Aroma Sang Briana

Aroma Sang Briana
49. Merasa Takut


__ADS_3

Setelah kejadian itu Juanda menyuruh bawahannya memanggil karyawan yang menabrak Akles tadi untuk menghadap ke ruangannya segera.


“yang bernama Alice mana?” Teriak salah satu karyawan disana, membuat semua orang menoleh dan menunjuk ke arah Alice.


Karena bingung Alice seketika langsung berdiri dari tempat duduknya sembari mengangkat tangannya.


“Saya pak. Kenapa ya?” Ucap Alice penasaran dan bingung melihat sekeliling yang melihatnya sembari tertawa dan berbisik tatapan mereka seolah olah senang namanya dipanggil.


“Ikut dengan saya sekarang” Ucap lelaki itu yang rupanya adalah bawahan Juanda.


“Baik pak” Alice mengikuti lelaki itu ia kesal karena rekan kerjanya melihat tersenyum tetapi senyuman yang munafik.


“Alice kuatkan batinmu...” Ucap salah satu rekan kerja nya sembari memberikan dukungan moral.


“Hah?... iya iya tenang saja”Jawab Alice yang bingung kenapa dia harus menguatkan batinnya apa karena kejadian tadi yang menabrak. Padahal bukan salah Alice melainkan Akles.


‘Ini sebenarnya pada kenapa sih dari tadi pada heboh, gak mungkin kan Akles mengadu hanya karena ketumpahan kopiku saja. Lihat saja dia tak akan ku beri ampun nanti jika aku sampai kena hukum karena dia mengadu pada atasannya. Ah apa jangan jangan Akles masuk ke perusahaan ini dengan cara menyogok atau make orang dalem? kan jaman sekarang bukan hal lumrah lagi menggunakan cara itu. Hmm sudah lah kita tidak tau kalau belum mengetahuinya’


Imbuh Alice dalam hatinya yang penuh tanda tanya bahkan terbesit dalam pikirannya jika Akles masuk ke peruhasaan ini menggunakan cara curang bukan dengan jerih payahnya sendiri.


“Hei cepat jalannya lelet banget sih” Teriak laki laki itu kepada Alice membuat Alice terkejut dan langsung mempercepat langkah kakinya.


Setelah sampai di depan ruangan Juanda lantas tidak membuat lelaki itu langsung masuk keruangan melainkan berhenti di pintu memanggil Alice yang masih tertinggal dibelakangnya.


“Cepat kesini” Lelaki itu melambaikan tangannya menyuruh Alice cepat mendekat karena jalannya Alice sangat lambat.


Alice hanya mengangguk dan langsung mempercepat langkah kakinya berlari kecil.


“Kamu ini baru kerja disini ya?” Ucap ketus lelaku itu terhadap Alice yang sudah berdiri dihadapannya.


“Saya bekerja disini sudah shampir 2 tahun pak” Jawab Alice dengan hati hati sembari menunduk ruapanya Alice masih ada rasa takut terhadap atasan, walau sifat aslinya yang bar bar.

__ADS_1


“Sudah 2 tahun tapi kamu berani beraninya membuat marah bos” Ucap lelaki itu dengan tatapan sinis, sembari ia menarik napas dalam dalam sebelum masuk keruangan Juanda.


“Nanti kamu jangan banyak bicara biar saya yang menyelesaikannya, kamu hanya perlu minta maaf saja nanti jika memang kamu masih mau berkerja disini” Ancam lelaki itu kepada Alice, Alice hanya bisa mengangguk mengerti.


Tok tok tok lelaki itu mengetuk pintu terlebih dulu sebelum memasuki ruangan.


“Masuk...” Setelah terdengan jika Juanda memberikan ijin untuk masuk, baru mereka berdua membuka pintu untuk masuk.


Mereka berdua berjalan mendekat untuk menghadap Juanda, Alice yang berjalan di belakang lelaki itu.


“Terimakasih untuk mengantarnya kepadaku, kamu bisa tinggalkan dia sendiri disini.” Ucap Juanda dengan nada bicara datar, membuat lelaki itu dan Alice bingung.


“Tapi pak dia kan masih dalam devisi saya” Sela lelaki itu tampak keberatan jika meninggalkan Alice sendiri.


‘Mati aku...’ Ucap Alice dalam hatinya ketika Juanda menyuruh lelaki itu pergi meninggalkan dirinya sendirian menghadapi Juanda yang tampan tetapi seram, ketampanan itu seperti tertutupi dengan dinginnya kutup dan seramnya singa.


“Apakah aku harus mengulang ucapanku?” Ucap ketus Juanda kepada lelaki itu.


“Kamu harus meminta maaf!...” Dengan nada bicara berbisik dan tatapan sinis lelaki itu menyuruh Alice untuk meminta maaf terhadap Juanda.


Alice mengangguk mengerti, kengerian mulai menghantuinya bulu kuduknya mulai berdiri merinding, walau ruangan itu tertata rapih, wangi dan terang tetapi terasa amat horor setelah lelaki itu pergi meninggalkan dirinya dirungan Juanda.


“Kemari lah” Ucap singkat Juanda ketika Alice sendirian.


Alice segera menuruti perintah Juanda untuk mendekat, ia hendak duduk di kursi yang tersedia diruangan itu. Tetapi Juanda memelototkan matanya ketika dirinya sudah duduk di kursi dihadapan Juanda.


“Siapa yang menyuruhmu untuk duduk, lancang sekali ya” Ucap sinis Juanda terhadap Alice.


“Ah maaf pak saya lancang” Alice langsung berdiri dan menunduk hormat segera meminta maaf atas tingkahnya yang langsung duduk tanpa disuruh.


‘Sialan kalau kamu bukan bosku sudah ku habisi kamu, lagian buat apa fungsi kursi disini kalau tidak diduduki’ Ucap Alice dalam hatinya, ia hanya bisa meromet dibelakang.

__ADS_1


“Kamu sudah berapa lama kerja disini?...” Tanya Juanda memulai perbincangan.


“Hampir 2 tahun pak saya kerja disini.” Menjawab sembari menunjuk tak berani menatap


“Kamu tau kenapa aku memanggilmu untuk datang ke ruangan saya?” Tanya Juanda mengintimidasi Alice yang sudah tertunduk lesu.


“Iya saya salah pak sudah tidak sengaja menumpahkan kopi, saya salah tidak hati hati”


‘Hadeh cuman karena kopi aja sampe segininya amat, tapi aku tidak berani mengangkat kepalaku. Ingin sekali aku melihat wajah tampan itu tetapi melirik saja aku takut sekali’ Ucap Alice dalam hatinya.


“Hemmm kamu sudah bekerja disini hampir 2 tahun tetapi aku belum pernah melihat wajahmu, kamu juga sepertinya tidak tau siapa yang kamu tabrak tadi?. Sungguh pegawai yang tidak patut untuk dicontoh!...”


‘Hah apa apaan dia memangnya Akles siapa sampai orang ini berani sekali mengataiku pegawai yang tak patut dicontoh’


Rometan Alice dalam hatinya ia juga masih belum tau siapa Akles sebenarnya.


“Maaf pak saya jarang keluar dari ruangan, jadi itu membuat saya dan bapak belum pernah bertemu sebelumnya” Jawab Alice dengan hati hati takut salah ucap yang bisa membuat fatal.


“Kamu ini aku lihat kinerja bagus tidak ada surat peringatan, tetapi prilaku buruk, dan sopan santun tidak ada...” Ucap Juanda sembari membalik balikkan kertas melihat laporan atas kinerja Alice selama ini, jika ada hal buruk ia ingin segera dipecat.


“Maafkan saya pak saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi dan saya juga akan memperbaiki tingkah laku dan sopan santun saya kedepannya” Jawab Alice masih menunduk tidak berani.


‘Apa sih mau orang ini cepat saja katakan hukumannya biar aku bisa langsung keluar dari suasa mencekam ini, aakkhh lihat saja kamu Akles sudah membuatku menderita’ Teriak Alice dalam hatinya masih menyalahkan Akles atas perbuatannya.


“Kamu saya pecat mulai besok tidak usah datang lagi kesini!...” Juanda dengan tegas memecat Alice karena menurutnya sudah membuat kesalahan fatal sehingga tidak ditoleransi lagi.


Alice yang mendengar jika ia dicepat langsung mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk, ia langsung menghampiri Juanda memohon untuk tidak dipecat.


“Pak tolong jangan pecat saya, maaf pak saya tidak akan mengulanginya lagi. Tolong beri saya kesempatan untuk bekerja di sini. Saya akan meminta maaf langsung kepada Akles.” Alice langsung memohon dihadapan Juanda ia sampai bersujud memegang kaki Juanda.


“Hei lepaskan tanganmu!...” Teriak Juanda sembari menghentakkan kakinya tak suka jika kakinya disentuh oleh Alice.

__ADS_1


__ADS_2