyuruh Alice datang keruangannya.
“Halo pak ini aku Juanda managers assistant tolong panggil orang yang bernama Alice di devisi pemasaran bagian kreatif segera keruangan juga!…” Dengan nada suara yang ketus Juanda memerintahkan seseorang untuk memanggil Alice untuk datang keruangannya.
__ADS_1
“Alice!!… dipanggil pak Juanda tuh disuruh keruangannya sekarang juga!..” Teriak seseorang lelaki yang ditelpon oleh Juanda tadi, membuat semua orang yang berada diruangan langsung mengangkat kepala, semua mata tertuju ke arah Alice dengan tanda tanya.
“Hahaha mampus kamu Alice.”
“Haha hari ini habis kamu sama pak Juanda”
Semua orang meledek Alice dengan tertawa sinis dan bercanda. Tetapi tidak dengan Alice yang merasa takut karena hari ini ia tidak membersihkan ruangan Juanda seperti hukuman yang diberikan kemarim.
‘Bisa mati aku hari ini. Tuhan maafkan aku, papah mamah. Alice sayang kalian berdua Alice juga minta maaf banyak merepotkan dan banyak salah pada kalian berdua selama ini..’ Ucap Alice dalam hatinya sembari berjalan dan mengepalkan kedua tangannya berdoa.
Alice mengumpulkan semua keberaniannya untuk melangkah masuk keruangan orang yang tampan tetapi menakutkan bagi sebagian karyawan diperusahaan ini.
Tok tok tok Alice mengetuk pintu sebelum memasuki ruangan itu.
“Masuk” Jawab Juanda dari dalam ruangan.
“Permisi pak… Bapak memanggil saya?” Tanya Alice setelah memasuki ruangan.
“Tidak usah sok bertanya kenapa aku memanggilmu!.. jelas jelas kamu sudah mengetahuinya!.” Jawab Juanda dengan nada bicara ketus sembari jari telunjuk mengetuk ketuk meja hingga terdengar bunyi tuk tuk tuk.
“Tidak terima alasan!!!….” Nada bicara itu terdengar meninggi ditambah tatapan mata yang tajam bak ingin mengiris sesuatu.
Alice bergemetar iya sudah diringankan hukumnya malah bangun kesiangan tepat dihari pertama hukuman dimulai yaitu membersihkan ruangan Juanda.
Iya bingung akan melakukan apa lagi supaya diberikan kesempatan oleh Juanda mengingat sifat Juanda yang temperamental. Sedikit saja melakukan kesalahan akan berakibat fatal.
“Cepat ambil alat pembersih kerjakan sekarang juga!. Lap semua sampai mengkilap tidak ada debu secuilpun!… dan juga pel menggunakan kain tidak menggunakan alat pel supaya lebih bersih!.” Jawab Juanda yang kemudian ia berdiri dari tempat duduknyadan melangkah maju mendekati Alice yang berdiri di depan meja kerjanya.
“Baik pak.” Alice menjawab dengan terpaksa.
Juanda melirik Alice dari ujung kaki hingga ujung kepala, ia baru sadar ternyata Alice menarik juga tetapi tak semenarik Briana pikirnya.
Juanda lalu melangkah pergi meninggalkan Alice sendiri ia menuju ke ruang kerja Akles.
Ketika Juanda pergi, seketika itu Alice langsung menoleh ke belakang menendang nendang angin anggapnya menendang Juanda, diikuti ocehan kesal tak terhingga.
__ADS_1
Alice hanya bisa menarik napas panjang seraya menelus dada menggunakan tangan kirinya. Iapun beranjak keluar ruangan menuju ruang penyimpanan alat pembersih.
Alice kembali lagi sudah lengkap dengan alat tempur untuk membersihkan kembali ruangan Juanda yang sudah dibersihkan oleh OB tadi pagi.
Dengan wajah menekuk Alice membersihkan lantai, berjongkok mengelap dengan teliti takut ada yang terlewatkan.
Sudah sampai diujung ruangan Alice berdiri mengelap keringat diwajahnya. Senyum tipis dibibirnya setelah mengepel itu.
Tak lama kemudian Juanda datang langsung membuka pintu dan menginjakkan kakinya yang lantai masih basah sehinggak jejak sepatu Juanda tertinggal.
“Akh pak belum kering..” Replek Alice berteriak ketika Juanda yang tiba tiba sudah datang.
Juanda tak memperdulikan teriakan Alice ia langsung melangkah masuk menuju meja kerjanya.
‘Bangsat aku cape cape mengepel dengan posisi menjongkok tetapi ia seenaknya masuk meninggalkan jejak sepatunya..’ ucap Alice dalam hatinya dengan keadaan wajah yang merengut.
Alice pun segera mengepel kembali tanda jejak yang ditinggalkan oleh Juanda, dengan terpaksa ia hanya bisa tersenyum tipis ke arah Juanda.
Juanda yang risih akan senyum tipis tak manis itupun langsung mengangkat alisnya.
Alice mengerti akan alis itu, seolah mengatakan APA.
Alice hanya bisa menggelengkan kepalanya dan melanjutkan tugas mengepel itu.
Setelah 5 menit kemudia Alice menyelesaikan tugasnya.
“Pak saya sudah menyelesaikan hukuman saya untuk membersihkan ruangan ini” Ucap Alice dengan ceria, ia berharap segera pergi dari itu karena pekerjaannya juga menumpuk belum dikerjakan.
Juanda belum menjawab ia berdiri dari duduknya dan melangkah ke sudut ruangan, berjongkok mengecek lantai, mengecek meja. Semua ruangan itu di sentuh oleh jemari mengecek apakah masih ada debu atau tidak.
Setelah mengecek keseluruhan ia rasa sudah bersih tetapi Juanda belum puas mengerjain Alice, ia berpikir sejenak terdiam.
“Buatkan saya lemon tea” Ucap Juanda dengan nada suara datar.
Alice hanya bisa tercengang bukan jawaban itu yang ia inginkan.
__ADS_1