
Matahari sudah semakin sejajar dengan kepala menandakan hari sudah siang, tetapi Akles masih duduk dimeja kerja terfokus akan laptop dan berkas berkas yang munumpuk.
Tatapan yang dingin siapa saja yang melihatnya tidak akan tau apa yang sedang dipikirannya.
Tangan yang mulus putih bersih dan juga kekar itu mengocek saku celana memeriksa hpnya. Jari jemarinya mengetik sesuatu di hpnya, menelpon seseorang.
“Halo Juanda bagaimana kelanjutan email yang dikirim?”
Ternyata Akles masih gusar belum ada info lanjut dari Juanda.
“Setelah makan siang aku akan menemuinya pak, jadi bisakah kita bertemu sore ini?” Tanya Juanda.
“Sore ya? Nanti aku kabari lagi bisa bertemu atau tidak, soalnya aku ingin menemui seseorang”
“Siapa itu?”
“Kau tak perlu tau siapa ini urusan pribadiku”
Mendengar itu membuat Juanda terkejut tidak biasanya membicarakan hal pribadi jika sedang bekerja, bahkan Juanda paham jika menyangkut pekerjaan biasanya Akles mengenyampingkan hal hal yang menyangkut pribadi.
“Aah tidak biasanya, aku jadi makin penasaran urusan pribadi itu? hahaha”
Tertawa licik meledek tidak peduli jika Akles adalah atasannya.
“Sudahlah nanti ku usahakan, puas kan kamu?”
“Nah ini baru Pak Dirut yang ku kenal haha”
Juanda tertawa puas mendengar Akles kesal.
“Hari ini aku menyuruh pembantu yang bekerja dirumah Pak CEO untuk masuk pe pabrik ku perintahkan dia menjadi operator produksi, jadi kubuat alesan penurunan jabatan dari staff ke operator”
Akhirnya Akles memberitahu rencananya yang menyuruh Usi untuk menjadi bagian operator.
“Apaaaa!!! Kamu tidak salah pak? Apakah tidak terlalu beresiko menyuruh pembantu dalam rencana ini”
Mendengar itu membuat Juanda bingung bisa bisanya pembantu yang dipintai tolong kenapa bukan orang lain saja.
“Kau sama saja dengan orang orang itu!.. Apa karena dia seorang pembantu? Apa pernah rencanaku gagal?”
Akles geram mendengar Juanda yang tidak percaya padanya.
“Aah bukan begitu pak, tetapi aku hanya bingung kenapa harus pembantu pak CEO kenapa tidak menyuruh yang ahli dibidangnya?”
Juanda masih kekeh tidak percaya akan rencana atasannya itu.
“Kamu sama bodohnya, sudahlah nanti ku jelaskan secara langsung saja. Aku adalah atasanmu tidak pantas nada bicaramu lebih tinggi daripadaku”
__ADS_1
Akles langsung menutup telponnya.
“Halo pak bukan itu maksud saya, tut tut tut halo pak?” Ternyata sudah dimatikan oleh Akles sambungan telponnya.
“Aaakhh bukan begitu maksud ku Akles!”
Juanda yang tampak gusar mengayunkan hpnya dengan keras.
“Aku sudah lancang, sudahlah jika bertemu minta maaf saja bisa gawat jika Akles marah” Juanda menarik napas dalam dalam menenangkan pikirannya.
“Semua sama saja kenapa tidak percaya dengan orang yang belum pernah mereka temui dah bahkan belum tau akan kemampuan orang. Menilai orang dari luar saja”
Bergemingnya Akles setelah mengakhiri sambungan telponnya. Dan dia juga tidak sadar jika pertama berbincang pada Usi juga menanyakan bisa baca tulis atau tidak padahal jaman sekarang siapa yang tidak bisa baca tulis.
Akles memperhatikan dengan teliti situasi pabriknya lewat kamera tersembunyi tetapi belum membuahkan hasil.
‘Ini kenapa tidak langsung bekerja sih, kenapa masih disuruh duduk saja?’
“Usi kamu bisa dengar aku?”
Akles yang gemas akan situasi itu langsung mengecek Usi secara langsung.
“Ehem ehem hem”
Usi berdehem tiga kali bertanda disampingnya ada seseorang. Usi yang mendengar Akles memanggil namanya juga langsung memberikan kode dan membalikan badan melihat orang di belakang dan disampingnya supaya Akles melihat orang yang sama dengannya.
“Oh ternyata ada orang? Coba kamu tanyakan kenapa tidak langsung bekerja? Kenapa malah duduk saja bahkan sampai siang begini?”
“Maaf pak, ini kenapa saya tidak langsung bekerja ya malah disuruh duduk saja dari tadi?”
Usi menanyakan kepada seorang pria disampingnya tetapi bukan spv tadi.
“Kamu duduk saja dulu disini, ini juga sedang jam istirahat. Setelah istirahat nanti baru kamu dipekerjakan, kamu sudah tidak sabar bekerja ya? Sunggu rajin atau cari muka?”
Jawab seorang pria itu dengan wajah masam, Usi mengerutkan alisnya setelah mendengar ucapan pria itu.
‘Sudahlah jangan terpancing oleh omongan orang orang di sini, Usi sabar saja! ingin sekali ku tarik lidahnya’
“Apa apaan ucapannya itu dasar manusia Brengsek!!!..” Teriak Akles membuat Usi langsung mengusap telinganya takut orang mendengar.
‘Oh tuhan suara teriakannya saja sangat seksi’
Semua baik buruk yang dilakukan Akles semua disukai oleh Usi.
“Kamu makan dulu istirahat disana ada kantin jadi kamu juga bisa makan sepuasnya secara ge-ra-tis!”
Pria itu memberitahu Usi sembari menunjukkan arah kantin.
__ADS_1
“Baik pak terimakasih, kalo begitu saya permisi dulu”
Usi yang tidak bisa berbuat apa apa hanya bisa menuruti perintah.
“Setelah istirahat kamu bisa temui spvmu diruangannya”
Memberitahu sembari pergi, Usi hanya bisa mengelus dadanya melihat orang orang sini tidak ada sopan santun sama sekali.
‘Dasar sudah pada tua saja belagu, kenapa orang orang disini itu tak ada sopan santunnya sih? Aku jadi kesal sendiri apa bisa aku bertahan? Ah sudahlah aku mau makan dulu lapar!’
“Kamu makan saja dulu Usi, isi energimu dan pas berjalan bisakah kau melirik disekitar? Supaya aku bisa mengecek situasi disana”
“Iya pak bisa, kalau begitu saya pergi istirahat sebentar”
‘Aaakkh seneng banget Tuan begitu perhatian menyuruhku makan’
Membuat Usi tersenyum sembringah, iapun berjalan menuju kantin tak lupa melihat kiri kanan memperhatikan sudut demi sudut ruangan seperti yang diperintahkan oleh Akles.
Akles yang melihat masih belum ada tanda tanda curang diarea itu, tetapi masih penasaran saja kenapa Usi tidak langsung dipekerjakan malah disuruh menunggu.
Dikantinpun masih aman aman saja Usi pun begitu menikmati makan siangnya, membayangkan makan berdua dengan Akles.
‘Pikiran kotor macam apa ini’ sembari menggelengkan kepalanya.
‘Sadarlah Usi jangan terlalu berharap pada tuan muda, tetapi aku tidak sabar pulang karena akan bertemu kembali dengan tuan muda. Ini berkat doaku yang ingin bertemu lagi dengan tuan muda dan akhirnya bertemu bahkan mengobrol dan pergi bersama’
Di hari pertama Usi menginjakkan kaki di kediaman pak CEO Harry serta pertama kalinya pula Ia melihat Akles nah sejak itulah Usi sangat mengagumi anak dari majikannya itu.
Tak terasa jam istirahat sudah berakhir saatnya Usi kembali dan menemui Spvnya.
“Tuan aku gugup sekali” Berbicara kepada Akles dan berharap bisa disemangati lagi olehnya.
“Tenangkan dirumu, tarik napas dalam dalam aku akan selalu memantau, oh iya rambutmu menutupi kameranya”
“Maaf tuan” sembari menata rambut dan menaruhnya kebelakang telinga supaya antingnya tidak tertutup oleh rambut.
Langkah kaki Usi terhenti sejenak sebelum memasuki ruang spv itu, menarik napas dalam.
“Haaah tenang Usi kamu pasti bisa Tuan muda bersamamu”
Akles hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Usi.
“Iya benar aku bersamamu” Akles menjawab.
Mendengar itu membuat Usi seperti ingin terbang melayang bahagia, langsung kepercayaan dirinya meningkat dengan pesat.
Tok tok tok mengetuk pintu “Ia silahkan masuk” jawab dari balik ruangan.
__ADS_1
“Permisi pak” Sapa Usi.
Spv itu tidak menjawab sapaan Usi hanya fokus dengan laptopnya, menyuruh Usi duduk dengan bahasa tubuh.