
Sepulangnya dari cafee Briana dan Akles sudah di dalam mobil tak diikuti oleh Juanda karena ada keperluan pekerjaan.
Perlahan melaju dengan kecepatan sedang mobil yang dikendarai oleh Akles.
“Briana terimakasih atas waktunya dan yang kemarin telah menolongku” Berbicara sembari menyetir.
“Sama sama Akles, jadi perusahaanmu seperti itu ada kesengajaan dari orang yang ingin membuatmu jatuh? Maaf bukan berniat menguping tadi tak sengaja terdengar” Menanyakan penasaran.
“Tidak apa apa kok. Emm sepertinya begitu aku belum tau jelas tetapi ku rasa ada orang dibalik krisisnya group gamon, untuk sekarang aku sedang menyelidiki dengan hati hati”
“Ohh… terus kenapa kamu menemuiku apakah ada waktu? Padahal kan kamu juga pasti sedang sibuk mengurus masalah ini”
“Briana…”
“Iya” jawab singkat sembari menatap Akles yang sedang menyetir.
“Seberapa sibuknya aku itu tidak penting yang paling penting aku bisa bertemu lagi denganmu karena berkat dirimu aku masih bisa bertahan sampai sekarang…” menjawab dengan serius.
“Bukan hanya dirimu yang bertahan karena aku, bahkan aku juga bertahan karena kamu. Maka dari itu aku masih disini sekarang”
Mendengar ucapan Briana membuat Akles langsung melihat Briana dengan wajah serius serta bingung.
“Hah gimana gimana maaf Briana aku belum mengerti ucapanmu kenapa karena aku?” menepi jalan menghentikan laju mobilnya karena ingin fokus mendengar penjelasan Briana itu.
“Kejadian yang di station krl kemarin aku juga berniat untuk mengakhiri hidupku tetapi karena aku melihatmu kesakitan membuatku lupa ingin bunuh diri dan bahkan mengurungkan niat burukku itu” Dengan suara bergetar Briana akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya atas peristiwa di station krl dan bahkan Briana menceritakan sembari tertunduk lesu.
Akles yang mendengar itu terdiam tak sepatah katapun keluar dari mulutnya itu, agak lama ia mencerna kata kata Briana ia tak menyangka dan melihat Briana yang tertunduk lesu sembari menceritakan kejadian kemarin membuat Akles meraih tangan Briana dan menggenggamnya dengan erat erat.
“Briana kenapa kamu berniat seperti itu?”
Briana tak menjawab hanya menggelengkan kepalanya. Melihat Akles yang menatap dalam dirinya tangan yang menggenggam erat membuat mata indah itu berkaca kaca perlahan meneteskan air mata.
“Eh eh eh jangan menangis… maaf Briana jika kamu tidak mau cerita kenapa jangan diceritakan karena aku tidak mau melihatmu menangis. Maaf maaf!…” Akles yang panik melihat Briana menangis langsung bingung ingin memeluk menenangkan atau tidak, ia takut salah langkah.
Briana tak sanggup membayangkan kejadian kemarin membuatnya tak sadar air matanya sudah jatuh.
“Sudah ya jangan menangis lagi cup cup” menenangkan sembari tangan yang menyeka air mata dipipi wanita cantik itu. Briana hanya mengangguk sembari terdengar suara ngik ngik ngik.
__ADS_1
Briana mendongakkan kepalanya yang sedari tadi menunduk ke arah Akles.
“Maaf Akles kemarin aku tak terus terang, aku berat menceritakannya maaf..” Meminta maaf dengan suara rendah.
“Heemm sudah ya jangan menangis lagi tidak apa apa, yang terpenting kita baik baik saja untuk sekarang kita menata hidup baru menjadi lebih baik, aku tidak tau masalahmu, tapi berkat kejadian kemarin yang membuat kita saling bertemu dan saling terselamatkan satu sama lain. Yasudah ya jangan menangis lagi”
Akles menatap dalam Briana sembari memegang salah satu pipi wanita cantik itu.
“Terimakasih Akles kamu secara tidak sengaja sudah menyelamatkan aku juga, maaf baru berani cerita atas niatku kemarin dan maaf baru berterimakasih sekarang. Makasih banyak”
Dengan mata yang berkaca kaca suara yang rendah perlahan tangan Briana menyatu dengan tangan Akles dipipinya.
Deg deg suara jantung Akles setelah tangannya tersentuh oleh tangan Briana wajah Briana yang mendongak melihatnya dengan mata bersinar karena air seketika membuat wajah Akles memerah seperti udang rebus.
“Sama sama Briana kamu juga tau kan aku sangat sangat berhutang budi dan nyawa padamu jadi tak usah sungkan padaku ceritakan apa saja masalahmu padaku, begitu pula aku terimakasih kembali sudah mau menceritakannya pasti berat untukmu. Yasudah kita pulang dulu aku akan antarkan kamu sampai ke apartement mu.”
“Baik Akles” Menjawab sembari menunduk.
Kemudian Akles menyalakan mobil melaju melanjutkan perjalanannya kembali untuk mengantar Briana pulang, Mereka berdua tak saling mengobrol hanya terdiam satu sama lain, kepala Briana yang bersandar di jendela kaca mobil sembari melihat ke luar jalan sementara itu Akles fokus menyetir sesekali memerhatikan Briana yang bersender.
“Iya” mendengar Akles memanggil namanya membuat Briana menoleh ke arah Akles.
“Aku sudah janji padamu untuk bangkit dari keterpurukan ini jika kamu tidak keberatan aku ingin kamu juga berjanji padaku untuk bangkit dari masalah yang telah kamu hadapi itu”.
Akles akhirnya memberanikan diri untuk memulai perbincangan lagi ia bahkan berbicara dengan nada lembut dan halus dengan wajah penuh harap.
Mendengar itu pula membuat Briana menatap dalam Akles dengan memberikan setipis senyuman yang tak tampak oleh Akles karena ia sedang fokus menyetir.
“Aku akan berusaha keras Akles aku janji tidak akan mengulangi niat burukku itu dan terimakasih sudah mau menemuiku kembali”
“Sama sama Briana aku beruntung bisa bertemu denganmu” Tersenyum sembari memegang kemudi setir.
Tak terasa mereka berdua sudah tiba di depan apartemen, Akles menghentikan laju mobilnya Ia pula segera melepas sabuk pengaman ingin langsung keluar mobil berniat untuk membukakan pintu untuk Briana.
Membuka pintu mobil tetapi Briana belum juga melepas sabuk pengamannya bahkan ia tampak sedikit kesusahan membuka sabuk itu.
“Kenapa Briana?” Tanya Akles yang melihat Briana sibuk melepas sabuk pengaman.
__ADS_1
“Ah maaf Akles susah sekali melepas sabuk pengamannya” Jawab Briana dengan posisi menunduk rambut kebawah sedikit menutupi wajahnya karena sibuk melepas kunci sabuk pengaman.
“Coba sini aku lihat” Akles langsung mendorong tubuhnya ke dalam mobil memeriksa sabuk pengaman Briana.
‘Ah begitu dekat tubuh ku tanganku bersentuhan dengan Akles’ Imbuh Briana dalam hatinya membuat wanita cantik itu terdiam bahkan menahan napas karena malu bahkan jika orang melihat dari kejauhan seperti Akles sedang memeluk Briana bahkan seperti sedang berciuman.
“Nah ini sudah bisa” Langsung menjauhkan tubuhnya akan tetapi masih dalam mobil.
“Ah iya terimakasih” Briana yang salah tingkah langsung ingin keluar tidak sabar sampai ia tidak sadar jika tubuh Akles masih didalam mobil membuat kepala mereka berdua saling terbentur karena Briana yang ingin langsung keluar.
Jeduk “Ah sakit” Mulut dan tangan yang reflek memegang jidatnya.
“Aduh duh maaf Akles tidak sengaja” Briana yang langsung memegang tangan Akles dikepala.
“Aduh yaudah gak papa, kamu udah bisa keluar sekarang” Menarik badannya keluar, begitupula Briana langsung ikut keluar dengan raut wajah bersalah.
“Sakit ya? Maaf ya aku gak sengaja” masih menanyakan hal yang sama karena malu dan khawatir.
“Tidak apa apa Briana tidak sakit baru begini doang kok toh kalaupun sakit pasti kamu juga merasakan sakit di jidatmu, apakah jidatmu tidak sakit?” Tangan Akles yang ingin memeriksa jidat Briana tetapi Briana reflek menghindar sehingga tangan Akles langsung terhenti dan menurun.
“Gak sakit kok” Menjawab dengan cepat.
“Yasudah kalo begitu, ini kita sudah didepan…”
“Ah tidak usah mengantar sampai depan pintu, sampai sini saja cukup” Belum selesai berbicara tetapi Briana langsung menyelanya.
“Yakin sampai sini saja?” Tanya Akles meyakinkan kembali dan sedikit rasa kecewa krena ingin mengantar sampai dalam.
“Iya…. Terimakasih ya atas waktunya” menjawab dengan yakin.
“Yasudah kalau begitu aku pergi dulu” terdengar suara kekecewaan.
“Iya hati hati dijalan Akles….”
Akles langsung masuk ke dalam mobil kembali dan Briana langsuk ke apartemen.
‘Ah padahal aku ingin sekali mampir tapi sepertinya Briana tidak ingin aku mampir, jika aku paksa nanti malah membuat dia tidak nyaman’ sembari memerhatikan Briana dari balik kaca sepion dan perlahan melaju pergi jauh.
__ADS_1