
Suasana malam yang ramai, hembusan angin yang halus. Rasa rindu sudah ada sejak lalu tak terasa sudah hampir 2 bulan Akles dan Briana tak saling bertemu namun tetap masih saling berkomunikasi lewat online, selalu Akles yang menghubungi Briana terlebih dahulu menanyakan kabar atau hanya basa basi ingin mendengar suara wanita yang Ia cintai itu.
Memang selalu gugup ketika Akles ingin bertemu dengan Briana entah kenapa baginya ketika bertemu selalu saja membuat panas dingin berbeda ketika bertemu dengan orang lain Ia tidak pernah gugup, selalu tenang siapapun orangnya.
Malam ini sudah saatnya Akles menemui Briana mereka sudah saling berjanjian untuk bertemu di kediaman Briana.
‘Aku tidak tau harus membawakan apa untuk Briana. Aakh aku bingung. Telpon papah saja apa ya untuk menanyakan apa yang pantas dibawa ketika menemui wanita yang kita cintai. Heem tidak tidak jika aku bertanya pada papah pasti dia malah bertanya balik tau saja papah bawel sekali untuk urusan perempuan. Telpon Juanda sajalah.’
Begitulah Akles bergumam sendiri memikirkan apa yang pantas untuk dibawa ketika bertemu dengan Briana tetapi bingung mau menanyakan kepada siapa karena Akles memang Jomblo 28 tahun selama hidupnya.
“Halo Juanda kamu sedang dimana?” Tanya Akles dalam sambungan telpon, akhirnya Ia menelpon Juanda juga untuk menanyakan masalah pribadinya Ia tidak jadi menanyakan kepada papahnya itu.
“Aku sedang dikantor pak. Kenapa ada masalah kah?” Jawab Juanda dalam sambungan telpon.
“Ada siapa saja yang berada didekatmu saat ini?” Bertanya dengan nada pelan tak seperti biasanya.
“Hah maksud Bapak apa ya? Yang berada didekatku?” Jawab Juanda masih tak mengerti maksud Akles.
“Ah lemot sekali kamu ini!.. Ada orang kah yang berada di dekatmu saat ini? aku ingin menanyakan suatu hal tetapi jangan sampai orang lain didekatmu mendengarnya!” Jawab Akles kesal karena Juanda yang lemot merespon kata kata darinya.
“Ooooohh begitu... Harusnya Bapak bilang aku sedang bersama siapa?” Jawab Juanda yang sudah mengerti maksud ucapan oleh Akles itu.
“Ah terserah kamu sajalah, siapa jawab!” Akles yang tampak kesal dari nada bicara yang ketus membuat Juanda tersentak tertawa kecil mendengarnya.
“Haha aku hanya sendirian saja pak diruangan. Memangnya bapak mau menanyakan hal apa sepertinya sangat mendesak sekali?” Tanya Juanda yang begitu penasaran hal apa yang ingin ditanyai oleh Akles sampai Akles seperti ini.
“Eheem jadi gini. Malam ini aku mau bertemu dengan Briana tapi aku bingung mau membawakan apa. Tidak mungkin dong kalau aku datang dengan tangan kosong. Maka dari itu aku ingin bertanya padamu pantasnya apa?.” Akles menjelaskan maksud tujuannya menelpon Juanda dengan malu ia menanyakan hal itu pada Juanda tetapi tidak ada cara lain selain bertanya pada orang terdekatnya yaitu Juanda.
__ADS_1
“Astaga pak Diruuut” saut Juanda tampak agak kesal dari nada suara yang menekan.
“Aku pikir tentang kerjaan yang orang lain tak boleh tau. Heem ternyata Bapak gensi haha” Ledek Juanda tertawa puas.
“Diam kamu!… cepat katakan aku bingung” Saut Akles tampak kesal diledek oleh Juanda.
“Haha sebentar aku pikirkan dulu”
“Jangan lama lama cepat dong”
“Bukankah kita berdua sama saja jomblo ya pak? Cuman tenang aku kan cerdas dan peka tidak seperti bapak” Juanda kembali meledek bosnya itu membuat Akles panas kesal.
“Kurang ajar ya kamu, mau ku potong jatah liburmu?” ancam Akles yang kesal karena Juanda begitu bertele-tele:
“Ampun pak Dirut. Iya iya tunggu sebentar” memikirkan sejenak apa yang pantas untuk dibawa ketika kerumah perempuan yang sukai.
“Yaps bunga pak karena aku pernah menonton film pasti laki lakinya membawakan bunga” memastikan lagi jika memang bunga yang harus dibawa ketika bertemu.
“Oke terimakasih Juanda kamu memang sekretaris yang hebat.” Akles yang sudah menemukan jawaban dari Juanda langsung menutup sambungan telponnya.
“Halo pak halo? Wah bener bener ya bosku yang satu ini kebiasaan jika sudah mendapat jawaban main langsung matiin aja lagi. Hadeeh dasar!” Keluh Juanda yang telponnya langsung dimatikan oleh Akles tanpa mendengar terimakasih kembali dari dirinya.
Akles rupanya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Juanda untuk membawakan bunga tetapi ia bingung bunga apa yang harus dibawa karena tadi telponnya langsung dimatikan setelah mendapatkan jawaban.
Ketika di depan toko bunga Akles terlihat bingung mau pesan bunga yang mana, rupanya bunga banyak jenisnya membuatnya bingung memilih.
‘Rupanya banyak sekali jenis bunga ya. Heem yang mana jadinya aku tidak tau lagi Hadeeh.’ Imbuh Akles dalam hatinya ketika memperhatikan bunga bunga dihadapannya itu.
__ADS_1
“Mau pesen bunga apa mas?” Sapa penjual bunga dengan ramah ketika melihat Akles terlihat bingung memilih bunga.
“Bunga yang pantas untuk perempuan yang saya suka apa ya? Soalnya bunga disini banyak saya bingung.” Jawab Akles ketika ditanya oleh penjual bunga dengan wajah yang bingung.
“Oh pantes dari tadi saya perhatikan masnya hanya berdiri saja melihat bunga. Rupanya tidak tau bunga apa yang harus dibawakan ya. Em saya sarankan bunga Mawar merah karena bunga ini melambangkan romantis cinta dan keindahan. Karena saya lihat masnya bingung memilih bunga yang mana pasti mas sangat hati hati untuk memberikan bunga ini apa lagi memberikan kepada wanita yang disukai.” Jawab penjual bunga itu dengan ramah dan memberikan sedikit penjelasan terkait bunga mawar.
“Ah Iya bu kalau begitu saya pesen bunga mawar merah ini saja. Oh tapi ini berduri apa tidak bahaya jika terkena durinya?” Jawab Akles yang awal sempat tersenyum mendengar makna dari bunga mawar merah tapi ketika diperhatikan ada duri ditangkai bunga itu membuatnya berpikir lagi takut duri itu melukai Briana.
“Oiya saya lupa menjelaskan lagi bunga mawar merah tanpa duri berarti cinta pada pandangan pertama itu maknanya mas” Menjawab makna dari bunga mawar merah tanpa duri.
“Tepat sekali saya memang langsung jatuh cinta ketika melihatnya bu hehe” dengan senyum lebar di wajahnya ketika mengetahui makna dari bunga tersebut.
“Wah beruntung sekali wanita itu ya. Yasudah sebentar saya bungkuskan dulu ya bunga mawar merah tanpa duri” Jawab penjual bunga itu masuk untuk merangkai bunga mawar itu dengan indah nan cantik.
“Hati hati ya bu bungkus dengan cantik hehe. Terimakasih banyak” teriak Akles ketika bunga mawar itu dibawah ke dalam untuk dirangkai oleh penjual.
Setelah menunggu beberapa menit bunga mawar merah tanpa duri itu sudah cantik menjadi buket yang indah digenggam cantik membuat Akles senyum senyum sendiri memegangnya bahkan mencium aroma bunga mawar itu.
“Terimakasih bu, kalau begitu ini uangnya kembaliannya ambil saja” Akles melebihkan uang bunga itu karena ia amat senang.
“Terimakasih masnya, semoga berjalan lancar ya. Perlakukan wanita itu dengan baik, beruntung sekali wanita itu disukai oleh peria tampan dan baik seperti masnya.”
Saut penjual bunga itu memuji kebaikan dan ketampanan Akles, Akles hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya menunduk hormat dan langsung kembali ke mobil untuk menuju ke apartemen Briana.
Akles sepanjang jalan hanya bisa senyum senyum sendiri ketika melihat bunga mawar itu diletakkan di kursi penumpanh sebelahnya.
‘Semoga Briana suka aku tambah gugup’ Ucap Akles yang sudah sampai di depan apartemen Briana Ia hanya tinggal masuk ke dalam Akles mengatur napas dalam terlebih dahulu. Merapihkan pakaian yang ia kenalan sebelum bertemu dengan Briana.
__ADS_1