Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
25. Iri


__ADS_3

Hari sudah mulai sore matahari pun sudah mulai condong ke barat, bayangan sudah mulai memanjang, mobil hitam yang amat elegan berhenti diparkiran rumah sakit dimana Briana bekerja.


Lelaki itu keluar dari mobil lengkap dengan jas dan kaca mata hitamnya, bersandar di samping mobil sembari menunggu seseorang keluar.


Setiap orang yang melintas pasti akan menoleh ke arah Akles terpana karena melihat ketampanan dan karismatiknya.


Akles begitu terlihat berbeda dari orang orang disana bagaimana tidak dari penampilan agak lain. Tinggi, tampan, pakaian yang bermerek mobil yang ganteng, siapa saja yang melihat pasti akan terkunci pada pandangannya.


Akles mengecek hpnya melihat apakah sudah ada kabar dari Briana atau belum.


“Kemarin Briana pulang dijam jam segini, aku tunggu saja mungkin sebentar lagi dia pulang, aku telpon tidak kunjung diangkat aku datangi apartemennya orangnya juga tidak ada, mungkin ia sedang bekerja dan sibuk jadi tidak sempan melihat hpnya” imbuh Akles dalam hatinya rupanya ia sudah ke apartemen Briana sebelum datang ke Rumah Sakit dimana Briana bekerja.


Tetapi sudah setengah jam lamanya Akles menunggu Briana tak kunjung keluar dari situ. Ia mulai gusar melihat hpnya khawatir karena Briana tidak ada kabar sedari tadi.


“Ah apakah aku berlebihan seperti ini? Padahal kan aku belum lama kenal dia, apakah Briana akan risih terhadapku? Sudahlah tunggu saja sebentar” pikiran negatif mulai muncul dalam benaknya takut jika Briana sengaja menghindar.


Disisi lain didalam rumah sakit Diza yang sudah tiba dilobi berjalan keluar ingin pulang tak sengaja melihat wajah yang tidak asing baginya. Ia melihat dari kejauhan wajah Akles yang bersandar dimobil hitamnya tampak sedang menunggu.


“Itu seperti laki laki yang bersama Briana kemarin?”


Diza mulai tersenyum miring seperti ada niat terselubung dalam senyumnya itu. Buru buru ia mempercepan jalannya tetapi tidak berlari menghampiri Akles di parkiran.


Sesampainya Diza disana ia perlahan memberanikan diri untuk mendekati Akles.


“Ekeeem hai? Kamu mencari Briana ya?” tanpa basa basi Diza langsung ke intinya.


Mendengar Diza mengetahui jika ia menunggu Briana iapun langsung menoleh ke arah Diza dan langsung melepaskan kacamata hitam yang sedari tadi dipakainya.


“Hmmm kamu temannya Briana?” Tanya Akles penasaran.

__ADS_1


“Yaps tapi ada apa kamu kemari?” Diza dengan penuh tanda tanya dalam pikirannya. Ia ingin menggali lebih dalam kenapa lelaki ini disini.


“Ah aku menunggu Briana” Menjawab dengan singkat tanpa ekspresi.


“Menunggu kenapa?” Menanyakan lagi


Akles terdiam sejenak sembari melihat Diza dari ujung kaki hingga ujung kepala, mata Akles terlihat tidak menyukai keberadaan Diza yang dinilai ingin tau urusan orang.


Diza yang tidak sabar menunggu jawaban Akles langsung melangkah kan kakinya mendekati Akles lebih dekat.


“Kamu tau Basil? Lelaki yang ada dalam hatinya Briana?” Berniat mengompori.


“Basil? Siapa dia?” Penuh penasaran karena Diza menyebut nama laki laki yang berhubungan dengan Briana.


“Haha rupanya kau tidak tau?” Memalingkan muka sembari mundur selangkah.


“Apa maumu?” Tatapan tajam Akles mengarah ke Diza ia sudah tau maksud dari Diza karena Akles sudah lama terjun ke dalam Bisnis jadi ia sudah paham akan negosiasi. Karena terlihat Diza seperti ingin bernegosiasi padanya.


“Pantas saja jika kau tidak tau karena wanita itu pandai bersandiwara apa lagi mengenai laki laki” tersenyum miring sembari melirik tajam ke arah Akles.


“Oke jika kamu mau tau siapa sebenarnya Basil? Tapi sebelum itu ini kartu namaku?” Memberikan kartu namanya ke Akles, Akles menerima kartu nama itu dan langsung membacanya.


“Diza Iram….. ” yang pertama Akles baca ialah namanya.


“Yaps kamu bisa panggil aku Diza aku bekerja disini sebagai perawat sama dengan Briana tetapi aku lebih dulu masuk disini” suara yang pelan tetapi amat sombong.


“Jadi apa untungnya aku menerima kartu nama ini?” Mengacungkan kartu nama itu dengan menjepitkan di antara jari tengah dan telunjuk.


“Akan ku beritahu siapa Basil dan hubungan mereka berdua”

__ADS_1


“Jadi? Bicaralah langsung ke intinya” Akles langsung memotong pembicaraan Diza yang menurutnya tidak langsung ke inti.


“Ah rupanya aku terlalu lama ya haha baiklah” sembari merapihkan rambutnya menaruh ke belakang telinga.


“Aku akan membantumu mendapatkan Briana? Dan Basil adalah orang yang seharusnya bersamaku bukan Briana? Jadi kita bisa bekerjasama aku mendapatkan Basil kamu mendapatkan Briana. Bagaimana?” Memberitahu rencanananya kepada Akles.


“Hahahaha ku kembalikan kartu namamu” mengembalikan dengan paksa kartu nama itu kepada pemilik aslinya.


Melihat reaksi Akles membuat Diza tercengang kesal dan langsung memelototkan matanya ke arah Akles.


“Haha kenapa juga aku harus bekerjasama denganmu? Kamu lihat penampilanku!… bukan kah semua orang yang melihat pasti akan tertarik. Lihat wajahku bukankan sangat tampan? Pakaian yang ku kenakan bukankah bermerek? Mobil yang ku kendarai bukankah mobil mewah? Jadi untuk apa aku bekerjasama denganmu yang tidak ada untungnya bagiku!!!..”


Tatapan Akles sangat amat mencekam membuat Diza terdiam menelan ludahnya sendiri. Tak bergeming sedikitpun membantah ucapan Akles yang masuk akal, tetapi ia berusaha tegar tak ingin terlihat lemah.


“Kamu jangan terlalu percaya diri, lihat saja pasti suatu saat nanti kamu akan meminta bantuanku” mengancam dengan suara bergetar sembari mengepalkan tangannya kesal, Diza sangat terlihat iri melihat Akles yang penuh teguh mendekati Briana secara terang terangan.


“Sudahlah aku pergi saja” ucap Akles yang langsung pergi tanpa basa basi meninggalkan Diza dan langsung masuk ke lobi rumah sakit.


‘Lihatlah orang seperti ini sangat licik menghalalkan segala cara untuk mencapai maunya, memangnya aku seburuk itu sampai meminta kerja sama dengannya hanya karena mendapatkan Briana. Tanpa bantuannya pun aku bisa meluluhkan Briana? Sepertinya dia bukanlah teman Briana karena ia berusaha menjelekkan Briana di depan ku yang baru pertama kali bertemu dengannya. Ah seram sekali wanita seperti itu’ imbuh Akles dalam hatinya sembari berjalan.


“Akh sialan lihat saja aku akan balas semua ini, Briana jangan sampai kamu mendapatkan Basil lagi dan aku tidak akan tinggal diam melihatmu bahagia” penuh emosi dan amarah yang amat dalam dari dalam lubuk hati Diza yang amat membenci Briana.


Akles berjalan menuju lobi menanyakan dimana Briana kenapa tidak kunjung pulang ke receptionist rumah sakit itu.


“Permisi mbak mau tanya Briananya ada gak ya?” Tanya Akles dengan ramah.


“Loh bukannya ini masnya yang kemarin itu ya, Suster Briana kayaknya gak masuk sedari pada saya tidak melihat dia? Tidak di telpon saja mas?”


“Yasudah kalau begitu, terimakasih banyak ya?” Bisa terlihat dari raut wajah Akles terlihat kecewa, ia tidak bisa menghubungi Briana maupun menemuinya langsung.

__ADS_1


Akles akhirnya pergi dari rumah sakit tanpa hasil hanya terbawa rasa kekecewaan dan khawatir.


__ADS_2