
Akles yang pergi dari rumah Briana memutuskan untuk menuju ke tempat sahabat sekaligus sekretarisnya yaitu Juanda.
Tiba di depan gerbang rumah Juanda, Akles langsung masuk dan langsung mengetuk pintu rumah Juanda tetapi belum ada balasan, lalu Akles memencet bel rumah dan tidak lama kemudia akhirnya pintu rumah Juanda dibuka.
“Siapa?” tanya seseorang yang membukakan pintu rumah.
“Loh pak Akles? Bapak lagi tidak dirumah, pagi pagi dia langsung berangkat seperti biasa. Ada apa ya pak?”
Tanya pembantu Juanda karena tidak biasanya Akles datang tanpa majikannya yaitu Juanda.
Rupanya tuan rumah itu sedang tidak berada dikediamannya.
“Iya mbok, jadi Juanda sedang tidak dirumah ya?”
“Iya pak, mari pak masuk dulu” si mbok langsung mempersilahkan Akles masuk.
“Mbok boleh saya pinjam Hpnya untuk menghubungi Juanda, kebetulan saya tidak membawa Hp. Dan lagi, boleh saya minta sebotol air putih jangan memakai gelas ya yang kemasan saja 1”.
“Baik pak, sebentar saya ambilkan dulu hp dan air minumnya”
“makasih Mbok” simbok hanya menundukkan kepalanya dan tersenyum, kembali ia ke belakang untuk mengambil hp dan air minum yang dipinta oleh Akles.
Akles lalu masuk ke kamar Juanda langsung ia merebahkan tubuhnya ke ranjang Juanda, memejamkan matanya untuk sejenak berfikir dan menenangkan pikirannya yang masih tertinggal di rumah Briana, ia berpikir apakah tidak apa apa pergi tanpa berpamitan langsung.
Tidak lama kemudia bunyi ketukan dari luar kamar Juanda ternyata Simbok mengetuk pintu memanggil Akles.
Akles lalu beranjak dari rebahannya dan langsung membuka pintu kamar Juanda.
“Pak ini yang dipinta bapak tadi” sembari memberikan ke Akles yang dipinta olehnya.
“Terimakasih mbok saya pinjem sebentar ya kamar ini dan Hpnya”.
“Iya pak pakai saja” Akles langsung menelpon Juanda.
Hp juanda yang berdering menelpon langsung ia mengecek siapa yang menelpon? Seketika membuat Juanda kaget melihat hpnya, tumben sekali Simbok menelponnya dijam segini. Tanpa basa basi Juanda mengangkat telpon.
“Haloo Juanda ini aku Akles” mendengar suara Akles dengan menelpon memakai no hp pembantunya membuat Juanda langsung kaget dan bingung.
“Halo ini bener Akles?”
“Iya aku Akles, Juanda ini aku sedang dirumahmu tepatnya dikamarmu aku pinjam sebentar”.
“Hei kamu dari mana saja hah kemarin!!!, kami kebingungan mencarimu dimana! Coba jelaskan”
‘Suara Juanda yang melantang membuat Akles hanya bisa menelan ludahnya rupanya benar jika mereka mengkhawatirkan diriku’. Imbuh Akles
“Bagaimana jika aku jelaskan secara langsung, jika di telpon nanti justru kurang jelas”.
“Suasanya semakin kacau Akles jangan bercanda kamu”
“Aku tau Juanda justru itu “.
“Yasudah sehabis ini aku langsung pulang, kamu jangan kemana mana tunggu aku disitu, jika kamu kabur lagi akan ku bunuh kau!”
Ancam Juanda kepada atasannya itu, membuat harga diri sebagai atasan sirnah rupanya, dikarenakan kejadian Akles yang menghilang kabur.
Setelah menutup telponnya lalu Akles mengembalikan hp Simbok yang telah ia pinjam.
“Mbok ini hpnya terimakasih ya, ini saya kembalikan”.
“Sama sama pak, yasudah Mbok kembali kebelakang ya pak jika ada perlu apa apa panggil saja”.
__ADS_1
“Baik mbok makasih banyak sebelumnya”.
Akles kembali ke kamar juanda merebahkan tubuhnya sambil menunggu kapan tibanya Juanda dan lama kelamaan membuatnya tertidur.
Tibanya Juanda dirumahnya langsung disambut oleh Simbok.
“Akles dimana Mbok?” Tanya Juanda kepada pembantunya setibada dirumah.
“Pak Akles ada dikamar bapak”. Menjawab pertanyaan dari majikannya tersebut.
“Terimakasih Mbok saya masuk dulu”
Juanda buru buru masuk setelah menanyakan kepada pembantuanya dimana Akles. Membuka pintu kamar melihat Akles begitu nyenyak tertidur membuatnya jengkel dan kesal.
“Akles bangun huy bangun enak banget kamu malah tidur disini”
Juanda yang langsung membangunkan Akles dengan menggoyangkan tubuhnya, membuat Akles tersadar akan tidurnya.
“Eh sudah dateng kamu?”
Tanya Akles pada Juanda, Juanda melipat kedua tangannya berekspresi melihat tajam Akles tanpa menjawabnya.
Melihat Juanda yang tidak menjawab membuat Akles langsung bangun dan berdiri menghadap Juanda.
“Dari mana saja kamu? Kamu tidak tau perusahaan lagi kacau dengan gampangnya kamu menghilang Akles, aku yang jadi sasaran mereka karena aku sekretarismu aku yang selalu ada dimanapun kamu tetapi kamu kemarin hilang tanpa kabar, tidak bisa dihubungi?”.
Juanda yang langsung mengomeli Akles yang sudah melakukan kesalahan terbesarnya yaitu kabur dari masalah. Akles hanya diam diomeli oleh Juanda.
“Coba jelaskan sekarang” Juanda masih mencari jawaban Akles, Akles menjawab dengan suara ragu ragu dan gagap.
“Entahlah aku kemaren kabur setakut itu melihat kerumunan orang demo nyaliku menciut aku takut melihat orang berteriak di depan gedung, aku pulang rumah sudah disita aku tidak tau harus bagaimana Juanda!”.
Juanda meyakinkan Akles untuk tidak kabur dari masalah lagi, karena dia akan selalu ada akan selalu menemani kapanpu Akles butuh akan dirinya.
“Coba kemaren kamu dimana saja ?” tanya Juanda masih penasaran.
“Aku kemaren menginap dirumah wanita yang baru ku temui saat itu juga” mendengar jawaban Akles yang menginap dirumah wanita yang baru dikenalnya membuat Juanda langsung kaget bahkan memelotokan matanya, ia bingung seperti bukan Akles saja karena satahu Juanda Akles paling anti terhadap wanita, ini bahkan sampai menginap.
“Hah siapa wanita itu?! kamu harus hati hati Akles bisa saja dia orang jahat, apa lagi kamu baru bertemu saat itu juga!!! Jangan jangan kamu sudah begitu terhadapnya”.
Mendengar sudah begitu terhadapnya membuat Akles bingung maksud dari sahabatnya itu.
“Apa maksud mu Juanda sudah begitu? Aku tidak mengerti!!” Juanda hanya menghela napasnya
“Jangan sok polos Akles kita sudah dewasa”
Menjawab dengan meragakan kedua tangan dekepal dan didempetkan, melihat Juanda meragakan itu langsung Akles bengong merespon terlebih dahulu maksud Juanda dan langsung berteriak.
“Pikiranmu kotor Juanda aku tidak seperti itu” Akles menjawab sambil menepis tangan Juanda memalingkan pandangannya ke arah lain.
“Lalu apa kejadian sebenarnya, kamu cerita jangan setengah setengah membuat orang ambigu Akles”
Teriak Juanda menjawab ucapan Akles.
“Aku kemaren hampir bunuh diri tetapi dia menyelamatkan aku, bahkan menerima aku untuk menginap ditempatnya!! Pagi ini juga dia memberikan aku uang, makanya aku bisa kesini menggunakan uang pemberian malaikat itu”.
Akles menceritakan semua kejadian yang telah menimpa dirinya tanpa ada yang disembunyikan, bahkan Akles tak segan memuji kecantikan Briana dan memuji jika Briana sangatlah baik hati dan ia harus membalas kebaikan Briana tersebut.
“Ada apa ini orang yang sangat anti terhadap wanita bisa bisanya memuji cantik, bahkan menyebut wanita itu membuatmu senyum senyum, wajah semringah senang”
Goda Juanda terhadap Akles dengan nada meledek, menoel noel tangan Akles, membuat Akles langsung melototkan matanya.
__ADS_1
“Tapi dimana sifat kompetitif yang ada pada diri seorang Akles? Apakah pak CEO Harry tau kejadian ini kamu ingin bunuh diri?”.
Akles hanya menggelengkan kepalanya menandakan jika papahnya tidak tau menau akan kejadian itu.
“Hemm kalau pak CEO tau bisa gawat Akles, untuk saat ini kita rahasiakan dulu kajadian kamu kabur dan ingin bunuh diri dan bertemu wanita itu”.
“Namanya Briana, Juanda bukan wanita itu”
Rupanya Akles tidak terima jika Juanda menyebut nama Briana dengan sebutan Wanita itu.
“Iya deh iya Briana kan Akles?!” Juanda mengiyakan jawaban Akles dengan wajah datar, membuat Akles tersenyum puas.
“Jadi bagaimana rencana kedepannya Akles?”
Tanya Juanda mengalihnya topik pembicaraan mengenai Briana, walaupun sebenarnya Juanda sangat penasaran dengan Briana yang bisa membuat Akles sampai tersenyum, menceritakan seseorang yang sebelumnya Akles terkenal sangat cuek akan terhadap yang namanya wanita.
“Untuk saat ini, siapa saja orang orang kita yang masih bertahan dan yang masih bisa dipercaya? Apakah papah sudah turun tangan juga untuk mengatasi masalah ini?”.
“Untuk pak CEO belum turun tangan, beliau sudah menelponku dan dia mengatakan jika biar kamu mengatasi masalah ini terlebih dahulu, jika kamu sudah angkat tangan baru beliau turun tangan”.
“Baguslah jika papah belum turun tangan, mari kita selidiki bagaimana bisa semua terjadi secepat ini”.
Pembicaraan mulai serius, begitulah Akles jika membahas dan menyangkut perusahaan ia begitu sigap dan serius.
“Orang yang bisa dipercaya bisa dihitung, orang lama juga belum tentu setia padamu Akles”.
“Untuk saat ini perintahkan kepada tim audit 1 bagian lapangan untuk mengecek masalah bahan baku utama, kenapa bisa begitu cepat rusak? Dan yang kedua cek dibagian produksi semua contoh kemasan dan isi nya. Ketiga cek dipagian tim pemasaran kenapa bisa barang kita tidak terjual apakah tim pemasaran tidak bisa kerja?”.
“Baik akan saya perintah masing masing orang dibagiannya dan tentunya orang yang bisa dipercaya. Dan satu lagi Akles, ijinkan aku untuk mengecek tim managemen. Aku curiga ada suatu hal yang membuat kita bisa bangkrut seperti ini’’.
Ternyata Juanda mencurigai adanya tim tidak sehat yang membuat mereka bangkrut.
“Baiklah lakukan apa yang perlu kamu lakukan, untuk para karyawan yang demo tolong kamu temui mereka dan bilang gaji bulan ini akan dibayarkan. Untuk para petani kamu temui juga jika kita belum bisa membayar mereka dalam waktu dekat, mungkin paling cepat dibayar 3 hari paling lama seminggu, dan beritahu jika mereka tidak perlu bekerja dulu. Karena kita belum bisa produksi lagi”
Akles memerintahkan Juanda, dengan lesu ragu ragu Akles mengambil keputusan.
“Juanda untuk sementara Aku akan tinggal di rumah papah dan aku pinjam mobilmu satu untuk sementara, dan tolong kamu urus untuk menjual rumahku dan semua mobil yang aku miliku untuk membayar sisa gaji para karyawan”.
“Kamu yakin Akles untuk menjual semua?”
“Iya sangat yakin mau bagaimana lagi ini salahku”.
Dengan berat hati Akles melepas semua aset yang telah ia dapatkan dengan susah payah. Juanda hanya bisa mengiyakan perkataan Akles.
Akles memberikan perintah terhadap Juanda untuk menyelidiki semua kecurigaan dan menghendel para pendemo yang sudah berdemo dari kemarin di depan gedung perusahaan.
Melihat Akles begitu berani mengambil langkah membuat Juanda kagum terhadap sahabatnya itu.
‘Pantas saja jika dia bisa langsung jadi Direktur Utama dengan usia muda, lihat saja keahliannya begitu cemerlang, situasi yang tidak mendukung saja dia bisa langsung mengambil keputusan yang tepat, walau semalam keputusannya yang bodoh kabur, wajar saja dia begitu karena bertemu orang berbondong bondong berdemo, membuatnya stres’
Imbuh Juanda dalam hatinya.
“Aku berangkat lagi ke kantor jika begitu, kunci mobil yang ingin kamu pinjam abil saja dikamar”.
“Biaklah terimakasih Juanda atas bantuannya, dan tolong selidiki semua yang mencurigakan”.
Juanda hanya bisa menganggukan kepalanya lalu meninggalkan Akles untuk menuju ke kantor kembali.
Begitu pula Akles mengambil kunci mobil dikamar lalu berpamitan dengan Simbok. Akles melaju dengan kecepatan rendah sembari memikirkan bagaimana langkah yang tepat.
Kembali ia mengingat wajah Briana membuatnya yakin kembali untuk menyelesaikan masalah ini, karena ia sudah berjanji dipesannya kepada Briana untuk bangkit kembali. Rupanya Akles menuju ke rumah papahnya untuk mendiskusikan masalah ini.
__ADS_1