
Hari ini cuaca sangat mendukung, sinar cahaya yang begitu indah cuaca sangat cerah. Hari dimana Briana bekerja.
Cahaya cerah lantas tak membuat suasana hati Briana ikut serta ceria malah sebaliknya suasana hatinya suram karena kejadian kemarin. Terlintas mengingat kejadian kemarin yang membuatnya menepok jidat ingin melupakan.
Tugasnya hari ini mengecek pasien rutin seperti biasa dan hari ini ia ditemani oleh rekan kerjanya yang satu shift bersama ialah Lia, tak ada Yuli maupun Sinta karena mareka berdua jaga malam.
Seperti biasa Briana tampak professional dalam bekerja ia tidak memperlihatkan suasana hatinya dalam bekerja karena tuntutan harus ramah ke semua pasien.
Setelah mengecek ruangan demi ruangan kebetulan Briana berpapasan dengan Diza dan Basil yang sedang mengontrol pasien bersama.
“Pagi menjelang siang Sus Briana” Sapa Diza dengan senyum ramah di wajahnya tetapi lain dihati.
“Pagi juga sus Diza dan Dokter” menunduk hormat memberikan senyuman tipis.
“Saya boleh meminta jarum suntik baru yang dibawamu itu?” Tanya Basil memancing tak peduli jika yang dibawa Diza juga lengkap peralatan kontrol.
“Ah dokter ini kan saya bawa” sebot Diza sembari memperlihatkan dihadapan Basil, tersenyum dengan lebar sampai terlihat mata menyipit sempurna.
Briana tak menjawab setelah Diza menjawab jika dia membawa juga.
“Kalau begitu saya permisi dulu Sus, Dokter” tertunduk hormat dan segera keluar dari ruangan yang berisikan pasien, Diza dan Basil, Briana tak ingin lama lama melihat mantannya itu bersama dengan wanita yang paling ia benci di rumah sakit ini.
Bukan tanpa sebab Briana sangat membenci Diza, karena Diza yang selalu menempel jika melihat Basil tak peduli ada Briana atau tidak, walau sebenarnya Briana tau betul jika Basil juga risih dengan Diza tetapi tidak bisa menegaskan diri.
Sudah jam istirahat ketika Briana dan Lia hendak pergi ke kantin untuk makan siang akan tetapi langkah kakinya dihadang oleh Diza yang datang entah dari mana.
“Kenapa? “ Tanya Briana sembari menaiki alisnya diikuti tatapan tajam seperti ingin mengiris sesuatu.
“Aku dengar kamu dijemput oleh laki laki lain ya? Hemm padahal baru putus kan! Ups hebat sekali wanita satu ini, apa jangan jangan waw” Ucapan yang terdengar ambigu tetapi Briana tau betul maksud dan arah tujuan wanita licik itu.
Diza tersenyum lebar setelah melempar ucapan menyindir sembari sibuk memainkan kukunya sesekali ia tiup tiup jari jemarinya memainkan emosional antara mereka berdua.
__ADS_1
Lia tak mengerti karena dia tidak tau menau akan hal itu iapun diam tak membela atau membrontak malah sebaliknya Lia melihat bingung penuh tanda tanya dengan ucapan Diza tentang dijemput oleh laki laki lain.
Briana menggelengkan kepala bertanda jangan percaya ucapan musuhnya itu ke arah Lia.
“Jaga ucapanmu” melangkah lebih dekat kehadapan Diza menjawab dengan suara sinis.
“Aku ingatkan jika aku tidak pernah selingkuh, lebih baik dekat dengan laki laki lain setelah putus bukan!… dari pada mendekati terus menerus menempel dengan laki laki yang sudah punya pacar yang akhirnya putus!!..”
Ucap tegas Briana membuat Diza tercengang tak membantah sedikitpun ketika mendengar itu dari mulut Briana.
Lia yang mendengar seperti menahan tertawanya yang tak tahan sampai tertawa kecil buru buru Lia menutup mulutnya.
Ucapan Briana rupanya menohok sampai jantung karena Diza tak bisa berkata apa apa dan pergi begitu saja sembari napas yang tak teratur.
“Huuuu sama pergi dasar pengganggu!!…” Teriak Lia yang sedari tadi diam langsung bersuara ketika Diza pergi meninggalkan mereka begitu saja.
“Sudahlah kita makan, laper nih” satut Briana sembari mengelus perutnya sendiri dan langsung menarik tangan Lia berjalan.
Ketika dikantin.
Briana hanya menggeleng karena mulut yang masih mengunyah makanan. Lia langsung menghentikan makanannya menunggu jawaban rekannya itu, begitulah orang selalu antusias perihal GOSIP…
“Siapa? Pacar baru?” Mendekatkan wajah ke Briana dengan wajah sangat penasaran tingkat dewa, seperti mustahil karena Briana baru putus dari dokter Basil belum genap sebulan pikirnya.
Melihat Lia yang begitu amat penasaran membuat Briana mengibaskam tangan kirinya dan tangan kanan memegang gelas ingin minum.
“Ok ok” Lia paham dengan mengokekan tangannya dan menarik tubuhnya menunggu jawaban.
“Ah kenyangnya” gumam Briana senang setelah minum tetapi ketika melihat wajah Lia yang begitu penasaran membuat Briana langsung berwajah datar.
“Akh Briana siapa dia?” Mengguncangkan lengan Briana penasaran.
__ADS_1
“Lepasin atau gak cerita nih” ancam Briana sembari mengatur posisi habis kenyang.
Lia melepaskan tangannya dan mengangguk duduk anteng tak bersuara berharap segera dijawab oleh Briana.
Ekhem mengatur posisi
“Jadi kemarin itu memang benar aku dijemput tapi..”
“Aaaakkkh” Belum selesai Lia sudah teriak girang diikuti gerakan tangan yang antusias.
“Is belum selesai.” Menepis tangan Lia sembari melotot.
“Dia bukan siapa siapa, aku juga tak sengaja bertemu di station terus menolong dia yang terluka. Jadi dia datang cuman untuk mengucapkan terimakasih dengan la-yak. BEGITU!….”
Menjelaskan secara singkat tetapi menutup rapat kejadian yang sebenarnya, Briana tak ingin menceritakan ke orang lain selain sahabatnya yaitu Alice.
“Hem jadi begitu, oke baiklah. Ku kira gosip baru! Em tapi kalau dia tertarik padamu gimana kan kamu cantik banyak juga yang suka padamu, iya kan iya kan hehe” menjawab dengan suara meledek.
Briana hanya menggeleng sembari tertawa manis melihat Lia yang menggoda.
Setelah berbincang tertawa dan makan bersama saatnya mereka kembali bekerja lagi. Briana tak mau berlarut dalam kesedihan ia harus bangkit kembali.
Hari sudah semakin sore warna langit sudah mulai menjingga, hembusan angin mulai kencang membuat rambut yang tergerai tertiup semraut diwajah wanita cantik itu.
Ia sibuk merapihkan menata rambutnya kebelakang telinga sambil menunggu datangnya bus pulang.
Bus yang ditunggunya akhirnya datang, segera ia beranjak dari duduknya untuk segera naik bus dan langsung duduk ke bangku kosong.
Bus itu menuju ke rumah orang tuanya, rupanya Briana ingin berkunjung ke kediaman ayahnya itu seperti dijanjikannya untuk datang ketika libur bekerja.
Briana fokus akan hpnya menscrol sosial media dan melihat lihat foto fotonya di galeri telpon tak sengaja melihat foto masa lalu dari jaman kuliah masih ada bahkan foto bersama Basil masih lengkap. Ia sudah mengkik semua fotonya dengan Basil untuk segera menghapus tetapi ia ragu ragu terlintas dalam pikirnya, sayang jika dihapus padahal jarinya tinggal mengkik hapus maka terhapuslah semua kenangan itu. menggelengkan kepalanya untuk menunda terlebihdulu menghapus kenangan itu.
__ADS_1
Iapun kemudian ingin menelpon ayahnya akan tetapi mengurungkan niatnya, langsung memencet tombol power.
‘Tidak udah menelpon biar menjadi kejutan pas aku datang, ayah pasti senang, hem aku beli apa ya buat buah tangan untuk ayah” membayangkan ingin membawa buah tangan apa membuat Briana senyum senyum sendiri memikirkannya.