
Seminggu sudah berlalu ketika semua sibuk akan tugas masing masing terutama Akles yang amat sibuk akan pekerjaan yang memusingkan ditambah masalah yang masih banyak belum terselesai masih tahap penyelidikan.
Rupanya Akles sudah yakin akan tekatnya untuk mengurangi jumlah produksi karena bahan baku yang dianggapnya tidak sesuai dengan kualitas seperti biasanya, perlahan Akles mengocek saku celana mengambil hp untuk menelpon seseorang.
‘Kenapa ini dia tidak mengangkat, aku sampai menelpon yang kedua kalinya tetap saja tak diangkat. Apakah dia masih bekerja?’ tanya Akles sendiri dalam hatinya setelah menelpon Usi yang tidak mengangkat telpon darinya.
Sudah cukup bukti yang Usi berikan kepadanya berupa foto dan rekaman selama ia bekerja sebagai mata mata Akles di bagian Produksi.
“Cepat datang ke ruanganku segera!” ucap Akles dalam sambungan telpon kantor terhadap sekertarisnya.
Selang beberapa menit kemudia sekretaris itu datang ke ruang Akles, ia melihat Akles yang duduk di meja kerja sedang sibuk dengan laptop dihadapannya itu.
“Permisi pak” sapa hormat sekretaris itu setelah masuk dan menutup pintu ruangan.
Akles tidak menjawab hanya mengangguk tetapi matanya tetap tertuju ke laptop dan tangannya langsung menunjuk kursi menyuruh untuk segera duduk.
Setelah duduk lantas tak membuat sekretaris itu membuka mulutnya sebelum Akles memulai perbincangan lebih awal.
“Ekhem kamu tolong handle pekerjaanku untuk hari ini karena aku akan pergi ke tempat produksi” Ucap singkat Akles terhadap sekretarisnya itu.
“Baik pak” menjawab dengan sopan nan singkat
“Bilang saja aku dinas keluar tak perlu kau beri tahu jika aku pergi ke tempat produksi terkecuali Junada dan Direktur pak Muin” Memberitahu kembali jika ada yang mencarinya tidak perlu memberitahu ia kemana.
Sekretaris itu hanya bisa mengangguk paham tidak banyak bicara layaknya sekretaris, karena ia merasa segan terhadap Akles yang terkenal dingin cuek dan tegas.
“Ini kamu bawa file berkas jika direktur Pak Ipan menanyakan kamu beri saja langsung jangan sampai ada yang masuk ke ruangan aku tanpa seijin dariku terkecuali Juanda dan CEO!” Sembari menunjuk tumpukan berkas di mejanya memberitahu jika dokumen itulah yang harus diberikan jikalau Direktur Ipan mencari dan tak perlu masuk ke ruangan Dirut jika Akles tidak berada di tempat.
“Baik Pak Dirut” Ucap sekretaris itu sembari mengambil berkas yang dimaksud oleh Akles.
__ADS_1
“Kamu boleh keluar sekarang” Menyuruh sekretarisnya untuk keluar setelah memberikan pesan.
***
Hari sudah kian siang matahari juga sudah mulai meninggi cuaca cerah yang terasa sangat gerah menyelekit ke kulit jika terkena matahari langsung.
Terlihat Akles dan Juanda sudah didalam mobil bersama, Juanda seperti biasa menjadi supir dan Akles duduk tempat penumpang.
Dengan setelan jas dan sepatu yang mengkilap penampilan mereka berdua sangat menggugah mata tetapi lain halnya dengan para pekerja jika melihat kedatangan Akles yang mendadak pasti lain cerita, keringat dingin dipastikan akan keluar.
Mobil yang serba hitam berjumlahkan tiga mobil itu juga terlihat mengikuti mobil yang ditumpangi Akles dan Juanda dari belakang.
“Rupanya mereka sudah dibelakang pak” Ucap Juanda yang melihat dari kaca sepion tampak familiar akan mobil yang mengikutinya.
Akles yang replek langsung memutarkan tubuhnya untuk melihat dari belakang seperti yang dimaksud oleh Juanda.
“Coba kamu telpon mereka apakah yang menyetir baru belajar lelet sekali” Ucap Akles dengan ketus.
“Baik pak” Jawab Juanda cepat sembari mengocek telponnya untuk menelpon rombongan di belakang.
“Tolong dipercepat laju mobil kalian jangan terlalu jauh nanti bisa tertinggal, ini perintah dari pak Dirut” ucap Juanda dalam sambungan telpon.
Setelah menutup telpon Juanda kemudian mempercepat laju mobilnya diikuti rombongan dari belakang yanh tampak terlihat sudah mulai mendekat setelah di telpo Juanda.
Setelah 45 menit diperjalanan melaju dari kantor pusat ke Pabrik produksi akhirnya mereka sampai dengan selamat akan tetapi mereka tidak bisa langsung masuk karena security disana tidak mengenali wajah Juanda dan Akles hanya tau akan namanya saja, sehingga membuat mereka diberhentikan terlebih dulu sebelum masuk tak serta merta dibukakan gerbang melainkan dipertanyakan maksud dan tujuan datang kemari.
“Menjengkelkan sekali wajah wajah orang ini, langsung beritahu saja supaya bisa segera masuk Juanda!.” gumam Akles yang agak kesal karena tidak langsung dibukakan gerbang.
“Baik pak” Juanda langsung membuka kaca mobilnya yang sudah ada security untuk mengecek siapa yang datang.
__ADS_1
“Permisi pak?”
Belum kelar security itu menyelesaikan ucapannya Juanda langsung memperlihatkan kartu namanya membuat security itu terdiam sejenak mencerna dan memperhatikan nama dan jabatan Juanda serta mencocokkan foto di kartu nama dan aslinya.
“Wooooy!!!! Cepat bukakan gerbangnya lama sekali aku sudah sabar ternyata memang kalian ini kerjanya lama tak becus!…”
Teriak Akles dari dalam mobil sehingga terdengar sampai keluar, membuat Juanda melirik dari kaca sepoin melihat Akles yang berteriak rupanya Akles kesal akan security itu karena tidak segera membuka gerbang padahal Dia sudah melihat kartu nama Juanda.
“Baik pak” menunduk hormat dengan wajah yang cemas.
Security itu yang mendengar suara Akles tetapi tidak bisa melihat karena Akles duduk di bangku penumpang, Langsung tanpa basa basi membukakan gerbang ia kelimpungan mencari rekannya untuk bersiap kena bos besar datang
Setelah membukakan gerbang mobil hitam itu masuk berjumlahkan 4 mobil. 1 mobil yang ditumpangi Akles dan Juanda 3 mobil adalah rombongannya Akles yang mengikut.
Akles dan para rombongan tanpa basa basi langsung masuk ke dalam pabrik produksi, dengan gerakan isyarat Akles memerintah salah satu rombongannya untuk masuk ke ruang servers untuk mengecek cctv. Dan menyuruh berjaga di pos security dan dipintu masuk serta ruang produksi untuk memberhentikan rutinitas bekerja seperti biasanya.
membuat semua pekerja kalang kabut tanpa rencana apapun tak bisa mengelak sedikitpun. Mau dijabatan paling bawah ataupun manager sekalipun terdiam tak bisa berkutik.
Akles masuk ke ruang produksi dimana dengan penjagaan ketat semua orang disana terdiam mematung menundukkan kepalanya tak berani menaikkan pandangan.
“Ada apa ini Pak Dirut? Kenapa mendadak tanpa memberitahu jika ingin datang kemari?”
Tanya spv itu kepada Akles dengan suara terenah engah, Ia yang mendengar Akles datang langsung berlari tanpa pikir panjang untuk bertemu Akles sebelum sang Dirut melihat bahan baku utama produksi niat hati untuk memperlambat sang Dirut tetapi langkahnya kurang cepat karena Akles sudah masuk ke ruang produksi hanya berjarak beberapa meter saja dari tempat penyimpanan bahan pokok produksi.
Akles tidak menjawab pertanyaan itu matanya melirik tajam seperti jijik melihat seseorang di depannya itu lalu Akles melangkah maju tanpa peduli terhadap spv itu.
Akles bahkan mendongahkan pandangan sembari melirik pengawalnya mengisaratkan supaya lelaki dihadapannya itu di usir dari hadapannya itu.
“Pak Dirut tunggu pak, kenapa ini saya diperilakukan seperti ini pak?” Teriak spv itu yang tubuhnya diseret keluar oleh pengawal Akles.
__ADS_1